Mutiara Hati Alvino

Mutiara Hati Alvino
51


__ADS_3

Dua orang lelaki paruh baya yang masih terlihat tampan itu duduk berdua di kantin rumah sakit. Dua buah cangkir kopi hitam yang masih mengepulkan asap panas tersaji di depan mereka.


"Bagaimana kabar Anda, Tuan? Saya tidak menyangka bisa bertemu Anda lagi setelah sepuluh tahun lebih Anda pergi tanpa jejak."


"Maaf Tuan, karena sesuatu hal saya harus pergi lama ke luar negeri." Tuan Sandi menyeruput kopinya dengan perlahan.


"Kenapa Anda pergi begitu saja setelah putri Anda menolong putra saya? Bahkan Anda menutup rapat semua informasi kecelakaan itu." Tubuh Tuan Sandi menegang saat mendengar ucapan yang keluar dari mulut Davin, dia segera meletakkan kembali kopi yang berada di tangannya.


"Ma-maaf Tuan, Anda tahu semuanya?" tanya Tuan Sandi gugup.


"Tentu, meskipun saya mengetahuinya belum lama ini. Anda tahu, saya dan keluarga selalu berupaya mencari keberadaan Rania. Sepuluh tahun keluarga saya hidup dalam rasa tidak nyaman terutama anak saya Alvino." Davin bisa melihat Tuan Sandi yang menghela napas panjangnya sambil mengusap wajahnya.


"Saya sangat meminta maaf, Tuan. Semua terpaksa saya lakukan karena saya ingin fokus pada kesembuhan Rania dan saya tidak ingin ada satu pun media yang meliput karena saya takut semua akan berimbas pada perusahaan saya maupun Alexander Group." Suara Tuan Sandi terdengar begitu berat.

__ADS_1


"Tapi Tuan, kalau pun semua berimbas pada perusahaan kita, kita bisa menyelesaikan dan menjelaskan semuanya ke publik tanpa Anda harus menghilang keluar negeri." Davin terlihat begitu kecewa tetapi dia mencoba tetap terlihat tenang.


"Sudahlah Tuan, semua juga sudah berlalu dan tidak ada yang perlu kita sesali lagi. Saya sangat bersyukur karena Rania masih baik-baik sampai sekarang, saya tidak tahu bagaimana cara membalas budi atas apa yang Rania lakukan untuk Alvino," ucap Davin pelan. Dia hanya mengaduk kopi di cangkirnya tanpa berniat meminumnya.


"Tidak apa-apa, Tuan. Saya yakin pasti Rania sangat ikhlas menolong Tuan Al, karena dia sejak kecil sudah mengaguminya bahkan sampai sekarang." Davin menatap ke arah Tuan Sandi yang terlihat begitu sedih.


"Bolehkah saya jujur, Tuan?" tanya Tuan Sandi dan Davin hanya mengangguk pelan. "Sebenarnya saya sakit melihat Rania yang terluka karena putra Anda."


"Apa yang sudah putra saya lakukan?" tanya Davin tidak sabar dengan nada yang mulai meninggi.


"Dulu, kedua putri saya adalah anak yang sangat ceria tapi semenjak mereka kehilangan mama mereka untuk selamanya membuat tawa di wajah kedua anak saya perlahan mulai menghilang, apalagi Rania selalu sakit-sakitan karena dia yang paling dekat dengan almarhum istri saya." Tuan Sandi menjeda ucapannya sedangkan Davin hanya diam mendengarkan tanpa berniat menyela.


"Sejak saat itu, saya menjadi lebih memperhatikan Rania dan saya tidak sadar kalau perhatian saya ke Rania yang berlebihan membuat kecemburuan di dalam hati Ana." Tuan Sandi menceritakan panjang lebar semua yang terjadi semalam dan Davin sangat terkejut saat mendengar cerita Tuan Sandi itu.

__ADS_1


"Maaf Tuan, saya baru mengetahuinya karena saya belum berbincang dengan putra saya. Oh iya soal perasaan Rania ke Alvino, saya mau mengatakan kalau sebenarnya Alvino juga mencintai Rania, hanya saja ...." Davin terdiam sedangkan Tuan Sandi menatap Davin tak sabar.


"Dia mengalah dengan adiknya yang juga mencintai Rania, dia tidak ingin menyakiti hati adiknya. Bahkan kemarin sempat terjadi kesalahpahaman di antara kedua anak laki-laki saya tapi sekarang mereka berdua sepertinya sudah berbaikan," jelas Davin.


"Syukurlah kalau sudah berbaikan. Saya tidak akan memaksa putri saya akan mencintai siapa karena jodoh sudah ada yang mengatur. Saya akan sangat senang kalau saya bisa berbesan dengan Anda, karena saya bisa melihat Anda yang sangat menyayangi istri Anda dan saya yakin jika kedua putra Anda pun akan sama seperti Anda, bisa mencintai istrinya dengan tulus," ucap Tuan Sandi penuh harap.


"Semoga saja kita benar-benar bisa berbesan. Namun, bukankah Rania akan di lamar Kenan?" tanya Davin setelah dia mengingat tentang rencana lamaran Kenan.


"Tidak! Ana yang akan di lamar Kenan tapi sekarang entahlah, karena sejak kejadian semalam saya melihat Kenan yang sangat kecewa dengan Ana." Davin bisa melihat raut sedih di wajah Tuan Sandi.


"Lantas sekarang bagaimana dengan Ana?"


"Saya akan mengupayakan jalur kekeluargaan, karena Rania yang menjadi korban dan saya tidak ingin salah satu putri saya tinggal di balik jeruji besi," sahut Tuan Sandi.

__ADS_1


"Semoga masalah ini cepat selesai dan lebih baik kita pasrahkan saja semua kepada Tuhan, semua yang terbaik untuk anak-anak kita," ucap Davin sembari tersenyum tipis, Tuan Sandi hanya menganggukkan kepalanya.


"Mari diminum, kasihan kopinya keburu dingin," seloroh Davin dan Tuan Sandi hanya menarik senyumnya lebar. Kedua pria paruh baya itupun saling mengobrol dan berbagi cerita.


__ADS_2