
"Bi, aku tahu semua memang terasa berat, tapi aku yakin kamu pasti bisa perlahan menghapus perasaanmu pada Rania. Apa yang kamu lakukan sudah benar, Bi. Aku sangat bangga padamu." Nadira dan Febian saling mengeratkan pelukan mereka.
"Aku akan berusaha." Suara Febian terdengar sangat parau.
"Kamu pasti bisa dan aku akan selalu mendoakan kebahagiaan untukmu dan kamu cepat menemukan pengganti Rania."
"Kamu tenang saja, Nad. Aku yakin sebentar lagi pasti aku akan menemukan pengganti Rania." Febian melerai pelukannya dan menghapus airmata di wajah kakak perempuannya.
"Kamu 'kan tahu, kalau stok pemilik hatiku itu banyak. Jadi, jangan khawatir apalagi sampai secemas ini," seloroh Febian, tangan Nadira memukul dada Febian dengan kencang, hingga Febian mengaduh kesakitan. Namun, setelah itu tawa keras terdengar keluar dari mulut Febian.
"Kamu menyebalkan, Bi!" cebik Nadira.
"Kamu jelek banget kalau lagi nangis gini, lagian aku pergi bukan karena aku sakit hati, tetapi aku mau jemput seseorang." Nadira menautkan kedua alisnya saat mendengar perkataan adiknya.
"Seseorang siapa? Pacar baru kamu lagi?" tanya Nadira penasaran.
"Ada deh," sahut Febian sambil mengangkat kedua bahunya bersamaan. Nadira terlihat sangat kesal saat melihat wajah adiknya yang sedang tersenyum menyebalkan.
"Nanti ada saatnya kamu akan kenal dengan sendirinya kok, Nad."
__ADS_1
"Bi! Dasar kamu buaya buntung!" Febian hanya tergelak saat Nadira kembali memukul dadanya. Isakan tangis Aluna berhenti saat melihat Febian yang tertawa lebar dan Nadira yang terlihat sedang marah. Dia menghembuskan napasnya lega saat melihat kalau Febian baik-baik saja.
"Bi!" Mereka mengalihkan pandangannya ke dalam pintu masuk dan melihat Alvino yang sedang berjalan dengan terburu-buru mendekat ke arah mereka.
"Maafkan Kakak, Bi." Alvino berusaha mengatur napasnya yang terengah-engah karena mengejar adiknya. Febian segera memeluk tubuh Alvino erat, saat ia melihat wajah kakaknya yang terlihat sangat khawatir.
"Tidak perlu meminta maaf, Kak. Aku justru bahagia melihat kalian berdua bahagia dan aku menantikan keponakan yang lucu dari kalian berdua."
"Lalu, kenapa kamu tiba-tiba pergi begitu saja?"
"Aku mau jemput seseorang di Bandara, tetapi Nadira menahanku. Dia mengira aku pergi karena sakit hati melihat kalian berdua menikah," sahut Febian sambil menutup mulutnya berusaha menahan tawanya.
"Sakit sih, tapi hanya sedikit saja. Kak Al, lihatlah adik perempuanmu yang terlihat sangat cantik saat menangis, hahaha," ledek Febian sambil memegang perutnya yang kram karena terlalu banyak tertawa.
"Aku membencimu, Bi!"
"Terima kasih, Nad. Aku juga menyayangimu." Alvino dan Febian segera memeluk tubuh Nadira dengan erat. Melihat ketiga anaknya berpelukan erat, Davin dan Aluna segera menghampiri mereka dan ikut berpelukan bersama.
"Kalian bertiga sangat membanggakan buat Daddy dan mommy," kata Davin bahagia.
__ADS_1
"Mommy sayang kalian," tambah Aluna.
"Kita juga sayang Daddy dan Mommy." Senyum kebahagiaan semakin terpancar jelas dari wajah mereka semua, sedangkan yang lain menatap mereka berlima dengan penuh haru.
Selamat menempuh hidup baru, Al. Hidup yang benar-benar akan menguji tingkat kedewasaanmu.
...🍫🍫🍫🍫...
Kisah Alvino dan Rania sudah berakhir sampai di sini, semoga mereka berdua selalu bahagia.
eh, Author mau cuti 3-5 hari Loh( Yaelah bahasamu thor, cuti segala)
menurut kalian gimana? Bakal kangen Author enggak nih?
Bakal masih setia nungguin Author enggak?
Nanti Author bawa kisah, Nathan-Kenan-Febian.
Masih di sini kok, tenang aja.
__ADS_1
Salam sayang dari Author recehan yaa 😊😊😊