
Nadira menatap lekat wajah Nathan, dia melihat ada bekas darah di sudut bibir dan hidung Nathan. Nadira segera memalingkan wajahnya, melihat wajah Nathan yang terluka seperti itu, entah mengapa hati Nadira merasa tidak tega.
"Apa yang harus kujelaskan, Nat? Bukankah aku sudah mengatakan semuanya? Lagipula, apa kamu akan percaya padaku?" tanya Nathan pelan, tapi Nadira tidak menjawab sama sekali.
"Pergilah, Nat! Aku muak sama kamu! Meskipun kamu sahabatku, kalau sampai menyakiti hati adikku, aku tidak akan terima!" usir Alvino sambil menatap tajam ke arah Nathan. Melihat emosi Alvino yang belum juga menurun, Rania segera mendekati suaminya dan mengusap punggung suaminya secara perlahan.
"Kak, aku mohon tahan emosi kamu," ucap Rania lirih. Alvino menarik tubuh Rania masuk dalam dekapannya dan memeluknya dengan erat.
"Maafkan aku," bisik Alvino. Memeluk erat tubuh Rania ternyata bisa membuat emosi Alvino kepada Nathan jadi mereda, meskipun kekecewaan yang amat besar masih melanda hatinya.
"Kak, apa Kak Nathan sudah merencanakan semuanya? Kenapa Kak Nathan sangat tega padaku? Bukankah Kak Nathan tahu kalau aku sangat mencintai Dion? Termasuk cincin pertunangan ini, apa memang sudah Kak Nathan rencanakan sebelumnya?" tanya Nadira menuntut jawaban.
"Maafkan Aunty, Nad. Aunty yang sudah menyuruh Nathan memesan cincin tunangan itu," sahut Mila lirih.
"Aunty! Nadira kecewa sama Aunty!" bentak Nadira yang tak bisa mengontrol emosinya. Aluna segera mendekati Nadira dan memeluknya erat. Seketika, airmata Nadira tumpah begitu saja.
__ADS_1
"Nad, kamu boleh marah padaku. Kamu boleh bentak aku, tapi jangan pernah sekalipun kamu bentak bundaku. Semua ini memang sudah kurencanakan dengan matang, Nad."
"Aku benci Kak Nathan! Aku benci!" Nadira melepaskan tubuhnya dari pelukan Aluna, lalu dia melepas paksa cincin tunangan yang baru saja terpasang di jarinya dan melemparkannya ke lantai begitu saja. Kedua bola mata Nathan, menatap nanar ke arah cincin yang tergeletak di dekat kakinya.
"Nad, kamu yakin dengan keputusanmu?" tanya Nathan berusaha memastikan. Dia mengambil cincin itu dan menggenggamnya kuat di tangannya. "Apa kamu yakin kalau kamu menolakku karena kamu sangat mencintai Dion?"
Nadira terdiam mendengar pertanyaan Nathan. Dia ingin menjawab, tapi kenapa seolah ada keraguan yang menyergapi hatinya. Dia menatap ke arah Dion yang sedari tadi hanya diam menatap mereka.
"Nad, aku tanya sekali lagi. Kamu pilih aku atau Dion?" tanya Nathan sambil menatap penuh harap ke arah Nadira yang masih menangis.
"Aku pilih Dion! Aku benci sama Kak Nathan! Aku tidak mau sama Kak Nathan! Kak Nathan genit! Buaya! Aku benci Kak Nathan yang suka godain Kak Anin! Aku benci!" Tumpah sudah semua beban yang sedari kemarin-kemarin seolah menghimpit dadanya. Tangisan Nadira semakin terdengar mengeras. Mereka semua hanya bisa diam, dengan kebimbangan di hati mereka.
"Pergilah lah, Kak. Aku tidak mau melihat Kak Nathan lagi, aku mengundurkan diri magang dari Perusahaan Saputra dan jangan pernah sekalipun Kak Nathan muncul dihadapanku. Kalau kita tanpa sengaja bertemu, anggap saja kita orang asing yang tidak pernah saling mengenal!"
Deg. Hati Nathan rasanya diremas kuat saat mendengar ucapan yang keluar dari mulut Nadira. "Baiklah aku pergi karena aku menghargai keputusanmu, Nad. Aku akan menjadi orang asing di depanmu meski kita bertatap muka. Kamu harus tahu satu hal, setiap orang memiliki cara tersendiri untuk menjaga orang yang dicintainya," ucap Nathan tegas. "Ayo Bunda, kita pulang sekarang. Tubuh Nathan sudah sangat lelah," ajak Nathan sambil menggandeng tangan Mila, tapi Mila hanya diam dan menatap ke arah Aluna.
__ADS_1
"Pulanglah, Mil. Nanti kita bicarakan lagi setelah semua sudah terkendali," suruh Aluna. Mila pun mengangguk, tapi ketika mereka akan pergi, langkah mereka terhenti saat Jo memanggilnya. Jo segera bangkit berdiri dan setengah membungkuk di depan Davin yang sedari tadi hanya diam.
"Tuan, Nyonya dan Tuan Muda. Saya minta maaf atas kebodohan saya yang tidak bisa mendidik Nathan dengan baik. Saya juga tidak menyangka jika Nathan akan bertingkah sememalukan ini. Saya benar-benar minta maaf. Saya akan memutus pertunangan ini dan biarkan Nyonya Muda Nadira hidup bahagia bersama Dion. Saya pamit, Tuan."
"Pergilah, Jo. Aku juga tidak menyangka semua akan jadi seperti ini." Jo menghela napas panjang saat mendengar suara Davin yang penuh dengan kekecewaan. Setelah kembali berpamitan, dia segera berjalan keluar tanpa bicara dengan Mila dan Nathan. Genggaman tangan Nathan di tangan Mila terasa semakin menguat.
"Tenang saja, biar Bunda yang akan bicara dengan ayah nanti." Mereka berdua pun pergi menyusul Jo, karena mereka hanya menggunakan satu mobil.
...🍫🍫🍫🍫...
Kelanjutannya besok 🙊
kalau author lupa, ya nanti sore up lagi 😂😂
Jari author khilaf nih, udah buat Nathan sejahat itu 😊😊
__ADS_1
yuk dukungannya jangan lupa
hadiah, vote dong biar author semangat 😀