
Alvino yang baru saja sampai di rumahnya, berjalan dengan cepat menuju ke kamar untuk memastikan keberadaan istrinya. Suaranya yang memanggil nama istrinya terdengar menggelegar hingga membuat para pelayan keluar dari tempat mereka istirahat. Alvino memasuki kamar, pandangannya menyapu seluruh penjuru kamar. Namun, dia tidak menemukan keberadaan istrinya sama sekali. Pandangannya tertuju pada ponsel istrinya yang tergeletak di lantai. Dia segera mengambil ponsel itu. Namun, kedua matanya melebar saat melihat gambar yang berada di layar ponsel itu.
"Bajing*n!" umpat Alvino saat melihat foto rekayasa di layar itu. Foto itu memang menampilkan Alvino dan Katty sedang tidur bersama tanpa berbusana. Namun, jika diamati lebih jelas, foto itu adalah hasil editan dan Alvino yakin kalau Rania sudah salah paham dengan foto itu.
Dia berjalan cepat keluar kamar untuk mencari biang kerok kekacauan rumah tangganya. "Felisa!" teriak Alvino berkali-kali.
"Tu-tuan," panggil Maya tergagap. Dia merasa sangat takut melihat Alvino yang sedang dipenuhi amarah.
"Di mana Felisa?" tanya Alvino penuh penekanan.
"Mbak Felisa pergi entah ke mana, Tuan." Maya menunduk, dia tidak berani menatap majikannya itu.
"Darimana kamu tahu kalau istriku di culik?" tanya Alvino menyelidik.
"Ada yang menghubungi rumah ini kalau Nyonya Muda Rania bersama mereka dan—" Ucapan Maya terhenti saat mendengar dering ponsel milik Alvino.
"Hallo."
__ADS_1
"Hai Al, apa kabarmu?"
"Jack!" pekik Alvino tak percaya saat mendengar suara Jack dari seberang telepon.
"Wah aku senang sekali ternyata kamu masih mengenali suaraku, hahaha." Suara tawa Jack terdengar begitu keras hingga Alvino harus menjauhkan ponselnya.
"Bajing"*n! Bagaimana kamu bisa keluar dari penjara? Jangan-jangan kamu yang menculik istriku!" bentak Alvino. Dia merasa sangat gelisah, bagaimana dia bisa kecolongan karena tidak mengetahui Jack yang sudah bebas.
"Tenang saja, Al. Istrimu ada di sampingku. Bicaralah!" suruh Jack. Jantung Alvino terasa berdebar-debar, dia merasa begitu khawatir.
"Kak Al, aku takut ... hiks," isak Rania. Kecemasan di wajah Alvino semakin terlihat jelas saat mendengar suara istrinya.
"Bagaimana Tuan Alvino Putra Alexander yang terhormat?" tanya Jack mengejek. Sorot mata Alvino terlihat penuh dengan amarah.
"Bangs*t! Lepaskan istriku atau aku akan membunuhmu!" ancam Alvino. Tangannya mengepal erat dengan rahang yang terlihat mengeras. Maya yang berdiri di depannya semakin meringsut takut, pelayan yang lain pun hanya bersembunyi di dalam dapur, tidak ada satu pun yang berani keluar.
"Kita lihat siapa yang akan mati terlebih dulu, aku atau istri dan calon anakmu?" Tubuh Alvino menegang, tapi kemudian matanya semakin memancarkan kilatan amarah. Tawa Jack begitu menggelegar di telinganya. Belum sampai Alvino berbicara lagi, panggilan itu sudah terputus.
__ADS_1
"Sialan!" umpat Alvino, dia membanting vas bunga yang berada di sampingnya. Dia harus bergerak cepat sekarang. Dia melangkah lebar keluar rumah, tapi langkahnya terhenti saat melihat Mike datang bersama Kenan dan Felisa. Amarah Alvino semakin meluap saat melihat Felisa yang menunduk. Dia mendekati Felisa, mendorongnya ke tembok dan mencekik lehernya. Mike dan Kenan terkejut dengan gerakan Alvino yang tiba-tiba.
"Tu-tuan." Suara Felisa terbata.
"Katakan di mana Jack menyekap istriku?" tanya Alvino penuh penekanan.
"Sa-saya tidak tahu, Tuan." Felisa berusaha melepaskan cekikan Alvino karena dia sudah merasakan napasnya begitu sesak.
"Jangan berpura-pura! Aku tahu selama ini kamu berusaha mempengaruhi istriku agar rumah tanggaku hancur! Aku tahu kamu sekongkol dengan Jack!" hardik Alvino. Giginya gemerutuk menandakan amarahnya yang sudah naik ke ubun-ubun.
"Lepaskan dia, Al. Dia bisa mati," suruh kenan, tapi Alvino sama sekali tidak melepaskan tangannya.
"Biarkan dia mati! Gara-gara dia sekarang istri dan anakku sedang dalam bahaya!" Amarah Alvino benar-benar sudah sampai pada puncaknya. Napas Felisa mulai tersengal karena asupan oksigen yang mulai berkurang.
"Kamu salah paham, Al! Justru Felisa selama ini berusaha melindungi Rania!" Kenan mendorong tubuh Alvino dengan kencang hingga cekikan itu terlepas. Tubuh Felisa luruh ke lantai, dia berusaha menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.
"Al, lebih baik sekarang kita ke gudang kosong di jalan XX, Rania di sekap di sana. Orang yang bekerja sama dengan Jack adalah Katty." Mata Alvino melebar saat mendengar ucapan Kenan. Dia tidak percaya dengan apa yang barusan ia dengar.
__ADS_1
"Jangan berbohong Ken!"
"Aku jelaskan nanti, sekarang kita berangkat. Jangan sampai kita terlambat, Al." Mereka pun segera menuju ke tempat Rania di sekap. Selama dalam perjalanan, Alvino selalu berdoa semoga istri dan calon anaknya baik-baik saja.