
"Ehem!"
Mendengar suara orang berdeham dibarengi pintu ruangan yang terbuka, Alvino segera menjauhkan wajahnya dari wajah Rania tanpa melepas tautan tangannya di kedua pipi Rania.
"Astaga! Alvino!" Alvino segera melepaskan tangannya dan menoleh ke belakang, Rania pun melakukan hal yang sama, menoleh ke arah sumber suara.
Mereka berdua terkejut saat melihat orang tua mereka masuk dengan raut wajah yang terlihat marah. Setelah dekat dengan Alvino, tangan Davin segera menjewer telinga putranya dengan kencang.
"Ampun, Dad! Sakit!" pekik Alvino kesakitan, bahkan Alvino sampai berdiri dari duduknya dan satu tangannya memegang tangan Davin yang masih menjewernya.
"Kamu ini nakal sekali! Anak gadis orang sedang sakit, kamu ajak mesum!" bentak Davin marah.
"Maaf, Dad. Telingaku sudah sangat sakit, Daddy mau telingaku putus?!" Melihat wajah Alvino yang kesakitan dan hendak menangis, Davin dengan segera melepas jeweran tangannya.
"Aku bilangin ke mommy biar Daddy tidur di luar kamar!" ancam Alvino sambil mengusap telinganya yang sudah terlihat sangat merah. Rania hanya menunduk malu, sedangkan Tuan Sandi diam berdiri di samping brankar menatap ke arah mereka berdua yang sedang berdebat.
"Kamu keterlaluan, Al! Rania sedang sakit kenapa kamu ajak mesum? Di mana otak kamu?!"
"Tentu saja di kepala, Dad. Memang Daddy pikir otak aku di dengkul," sahut Alvino masih dengan mengusap telinganya.
"Ya Tuhan, berilah kesabaran untuk hamba," gumam Davin sembari mengusap wajahnya secara kasar. Tuan Sandi dan Rania hanya tersenyum lebar mendengar gumaman Davin.
"Lagipula, Dad. Siapa tahu kalau aku ketahuan mesum akan langsung di nikahkan. Iya 'kan Ran?" Wajah Rania langsung tersipu merah saat mendengar ucapan Alvino barusan.
__ADS_1
"Enak saja! Tuan Sandi, maafkan anak sulung saya yang tidak punya rasa malu," kata Davin menatap Tuan Sandi dengan tidak enak hati.
"Hahaha," gelak Tuan Sandi, "tidak apa Tuan Davin, saya tidak menyangka kalau kalian berdua ternyata seharmonis ini," sambungnya.
"Dad! Daddy harus ingat, aku ini keturunan siapa." Alvino berkata dengan menaik-turunkan alisnya menggoda Davin.
"Keturunan wewe gombel!"
"Yes! Berarti Daddy wowo gembel!"
"Alvino!" pekik Davin, dia sudah merasa sangat kesal, bahkan dia tidak bisa lagi menjaga image nya di depan Tuan Sandi dan Rania yang terlihat sedang menahan tawanya.
"Kalian kenapa ribut? Bahkan suara kalian terdengar sampai luar ruangan." Aluna yang baru saja memasuki ruangan, menatap heran ke arah suami dan putranya secara bergantian.
"Lihatlah, Mom. Hasil maha karya tangan daddy di telingaku," adu Alvino, dia menunjukkan telinganya yang terlihat sangat memerah.
"Sayang, semua bukan sepenuhnya salah aku." Davin berusaha mengelak, sedangkan Aluna sudah menatap wajah suaminya dengan tajam. "Bagaimana aku tidak marah, putra sulungmu ini dengan tanpa malu mencium Rania yang sedang sakit. Apalagi aku dan Tuan Sandi melihat dengan mata kami sendiri," sambung Davin menjelaskan.
Kedua mata Aluna membola mendengar jawaban Davin, dia beralih menatap tajam ke arah putra sulungnya yang sedang tersenyum lebar ke arahnya.
"Alvino!" panggil Aluna penuh penekanan.
"Maaf, Mom. Al menerima dengan ikhlas lahir batin kok Mom, kalau akan di nikahkan dengan Rania sekarang juga. Iya 'kan Ran?" tanya Alvino lagi, dan wajah Rania kembali merona merah. Dia tidak menyangka jika Alvino ternyata selucu itu.
__ADS_1
"Tuan Sandi, saya sangat meminta maaf atas kekurangajaran anak sulung saya dan mereka berdua yang sangat berisik, sudah mengganggu Anda dan Rania," ucap Aluna dengan sopan, pandangan matanya menatap Tuan Sandi dan Rania secara bergantian.
"Tidak apa, Nyonya. Anda tenang saja, justru saya merasa sangat terhibur dan saya juga senang kalau Alvino dan Rania bersatu. Karena putri saya sudah mengagumi putra Anda sejak dulu."
"Pa," panggil Rania pelan, mereka semua menatap ke arah Rania yang sedang menunduk.
"Kenapa? Kamu tidak mau menikah dengan Tuan Alvino?" tanya Tuan Sandi menatap Rania yang sedang menggeleng.
"Rania 'kan masih kuliah." Suara Rania terdengar begitu lirih. Alvino berjalan mendekati Rania dan menggenggam tangan Rania dengan erat, membuat Rania merasa begitu gugup.
"Ran, memang kenapa kalau kita menikah saat kamu masih kuliah? Banyak kok orang yang masih kuliah, mereka menikah bahkan memiliki anak. Lagipula, aku tidak akan menyuruhmu untuk berhenti kuliah." Rania mendongak, tatapannya bertemu dengan tatapan mata Alvino yang terlihat begitu memohon, setelah itu dia beralih menatap Tuan Sandi yang sedang mengangguk pelan.
"Kak ...."
"Kamu mau atau tidak? Aku sudah lama mencarimu dan mencintaimu, aku tidak mau kamu pergi ataupun di ambil orang, Ran." Suara Alvino benar-benar terdengar sangat memohon.
"Baiklah, tapi aku tidak mau berhenti kuliah," jawab Rania menurut.
"Oke! Kalau begitu setelah urusan Ana selesai, kita akan langsung menikah."
"Apa?!" pekik mereka berempat tak percaya.
...🍫🍫🍫🍫...
__ADS_1
Ciee, siapa yang suudzon sama Nathan,
Ayo tunjuk tangan 😂