Mutiara Hati Alvino

Mutiara Hati Alvino
35


__ADS_3

MASIH FLASHBACK


Jam sudah menunjukkan pukul satu siang, anak-anak berseragam merah putih mulai berhamburan keluar dari kelas begitu juga dengan anggota Four Angels yang hari ini kekurangan satu personil karena Ana meliburkan dirinya.


Ketiga anak kecil itu duduk di bangku depan sekolah untuk menunggu jemputan dari keluarga mereka. Belum ada lima menit menunggu, sebuah mobil hitam berhenti di depan mereka dan pak Aji yang tidak lain sopir dari keluarga Alexander keluar dari mobil dan berjalan mendekat.


"Nona Muda, maaf membuat Anda menunggu." Pak Aji menundukkan kepalanya dengan sopan.


"Tidak apa-apa," sahut Nadira sambil membenarkan tas yang tergantung di pundaknya.


"Nona Muda, saya mendapat pesan kalau Nona Cacha disuruh pulang bersama kita karena sekarang bunda Nona Cacha sedang berada di Mansion Alexander," kata Pak Aji. Mereka berdua hanya mengangguk mengiyakan.


"Ran, aku temenin kamu menunggu jemputan ya." Nadira menawarkan dirinya tetapi Rania segera menolaknya.


"Tidak perlu, An. Jemputanku juga sebentar lagi datang," tolak Rania halus. Nadira yang hendak berbicara lagi segera mengurungkan niatnya saat Pak Aji menyela dan mengatakan kalau mereka berdua sudah ditunggu. Akhirnya, mereka berdua menurut dan meninggalkan Rania sendirian.


Rania duduk mengayunkan kakinya di bangku karena merasa sangat bosan, sudah hampir setengah jam dirinya menunggu tetapi mobil jemputannya belum juga datang. Rania menurunkan tubuhnya dari bangku dan melangkahkan kakinya meninggalkan sekolahnya. Saat Rania sudah cukup lama berjalan, dia menatap ke arah depan di mana dia bisa melihat ada seorang lelaki berseragam SMP sedang berlari kencang. Mata Rania sedikit menyipit untuk mempertajam penglihatannya.


"Bukankah itu kakak Nadira yang gambarnya menjadi sampul majalah itu. Kenapa dia berlari-lari?" gumam Rania sambil menatap heran ke arah Alvino. Saat Alvino berada tidak jauh darinya, dia melihat Alvino berlari menuju ke jalan raya tanpa menoleh ke kanan maupun ke kiri. Tubuh kecil Rania berlari dengan kencang saat dia melihat sebuah mobil melaju dari arah depan dan hendak menabrak Alvino.


"Awas!" teriak Rania sambil mendorong tubuh besar Alvino dengan sekuat tenaganya. Namun, tubuh kecil Rania justru terpelanting jauh karena mobil itu berhasil menabraknya.


"Mama papa sakit," rintih Rania kecil saat dia terkapar di atas aspal dengan darah yang mengalir dari lengan dan kakinya. Banyak orang datang menolong Rania, salah satu di antara mereka membopong tubuh Rania untuk membawa Rania ke rumah sakit.

__ADS_1


"Cepat bawa dia ke rumah sakit!" Rania bisa mendengar suara Alvino yang terdengar begitu keras. Dia menatap Alvino dengan lekat di tengah rasa pusing yang mulai menghinggapi kepalanya.


Rania menatap Alvino yang juga sedang menatapnya, hingga tatapan mereka berdua bertemu dan Rania merasa sangat terpikat dengan Alvino. Namun, kedua bola mata Rania seketika terpejam karena dia sudah tidak bisa lagi menahan rasa pusing yang datang mendera karena dia telah kehabisan banyak darah, Rania kecil akhirnya pingsan tidak sadarkan diri.


Sopir yang mengendarai mobil yang membawa Rania segera menghentikkan laju kendaraannya saat mobilnya di hadang oleh sebuah mobil mewah di depannya.


"Ada apa Tuan? Maaf saya membawa pasien gawat darurat." Sopir itu ketakutan melihat tiga orang bertubuh kekar mengetuk kaca mobilnya.


"Pasien itu Nona Muda kami, biar kami yang membawanya. Kalau kalian tidak percaya kalian bisa menghubungi nomor ini. Saya mohon, biar saya membawa Nona Muda kami secepatnya." Wajah ketiga pria kekar itu terlihat sangat khawatir hingga sopir dan orang-orang yang hendak mengantar ke rumah sakit hanya bisa mengiyakan saja, salah satu di antara mereka membopong tubuh Rania yang sudah berlumuran darah dan dengan segera membawanya masuk ke mobil mereka.


Mobil mewah itu melaju dengan kecepatan tinggi karena mereka takut terlambat, sedangkan salah satu di antara mereka segera menghubungi Tuan Sandi untuk memberi tahu kejadian ini. Mobil itu menuju ke Rumah Sakit Husada, yang memiliki fasilitas lebih lengkap dari pada Rumah Sakit Harapan.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


Tuan Sandi berlari kencang bersama Ana mendekati ruang ICU di mana Rania berada. Mereka sampai di depan ruangan bersamaan dengan dokter yang keluar dari ruangan tersebut. Tuan Sandi berjalan lebih mendekat tanpa melepas genggaman tangannya di tangan kecil Ana.


"Putri Anda kritis, Tuan. Luka robek di lengan dan kakinya cukup parah dan membutuhkan banyak jahitan." Tubuh Tuan Sandi melemas saat mendengar ucapan dokter itu. Tanpa sadar, dia melepas genggaman tangannya dan mengusap wajahnya berkali-kali.


"Bisakah Anda membuat surat rujukan, saya akan membawanya berobat keluar negeri." Suara Tuan Sandi terdengar parau karena menahan tangisnya. Dokter itu mengangguk pelan dan segera pergi untuk mengurus segala surat-surat untuk rujukan.


Selepas kepergian dokter itu, Tuan Sandi mengambil ponselnya dan menghubungi salah satu anak buahnya yang ahli dalam bidang IT.


"Kamu retas CCTV di sekolah dan semua yang berhubungan dengan kecelakaan ini. Jangan sampai ada yang tahu kalau Rania mengalami kecelakaan karena aku akan membawanya ke luar negeri untuk kesembuhannya dan aku ingin fokus pada kesembuhan Rania terlebih dahulu." Tuan Sandi mematikan panggilan itu setelah selesai memberi perintah.

__ADS_1


"Papa," panggil Ana lirih, Tuan Sandi segera teringat dengan keberadaan Ana. Dia berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Ana, dia melihat kedua mata putri sulungnya yang sudah mengeluarkan airmata.


"Sayang, kita harus yakin kalau Rania pasti baik-baik saja." Tuan Sandi menghapus airmata yang membasahi wajah Ana, sedangkan Ana kecil hanya mengangguk pelan.


"Kita bersiap-siap dan akan keluar negeri sampai Rania benar-benar sembuh." Ana kembali mengangguk menyetujui keputusan Tuan Sandi.


"Oh iya An, satu hal lagi." Tuan Sandi mengingat ucapan dokter tadi kalau luka robek di tangan dan kaki Rania mengalami luka robek parah. "Kalau suatu saat nanti tubuh Rania penuh dengan bekas luka jahit, bisakah kamu berjanji satu hal kalau ada yang bertanya tentang bekas luka itu kamu akan menjawab kalau Rania pernah menjadi korban penculikan bukam karena kecelakaan." Tuan Sandi terlihat begitu memohon.


"Baik Pa," sahut Ana sambil mengusap airmata yang masih mengalir di pipinya. Mereka pun segera mempersiapkan diri untuk keluar negeri sampai Rania benar-benar sembuh.


Maafkan saya Tuan Davin, saya terpaksa menutupi semuanya. Saya hanya ingin fokus pada kesembuhan Rania terlebih dahulu tanpa gangguan, karena bagi saya itulah yang paling utama. Batin Tuan Sandi sambil menghela napas panjang.


FLASHBACK END.


🍫🍫🍫


Eh kemaren sore ada yang nungguin enggak ya?


Maaf ya baru bisa up karena sesuatu hal.


Nanti Up lagi, tapi jangan lupa dukungan kalian buat Author yang kece badai ulala(Masya Allah😁)


Thor, Rayhan kemana? Tenang ya, Rayhan masih Author umpetin, nanti dia keluar sama Queen. Masih ingat Queen kan??

__ADS_1


Lanjut tidak?πŸ˜‚πŸ˜‚


Salam sayang dari Author recehan 😊😊


__ADS_2