
"Terima kasih atas kerjasamanya, Tuan Alvino. Anda memang pengusaha muda yang sangat berbakat," puji Tuan Sandi saat mereka sudah selesai membahas tentang kerjasama mereka.
"Sama-sama, Tuan. Terima kasih juga atas pujiannya," balas Alvino dengan senyum simpul di bibirnya.
"Bolehkah saya berbicara sebentar dengan Nak Kenan?" tanya Tuan Sandi meminta izin. Alvino menganggukkan kepalanya tanda setuju. Dia menatap punggung dua orang berbeda generasi itu yang sedang berjalan keluar dari ruangannya. Tiba-tiba ponsel di saku jas Alvino berbunyi, dengan segera dia mengambil ponsel itu dan menekan tombol hijau untuk menerima panggilan.
"Hallo Om," sapa Alvino saat panggilan itu telah terhubung.
"Al, tiga hari lagi balapan jadwal balapan, kamu ikut kan?" Terdengar suara Ronal dari seberang.
"Pasti, Om. Siapa lawan terberatku besok, Om?" tanya balik Alvino.
"Jack, dia akan ikut balapan kali ini. Kamu harus berhati-hati karena dia sangat curang, dan satu hal lagi, Ana juga sudah ikut mendaftar balapan kali ini. Jadi, nanti kalian bertiga akan saling beradu kecepatan," jelas Ronal.
"Baik, Om."
__ADS_1
"Al, bisakah nanti sore kamu menjemput Anin di Bandara? Hari ini dia pulang dan Om tidak bisa menjemputnya," pinta Ronal.
"Jam berapa Om?" tanya Alvino sambil meneliti berkas-berkas di depannya.
"Sepulang kamu kerja, kira-kira jam lima dia sudah sampai Bandara. Terima kasih Al," kata Ronal, setelah mendapat jawaban dari Alvino, panggilan itu lalu terputus begitu saja dan Alvino kembali fokus pada pekerjaannya.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Keempat anggota geng 'Four Angels' sedang duduk di kantin saat jam istirahat. Mereka berempat asyik menikmati makan siang mereka dengan di selingi obrolan yang kadang membuat mereka tertawa keras hingga banyak pengunjung kantin menatap heran ke arah mereka berempat. Namun, tawa mereka terhenti saat Febian dan Erlando datang dan ikut bergabung di meja mereka.
"Ngapain sih kalian berdua kesini? Menganggu ketenangan kita aja," sahut Nadira.
"Nad, bukan kita yang mengganggu ketenangan kalian tetapi kalian yang mengganggu ketenangan para penghuni kantin," cibir Febian.
"Mending kamu pergi dari sini deh, Bi. Kamu menghilangkan selera makan kita tahu enggak!" protes Cacha dengan kesal.
__ADS_1
"Kamu benar-benar galak, Cha. Sebentar, aku ingin bicara sama Rania dulu. Ran, aku punya kejutan untukmu," kata Febian dengan lembut, dia tersenyum lebar saat melihat kalung pemberiannya terpasang indah di leher Rania.
"Kejutan apa?" tanya Rania penasaran.
"Ya pokoknya ada. Kalau aku bilang sekarang namanya bukan kejutan dong. Pokoknya nanti sore jam lima aku tunggu kamu di danau," sahut Febian, dia beranjak bangun, di ikuti Erlando yang sedari tadi hanya diam saja. Tanpa menunggu persetujuan dari Rania, mereka berdua berjalan meninggalkan meja kantin itu.
"Kamu mau datang, Ran?" tanya Nadira begitu Febian sudah keluar dari kantin.
"Entahlah Nad. Kak Ana mau nemenin aku?" tanya Rania, dia menatap ke arah Ana yang hanya diam sambil mengunyah makanannya.
"Maaf Ran, aku tidak bisa. Aku ada masih memiliki urusan yang lain," tolak Ana.
"Ya sudah, aku datang sendiri saja," ucap Rania kecewa, tetapi Ana hanya sibuk menikmati makanannya seolah tidak peduli. Cacha dan Nadira menatap heran ke arah si kembar, mereka merasa hari ini ada yang berbeda dengan mereka apalagi Ana yang terlihat begitu tidak peduli kepada Rania. Akan tetapi, mereka berdua hanya bisa diam tanpa berani bertanya lebih lanjut.
Setelah menghabiskan makanannya, Ana segera berpamitan ke toilet dan mereka bertiga hanya mengiyakan. Sesampainya di toilet, Ana segera mengambil ponselnya dan menghubungi salah satu kontak nomor yang berada di ponselnya.
__ADS_1
"Hallo, kamu sudah siap dengan rencana kita?" tanya Ana begitu panggilan itu terhubung. "Baiklah, semoga semuanya berhasil." Ana menutup panggilan itu dengan seringai tipis di bibirnya. Namun, seringai itu dengan cepat menghilang saat Ana merasakan kebimbangan di dalam hatinya.