Mutiara Hati Alvino

Mutiara Hati Alvino
73


__ADS_3

Restoran XX


Nadira sedari tadi hanya diam menyimak Nathan dan Monica yang sedang serius membahas tentang kerjasama mereka, sambil berkali-kali menyedot jus di gelasnya hingga tandas. Sementara Nathan masih fokus berdiskusi tanpa memperhatikan Nadira sama sekali.


Hampir satu jam menunggu tanpa melakukan apapun, tanpa sadar Nadira tertidur di atas meja dengan beralaskan kedua lengannya.


"Nad, tolong ...." Nathan terkejut saat melihat Nadira yang sedang tertidur lelap. Monica yang melihatnya, hanya menggelengkan kepalanya tidak percaya.


"Maaf, Nona. Sepertinya asisten saya kelelahan. Kalau Anda mau pulang terlebih dahulu, tidak apa-apa Nona. Kebetulan diskusi kita sudah selesai," kata Nathan sedikit mengusir, Monica yang kebetulan memiliki acara lain, akhirnya berpamitan pergi dari sana.


"Nad, bangunlah!" Nathan menggoyangkan tubuh Nadira, tapi Nadira seolah tidak terusik sama sekali. "Nad! Nadira!" Kali ini, suara Nathan terdengar lebih keras, tapi Nadira tetap saja tidak merasa terganggu.


"Cantik juga kalau lagi tidur gini, tapi sayang tidurnya kaya babi," gerutu Nathan sambil mengamati wajah cantik Nadira yang sedang tertidur lelap.


"Ya Tuhan! Dion sedang berkencan dengan siapa?"


"Mana? Mana?" Nadira seketika terbangun, tapi kesadarannya belum terkumpul sepenuhnya "Enak sekali ada pelakor di hubunganku!" geram Nadira sambil celingukan mencari keberadaan Dion. Namun, Nadira yang tidak menemukan keberadaan Dion, seketika menatap tajam ke arah Nathan yang sedari tadi terlihat menahan tawanya.


"Kak Nathan!" Suara Nadira terdengar begitu meninggi. Bukannya takut, suara tawa Nathan justru terdengar semakin mengeras. "Aku benci Kak Nathan!" Nadira memukul pundak Nathan berkali-kali, hingga Nathan memegang tangan Nadira untuk menghentikannya.

__ADS_1


"Jangan marah-marah, Nad. Nanti kadar kecantikanmu yang luar biasa bisa berkurang loh. Aku mencintaimu juga. Hahaha." Nadira memalingkan wajahnya yang sudah merona merah mendengar ucapan Nathan. Dirinya benar-benar salah tingkah saat ini, bahkan tanpa sadar dia mencubit perut Nathan dengan cukup keras.


"Ampun! Ampun! Lepaskan, Nad." pinta Nathan sambil berusaha menghentikan cubitan tangan Nadira di perutnya. Tiba-tiba, ponsel Nathan berbunyi dan tangan Nathan segera mengambil ponsel dari saku jas nya.


"Hai Nin," sapa Nathan begitu panggilan terhubung. "Apa?! Baiklah, aku ke situ sekarang." Nathan segera beranjak bangun dan bergegas pergi meninggalkan Nadira yang masih terduduk dengan raut bingung di kursinya. Namun, saat Nathan hampir mencapai pintu keluar, dia berbalik dan menatap Nadira yang masih bergeming. Nathan melangkahkan kakinya kembali mendekati Nadira.


"Ayo, Nad. Apa kamu mau kutinggal?" tanya Nathan menyadarkan Nadira dari lamunannya.


"I-iya Kak. Memang kita mau ke mana? Kenapa Kak Nathan sangat terburu-buru?" Nadira sedikit kesulitan mengimbangi langkah kaki Nathan yang begitu tergesa.


"Anin terserempet mobil dan sekarang sedang di klinik kesehatan dekat tempat kejadian." Nathan masuk ke mobil dan mendudukkan tubuhnya di belakang setir kemudi. Setelah memastikan Nadira duduk dengan baik di sampingnya, Nathan segera melajukan mobilnya meninggalkan restoran.


"Aku juga belum tahu, semoga saja dia baik-baik saja," sahut Nathan tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan di depannya.


"Semoga saja." Suara Nadira terdengar begitu lemah, dia menyandarkan kepalanya di jok mobil. Melihat Nathan yang begitu mengkhawatirkan Anin, entah mengapa, seolah ada perasaan tidak rela yang menelusup masuk ke dalam hati Nadira. Namun, Nadira berusaha menepis perasaan itu.


Ingat Dion, Nad!


Mobil Nathan berhenti di depan sebuah klinik kesehatan. Setelah memarkirkan mobilnya, Nathan segera keluar dari sana dan melangkahkan kakinya lebar memasuki klinik, kembali meninggalkan Nadira yang masih melepas sabuk pengamannya.

__ADS_1


"Sepertinya Kak Nathan punya perasaan lebih sama Kak Anin. Buktinya saja, dia terlihat begitu khawatir bahkan sampai meninggalkanku seperti ini," gumam Nadira sambil keluar dari mobil. Dia pun berjalan cepat menyusul Nathan yang sudah masuk terlebih dahulu.


"Bagaimana keadaanmu, Nin?" tanya Nathan saat sudah memasuki ruangan tempat Anin dirawat sementara.


"Tidak parah, Nat. Hanya lecet sedikit." Mendengar jawaban Anin, Nathan mengamati seluruh tubuh Anin dari atas sampai bawah.


"Tidak apa-apa bagaimana? Lihatlah, wajah cantikmu tergores seperti ini," goda Nathan, menyentuh pipi Anin yang sedikit terluka.


"Dasar mulut buaya!" cebik Anin kesal.


"Kamu juga buaya. Buaya betina. Haha." Nathan mencubit gemas pipi Anin, hingga Anin merintih kesakitan. Nadira yang sudah berdiri di ambang pintu, mengurungkan niatnya yang akan masuk dan lebih memilih duduk di kursi tunggu yang berada di depan ruangan.


"Kenapa dadaku rasanya sakit?" Nadira meremas kemeja bagian dadanya dengan kuat untuk mengurangi rasa sakit yang terasa menjalar ke tubuhnya. Ia sendiri merasa heran, karena selama menjalin hubungan dengan Dion, dirinya tidak pernah merasakan perasaan aneh seperti ini.


...🍫🍫🍫🍫...


Cieee Cemburu Cieee


dukungan jangan lupa 🙊

__ADS_1


__ADS_2