
Mansion Alexander
"Daddy! Mommy!" teriak Nadira lantang. Dia berlari kencang menuruni tangga. Davin dan Aluna yang sedang duduk di ruang keluarga segera beranjak bangun dan mendekati tangga. "Aduh!" pekik Nadira.
"Ya Tuhan, Nad. Kenapa kamu bisa terjatuh?" tanya Aluna. Dia berlari mendekati Nadira dan membantunya berdiri.
"Sakit, Mom," rengek Nadira saat dia merasakan nyeri di pergelangan kakinya.
"Kenapa kamu berlarian, Nad?" tanya Davin yang sudah berada di dekat mereka.
"Aku mau bilang kalau Kak Nathan sudah sadar, tapi kakiku tersandung," jelas Nadira. Davin segera melihat kaki Nadira setelah melihat putrinya yang sedari tadi meringis kesakitan.
"Kakimu terkilir, Nad. Biar Daddy hubungi tukang pijat," kata Davin. Namun, Nadira menahan langkah Davin yang hendak mengambil ponselnya.
"Jangan, Dad. Aku mau ke rumah sakit sekarang," kata Nadira dengan senyum bahagia.
"Tapi kakimu ...."
"Sudah, Dad. Tak apa nanti setelah aku melihat Kak Nathan, baru kita ke tukang pijat." Nadira berjalan terpincang meninggalkan Davin dan Aluna begitu saja.
__ADS_1
"Mas, apa kamu yakin Nadira akan baik-baik saja?" tanya Aluna cemas.
"Kita ikuti saja kemauannya, bukankah kamu tahu bagaimana keras kepalanya Nadira." Davin tersenyum mengejek ke arah Aluna.
"Ish! Nanti malam aku tidak mau memberimu jatah!" ancam Aluna, dia meninggalkan Davin dengan kesal. Davin tergelak keras, rasanya dia rindu sekali dengan wajah kesal istrinya. Namun, teringat ancaman Aluna, Davin segera berlari menyusul mereka.
"Kamu yakin kakimu baik-baik saja, Nad?" tanya Aluna khawatir.
"Tenang saja, Mom. Aku bahagia sekali Kak Nathan akhirnya sadar. Setidaknya aku bisa meminta maaf padanya secara langsung sebelum aku pergi." Aluna menatap lekat wajah Nadira. Meskipun dia melihat senyum di bibir Nadira, tapi dia bisa melihat luka yang teramat dalam dari sorot mata putrinya.
"Kamu sudah yakin dengan keputusanmu?" tanya Davin memastikan.
"Baiklah, nanti biar Om Ardian dan Erlando yang menjagamu. Daddy juga tenang karena Febian juga di sana," kata Davin.
Setelah lima belas menit dalam perjalanan. Mobil Davin memasuki area rumah sakit. Nadira bergegas keluar begitu mobil Davin sudah berhenti. Aluna dan Davin menuntun Nadira yang sedang berusaha berjalan dengan cepat.
Nadira menghela napas panjang saat dirinya sudah sampai di depan ruang VVIP, tempat Nathan dirawat.
"Kenapa jalanmu terpincang?" tanya Mila, ia melangkah mendekati Nadira dengan raut wajah yang terlihat khawatir.
__ADS_1
"Kesleo Aunty, tapi tidak apa-apa. Kak Nathan mana?" tanya Nadira. Dia terpaku sesaat ketika dirinya sudah berdiri tidak jauh dari tempat Nathan terbaring. Namun, hati Nadira mencelos sakit saat melihat Nathan memalingkan wajahnya begitu saja.
"Nathan, ada Nadira dan keluarganya. Kamu tidak ingin menyapa?" tanya Jo berusaha mencairkan suasana yang terasa begitu canggung.
"Selamat datang Tuan Davin, Aunty Aluna, dan ...." Nathan terdiam, dia tidak menatap ke arah Nadira sama sekali. "Nona Muda Alexander."
Nadira meremas ujung kaos yang di kenakannya saat merasakan hatinya terasa berdenyut sakit. Mereka yang berada di ruangan itu hanya melihat tanpa berani berkomentar.
"Aunty bersyukur akhirnya kamu sadar. Semoga lukamu cepat sembuh, Nat. Aunty sangat berterima kasih kamu sudah menolong Nadira," kata Aluna dengan lembut.
"Sama-sama Aunty, sudah kewajiban Nathan menjaga seluruh anggota Keluarga Alexander."
"Maaf, bolehkah aku berbicara berdua dengan Kak Nathan," pinta Nadira dengan suara yang begitu memohon.
"Apa yang akan Anda bicarakan, Nona? Kenapa harus berdua?" tanya Nathan. Raut wajahnya terlihat sangat datar.
"Nat, kita akan menunggu di luar," kata Jo. Dia mengajak mereka yang berada di dalam untuk keluar. Memberi ruang untuk Nathan dan Nadira menyelesaikan semuanya.
Selepas kepergian mereka, Nadira berjalan terpincang mendekati tempat tidur Nathan.
__ADS_1
"Berhentilah, Nona. Saya mohon jangan mendekat lagi. Telinga saya masih bisa mendengar dengan baik meskipun kita berjarak tiga meter," perintah Nathan. Nadira bergeming di posisinya. Dia menatap Nathan yang masih memalingkan wajahnya. Seketika airmata Nadira menetes saat melihat sikap Nathan yang benar-benar dingin padanya.