
"Ayo, Ken. Lebih baik kita pulang," ajak Alvino yang sudah lelah dengan candaan sahabat somplaknya itu.
"Pak polisi tampan, bolehkah aku memberi sedikit pelajaran untuk manusia laknat ini? Aku janji tidak akan membuatnya sedikit terluka," pinta Nathan sembari menatap kedua polisi yang sedang menatap heran ke arahnya.
"Apa yang akan kamu lakukan, Nat?" Kenan yang sedari tadi hanya diam akhirnya tak sabar untuk bertanya.
"Lihatlah." Nathan mendudukkan tubuhnya di atas punggung Jack yang sedang berusaha meronta.
"Aku hanya akan memberikan sesuatu padamu. Seperti ini!" Nathan menaruh tangannya di kedua ketiak Jack dan segera menggelitikinya tanpa henti.
Semua mata menatap tak percaya melihat apa yang dilakukan Nathan, sedangkan Jack hanya mengumpat kesal karena dia merasa tidak tahan dengan gelitikan yang dilakukan Nathan terus menerus.
"Hentikan bang**t!" umpat Jack berusaha menyingkirkan Nathan dari tubuhnya. Semua tertawa melihat tingkah Nathan yang seperti seorang anak kecil. Setelah merasa puas, Nathan segera turun dari tubuh Jack yang sudah sangat lemas.
"Aku lupa satu hal." Nathan kembali mengunci tubuh Jack dan memegang tangan Jack yang terborgol.
"Akhh!" Jack kembali mengerang kesakitan saat Nathan memutar pergelangan tangannya hingga tulangnya berbunyi.
"Aku mewakili Tuan Muda Alvino, memberimu hadiah karena sudah berani menyentuh wajah cantik Rania." Nathan menjauh dari tubuh Jack yang sudah lemas dan menyuruh anggota kepolisian itu untuk membawanya masuk lagi ke dalam. Kedua anggota polisi itu segera membantu Jack yang masih mengerang kesakitan dan membawanya masuk kembali ke dalam jeruji besi.
__ADS_1
"Kamu benar-benar hebat, Nat." puji Alvino bangga. Nathan menepuk dadanya, menyombongkan diri.
"Tentu saja, babang Nathan gitu!" Nathan tergelak, sementara yang lain hanya memutar bola matanya malas. "Apa yang aku lakukan tidak pernah gratis, Al!" imbuh Nathan sembari menaik-turunkan alisnya.
"Menyebalkan! Baiklah, karena aku sedang berbaik hati, aku akan menyuruh Nadira untuk magang di perusahaanmu," ucap Alvino dengan terpaksa.
"Oh, bukan hanya itu saja yang aku inginkan. Masih ada satu hal lagi."
"Apalagi? Jangan ngelunjak Nat!" kata Alvino geram.
"Sederhana saja, Al. Aku mau kamu membantuku agar aku bisa menjadi adik iparmu," sahut Nathan. Alvino kembali menatap Nathan dengan sangat tajam.
"Tunggu Al. Kamu tidak ingin mengucapkan terima kasih padaku?" teriak Nathan, tetapi mereka hanya bersikap tidak peduli.
"Awas saja kamu, Al. Kalau aku sudah menjadi adik iparmu, aku akan membuatmu tersiksa." Nathan masih berdiri di posisinya dengan tersenyum licik. Namun, dia tersadar jika mereka sudah meninggalkannya sendirian.
"Sial!" Nathan menendang udara karena kesal dan segera berlari menyusul mereka ke parkiran.
🍀🍀🍀🍀🍀
__ADS_1
Kenan dan Ana sedang bersama berada di pinggir Danau di dekat Taman Kota. Ana menatap air danau yang terlihat sangat tenang itu, sementara Kenan merebahkan tubuhnya di atas rerumputan dengan menggunakan dua lengannya sebagai bantal. Kenan menatap langit senja yang mulai menampilkan berwarna merah jingga.
"Kak, aku minta maaf." Suara Ana terdengar lirih bahkan nyaris tidak terdengar.
"Sejak kapan kamu mencintaiku?" tanya Kenan tanpa menanggapi permintaan maaf dari Ana.
"Semenjak pertemuan pertama kita di luar negeri," sahut Ana gugup. Ana bisa mendengar helaan napas kasar keluar dari mulut Kenan.
"An, kalau boleh jujur, aku sangat kecewa padamu saat ini. Aku sebenarnya mengagumimu, sosok kakak yang sangat menyayangi adiknya, ceria dan mempunyai pemikiran yang dewasa." Kenan menghentikan ucapannya, sedangkan Ana hanya diam membisu. "Aku tidak menyangka, jika kamu tega berencana mencelakai adikmu sendiri yang aku tahu, kamu sangat menyayanginya," imbuhnya.
"Maafkan aku, Kak." Ana menunduk, Kenan bisa mendengar suara Ana yang penuh dengan rasa sesal.
"Aku juga minta maaf, An. Setelah memikirkan perkataan Al, aku menyadari kalau kejadian kemarin bukan sepenuhnya salah kamu. Namun, aku yang pecundang juga ikut andil di dalamnya." Ana menoleh ke arah Kenan yang sedang memejamkan matanya.
"Ana." panggil Kenan, "sebenarnya aku sudah mencintaimu sejak pertemuan pertama kita, tetapi aku terlalu pecundang dan lebih memilih untuk diam mendekati kamu lewat Rania. Aku lebih memilih menyimpan perasaanku padamu daripada harus mengatakannya, karena aku takut kamu menolakku. Meskipun aku sangat perhatian pada Rania, tetapi aku diam-diam selalu memperhatikanmu."
"Semua bukan salah kamu, Kak. Aku saja yang sudah dibutakan oleh rasa cemburu dan iri pada Rania. Aku benar-benar menyesal saat ini." Ana mengalihkan pandangannya menatap ke langit senja, di sore itu.
"Sudahlah, lebih baik kita lupakan saja semuanya dan memulai semua dari awal lagi." Kenan bangun dari posisi tidurnya dan duduk lebih dekat dengan Ana. Tangan Kenan merangkul pundak Ana membuat Ana menjadi begitu gugup.
__ADS_1
"Aku mencintaimu An, dan aku ingin kamu menjadi pemilik hatiku sepenuhnya." Kenan beralih memegang kedua bahu Ana dan menghadapkan ke arahnya. Dia menatap wajah cantik Ana yang menoleh ke arah samping, tetapi Kenan bisa melihat pipi Ana yang sudah terlihat merona merah.