
Rania berdiri di depan cermin, dia menatap pantulan penampilannya yang berbeda dengan dari biasanya. Dia benar-benar meniru gaya Ana, memakai jaket kulit yang berpadu dengan celana jeans tak lupa rambut panjangnya yang dia gerai serta kacamata tebalnya yang dia lepas.
"Kamu sudah siap, Ran?" Rania menoleh ke arah pintu, dia melihat Ana yang sedang berjalan masuk ke dalam kamarnya.
"Bagaimana Kak? Aku sudah sama persis dengan Kakak kan?" Rania bergaya di depan Ana yang tersenyum lebar.
"Sangat mirip, beruntung sekali kita kembar identik jadi kita bisa bertukar posisi," puji Ana sangat puas. "Maaf ya Ran, kamu harus menggantikan Kakak untuk balapan." Suara Ana terdengar melirih.
"Tidak masalah, Kak. Aku sangat sayang Kakak." Rania memeluk tubuh Ana dengan erat, kedua tangan Ana pun membalas pelukan adiknya di tubuhnya.
"Kakak juga sayang sama kamu," balas Ana, tetapi wajah Ana menampilkan sebuah kebimbangan.
"Kakak tahu, bagiku Kakak adalah orang paling hebat seperti papa dan mama yang sangat mencintaiku." Rania melerai pelukannya, dia tersenyum ke arah Ana yang juga sedang menunjukkan senyumnya secara paksa.
Rania melangkahkan kakinya menuju ke meja rias dan membuka laci meja itu. Rania mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna biru dari laci meja.
__ADS_1
"Kak, kakak tahu, aku masih menyimpan gelang saat kita masih bayi. Kata mama dulu, meskipun kita sudah besar jangan sampai kita melupakan masa kanak-kanak kita. Aku dan kakak sudah tumbuh dan bersama sejak dalam kandungan jadi apapun yang kakak rasakan aku juga akan merasakannya," ucap Rania sambil menatap dua gelang bayi berwarna biru yang bertuliskan namanya dan juga Ana.
"Bisakah kamu berjanji untuk baik-baik saja?" tanya Ana dengan hati yang sangat gelisah. Hatinya benar-benar merasa tak karuan saat ini. Rania menoleh ke arah Ana dan menunjukkan senyum manisnya.
"Pasti Kak. Aku berjanji akan baik-baik saja tetapi semua hanya Tuhan yang bisa mengaturnya." Hati Ana seolah di remas kuat, dia merasakan rasa sesak di hatinya. Haruskah dia melanjutkan segala rencana yang telah disusun dengan sangat rapi. Ataukah dia harus mengagalkan semuanya, tapi bagaimana dengan ancaman yang datang padanya jika dia mengagalkan rencana itu. Dia tidak mau semua orang tahu apa yang sudah dia lakukan.
"Sudah Kak. Jangan sedih seperti itu, aku hanya pergi balapan. Aku berangkat dulu, semoga urusan Kakak cepat selesai." Rania berjalan melewati Ana, tetapi saat Rania sudah sampai di ambang pintu dia menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Ana.
"Aku sayang Kakak, selamat tinggal," ucap Rania dengan wajah ceria, dia melambaikan tangannya sedangkan Ana hanya berdiri terpaku pada posisinya.
Selepas kepergian Rania, Ana mengambil ponselnya dan menghubungi nomer seseorang. Dia benar-benar merasa telah menyesal saat ini.
"Kamu tenang saja, aku hanya akan melukai adikmu sedikit saja agar rasa sakit hatimu sedikit terobati. Apakah kamu tidak iri melihat semua orang hanya mencintai dan memperhatikan adikmu saja." Ana hanya terdiam mendengar suara dari seberang telepon.
"Baiklah, kamu harus pastikan kalau adikku hanya terluka sedikit," ucap Ana tegas walau dalam hatinya dia merasa ragu.
__ADS_1
"Kamu tenang saja, selama kamu bisa mengikuti rencanaku maka rahasiamu akan aman." Tut tut, panggilan itu terputus begitu saja. Ana menghela napasnya panjang. Dia berjalan mendekati meja rias milik Rania dan mengambil gelang bayi yang tergeletak di atas meja. Kedua bola mata Ana menatap lekat ke arah dua gelang biru itu. Seulas senyum tersemat di bibirnya saat dia membaca namanya dan Rania terukir indah di sana.
"An, kamu harus tahu kalau kamu adalah kakak yang hebat untuk Rania. Papa dan Mama sangat bangga kepadamu. Maukah kamu berjanji pada Mama kalau kamu akan menjaga Rania dengan baik dan tidak akan menyakitinya?"
"Ana berjanji, Ma."
"Hebat sekali. Mama sangat bangga sama kamu."
Airmata Ana tiba-tiba menetes saat teringat percakapan terakhirnya dengan sang mama sebelum mamanya meninggal karena sebuah kecelakaan.
"Maafkan Ana, Ma. Ana sudah mengingkari janji Ana." Ana mengusap airmatanya dan meletakkan gelang itu di atas meja, dengan segera dia berlari keluar kamar Rania. Dia harus menyusul Rania saat ini, sebelum sesuatu yang buruk menimpa Rania.
🍫🍫🍫🍫🍫🍫
Jempolku kramm...
__ADS_1
yuk kalian yang jempolnya enggak kram bisa pencet gambar jempol ya di bawah yaa
Ingat! Author selalu menunggu dukungan kalian 😆😆