
"Kamu yakin akan melakukannya? Bukankah dia saudaramu sendiri?"
"Tentu saja, aku ingin membuat dia merasakan apa yang aku rasakan saat ini,"
"Tapi, kenapa kamu sangat ingin melukainya?"
"Karena dia sudah merebut perhatian semua orang."
"Memang sakit saat melihat orang yang kita sayang lebih memperhatikan orang lain daripada kita, apalagi saudara kita sendiri."
"Aku bahkan sudah membuat kesalahpahaman antara Al dan Bi. Aku sengaja mengambil foto waktu Al dan Rania di taman dan aku diam-diam memberikan pada Bi, karena aku tahu Bi sangat mencintai Rania."
"Kamu benar-benar hebat, An. Aku suka gaya kamu, aku akan membantumu membayar rasa sakit hatimu pada Rania. Besok saat kita balapan, aku ingin Rania yang ikut balapan bukan kamu."
"Kamu juga tahu kalau Rania seorang pembalap?"
"Tentu saja. Aku akan membuatmu melihat saudaramu terluka agar rasa sakit hatimu terobati."
__ADS_1
"Ya, tapi aku tidak ingin kamu terlalu menyakitinya."
"Kamu tenang saja!"
Semua terkesiap setelah mendengar rekaman itu, mereka menatap tak percaya ke arah Ana bahkan airmata Rania langsung terjatuh begitu saja, dia tidak menyangka jika Ana akan setega itu kepada dirinya.
"Maafkan Kakak, Ran. Kakak benar-benar sangat menyesal." Suara Ana terdengar penuh sesal, Kenan segera melepaskan tangannya dan menatap Ana yang sedang menunduk di selingi isak tangisnya.
"Kenapa Kakak bisa setega itu pada Rania? Apa salah Rania, Kak?" Alvino menarik tubuh Rania masuk ke dalam dekapannya tetapi Rania berusaha keras melepaskan pelukan itu.
"Biarkan aku memelukmu sebentar saja," bisik Alvino membuat Rania terdiam pada posisinya, hanya airmata yang mengalir membasahi pipinya.
"Aku tidak peduli kamu akan kecewa atau tidak, Ken. Karena aku tahu kamu hanya mempedulikan Rania saja."
"Kak, aku minta maaf kalau aku sudah menyakiti hati Kakak," ucap Rania lirih, dia melepaskan pelukan Alvino dan berjalan mendekati Ana.
"Berhenti Ran! Aku tidak mau kamu dekat denganku. Apa kamu tahu Ran? Kalau aku sangat iri padamu, aku sangat cemburu dengan perhatian semua orang padamu!" Suara Ana meninggi, Rania bisa melihat kedua bola mata Ana yang mengeluarkan airmata itu terlihat sangat terluka.
__ADS_1
"Dari kecil kamu selalu bisa membuat papa bangga dengan segala prestasimu, dia selalu memujimu tapi aku? Apa yang bisa aku banggakan, Ran? Apa!" Ana memukul dadanya yang terasa begitu sesak.
"Maafkan Rania kak," ucap Rania lirih, tetapi isak tangisnya terdengar mengeras.
"Ran, aku benci saat semua orang hanya mencintaimu saja! Papa, Al, Kenan dan Bi! Kenapa semua berebut memperhatikanmu tanpa ada satu pun yang peduli dengan kehadiranku. Kenapa Ran? Kenapa!" Tuan Sandi tanpa sadar menitikkan airmatanya saat mendengar segala ucapan Ana.
"Kak, kamu juga membuat papa bangga karena kamu bisa menjadi Kakak yang baik untukku. Soal Bi, aku hanya menganggapnya sahabat tidak lebih, sedangkan kak Kenan bagiku dia hanyalah sebatas Kakak tidak lebih," jelas Rania pelan.
"Bagaimana dengan Al?!" tanya Ana, tetapi Rania hanya diam tidak menjawab.
"Kak ...." Rania menatap ke arah Ana tetapi Ana seolah menatap benci kepadanya.
"Ran, kamu tidak akan pernah tahu bagaimana terlukanya aku saat mendengar orang yang sangat aku sayangi akan melamarmu satu bulan lagi." Semua menatap ke arah Ana, termasuk Kenan yang berada di sampingnya.
"Kamu mencintai Kenan?" tanya Rania tak percaya.
"Ya! Aku sudah jatuh cinta dengan Kenan sejak pertemuan pertama kita luar negeri, tetapi aku selalu di buat sakit hati dengan kemesraan kalian berdua. Apalagi, sebentar lagi Kenan akan melamarmu dan dengan bangga papa mengatakannya di depanku. Aku sakit Ran! Hatiku sangat sakit!" Satu tangan Ana memukul dadanya sedangkan satu tangan lainnya berusaha mengusap airmatanya.
__ADS_1
"An, aku tidak pernah mengatakan siapa yang akan aku lamar satu bulan lagi karena aku ingin membuat kejutan untukmu, tetapi sekarang kamu benar-benar sudah membuat aku kecewa!" Ucapan Kenan membuat Ana segera mengalihkan pandangannya ke arahnya.