
Hampir tengah malam, Alvino baru saja masuk ke kamarnya dan dia melihat istrinya sudah terlelap di balik selimut yang menutupi sebatas pinggang. Dia berjalan mendekat ke tempat tidur dan dengan perlahan naik ke atas sana. Senyum di bibirnya terlihat terbit saat tangannya mengusap lembut pipi istrinya yang terlihat damai dalam tidurnya.
"Aku mencintaimu." Alvino mengecup lembut kening Rania, hingga Rania menggeliat perlahan.
"Kamu sudah pulang, Kak?" tanya Rania terkejut saat ia membuka kedua bola matanya.
"Tidurlah, ini sudah malam. Aku pun sudah sangat lelah." Alvino memasang wajah datar dan tidur berbalik membelakangi Rania. Hati Rania terasa mencelos saat melihat sikap Alvino yang menjadi begitu dingin padanya. Dia memandang punggung suaminya yang masih memakai kemeja kerjanya.
Tanpa banyak bicara, Rania memeluk tubuh Alvino dari belakang dan menghirup aroma tubuh suaminya. Namun, Rania kembali terdiam saat mencium bau parfum wanita dari kemeja yang di kenakan sang suami.
"Tidurlah, Kak. Kamu pasti sangat lelah," ucap Rania lirih sambil mengeratkan pelukannya. Dia berusaha sekuat mungkin agar tidak menangis saat ini. Kenapa aku cengeng sekali? Bukankah harusnya aku menangis bahagia karena mimpiku menjadi nyata.
Alvino yang merasakan pelukan Rania di perutnya mengerat, hanya bisa diam dan berpura-pura tidur. Sebenarnya dia merasa sangat bersalah, tapi mau bagaimana lagi? Dia sudah terlanjur melangkah dan tidak mungkin mundur lagi. Meskipun dia sekuat tenaga menahan rasa sakit di hatinya saat mendengar isakan lirih dari Rania.
Pagi hari, Rania terkejut saat membuka matanya, ia melihat Alvino sudah terlihat sangat rapi. Ia menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya dan segera turun dari tempat tidur.
"Kak, maaf aku kesiangan," kata Rania panik.
"Tidurlah lagi, ini masih pagi," ucap Alvino tanpa menoleh dari cermin di depannya. Rania segera melihat jam di dinding kamar, matanya membola saat melihat jam baru menunjukkan pukul enam pagi. Ia beralih menatap ke arah suaminya yang hendak pergi dari kamarnya.
"Kamu mau ke mana, Kak? Bukankah ini hari minggu?" tanya Rania heran.
__ADS_1
"Ada proyek di luar kota yang tersendat dan aku harus mengeceknya saat ini juga. Maafkan aku harus pergi," sahut Alvino yang sudah berdiri di ambang pintu.
"Tapi Kak, kenapa Kak Kenan memintaku menemaninya memberi kejutan lamaran untuk Ana? Apa Kak Al tidak pergi bersama Kak Kenan?" Pertanyaan Rania membuat Alvino menghentikan langkah kakinya.
"Aku pergi sendirian. Oh iya, kamu temani Kenan saja ya. Dia kemarin sudah meminta izin padaku."
"Baik, Kak." Rania diam membisu saat melihat kepergian Alvino begitu saja tanpa mengucapkan selamat tinggal ataupun sebuah kecupan di keningnya, yang sudah menjadi rutinitas mereka setelah berstatus suami istri.
"Hati-hati di jalan, Kak," gumam Rania dengan senyum yang begitu terpaksa. Dia mengigit bibir bawahnya saat merasakan rasa sesak yang terasa menghantam dadanya. Bahkan, tanpa sadar sudut matanya mengeluarkan cairan bening yang mulai mengalir membasahi pipinya.
Rania beranjak bangun dan berjalan menuju ke kamar mandi. Dia harus membersihkan tubuhya dan segera membantu Kenan yang akan memberi kejutan pada Ana siang nanti.
"Al, kamu kenapa?" tanya Anin saat melihat sepupunya yang terlihat begitu gelisah.
"Entahlah Nin, perasaanku tiba-tiba tidak tenang dan teringat Rania terus-menerus. Aku merasa sudah sangat keterlaluan padanya," ucap Alvino menyesal.
"Tenanglah, bukankah setelah ini kalian akan baik-baik saja. Lagipula, istrimu kan sedang bersama Kenan." Anin menepuk pundak Alvino perlahan.
"Ya, pasti sekarang Kenan dan Ana sedang bertukar cincin tunangan mereka." Alvino menghela napas panjangnya. Saat ia sedang memijat pelipisnya, tiba-tiba ponsel di saku celananya berbunyi. Alvino segera mengambil ponselnya, tapi keningnya mengerut saat melihat Kenan yang menghubunginya saat ini.
"Hallo, Ken."
__ADS_1
"Al, bisakah kamu datang ke tempat acaraku? Rania terluka dan tidak sadarkan diri." Suara Kenan terdengar begitu cemas.
"Apa kamu bilang, Ken? Katakan sekali lagi!" teriak Alvino hingga membuat Anin yang berada di sampingnya terjengkit kaget.
"Al, maafkan aku tidak bisa menjaga Rania dengan baik. Dia tidak sengaja terpeleset minuman yang tumpah dan sekarang tidak sadarkan diri," ucap Kenan lirih.
"Aku kesitu sekarang, kalau sampai terjadi apa-apa dengan Rania. Aku tidak akan segan-segan membunuhmu, Ken!" bentak Alvino langsung mematikan panggilan itu. Dia beranjak bangun dan bergegas pergi menuju ke mobilnya.
"Al, kamu mau ke mana? Bagaimana dengan semua ini?" tanya Anin sambil mengejar langkah kaki Alvino.
"Aku harus segera menemui Rania, Nin. Dia sedang terluka saat ini." Tanpa menunggu respon Anin, mobil Alvino melaju dengan kencang meninggalkan Anin yang hanya diam berdiri di tempatnya.
"Alvino-Alvino, kamu bucin sekali. Persis seperti Om Davin," gerutu Anin sambil memutar bola matanya malas. Dia segera berjalan masuk dan menyelesaikan pekerjaannya.
...🍫🍫🍫🍫...
Semoga Rania baik-baik saja, ya.
Oh iya, ada yang kangen enggak nih? Nih buat pengobat rindu yang kangen sama Alvino dan Rania
jangan lupaa, dukungan kalian Author pantau 😉
__ADS_1