Mutiara Hati Alvino

Mutiara Hati Alvino
102


__ADS_3

Di sebuah restoran, Alvino sedang duduk berdua bersama Katty di salah satu meja restoran. Mereka terlihat begitu serius membahas kerjasama. Katty sengaja mengajak Alvino bertemu saat ini, karena siang hari dia harus mendadak pergi ke luar negeri. Tanpa mereka tahu, tidak jauh dari tempat mereka duduk. Ada dua pasang mata yang sedari tadi mengawasi gerak gerik mereka.


"Lihatlah, Nyonya. Tuan Muda meninggalkan Anda demi berkencan dengan Nona Katty," bisik Felisa berusaha memanasi Rania.


"Fel, aku yakin kalau mereka benar-benar sedang membahas masalah kerjasama," kata Rania. Dia berusaha meyakinkan hatinya sendiri kalau suaminya tidak akan mungkin mengkhianatinya.


"Kenapa Anda seyakin itu?" tanya Felisa.


"Fel, setiap hubungan harus di landasi dengan kepercayaan dan aku percaya kalau suamiku tidak akan mungkin mengkhianatiku," timpal Rania. Felisa menghembuskan napas kasar.


"Lihatlah, Nyonya. Nona Katty adalah pemilik perusahaan besar. Dia adalah wanita idaman pria. Postur tubuh, karir dan kepintarannya sudah diakui. Banyak lelaki yang berusaha ingin mendapat hatinya." Felisa masih berusaha menyulut emosi dan api cemburu di hati Rania.


"Lebih baik kita pulang, Fel. Biar aku tanyakan pada Kak Al nanti." Rania bangkit berdiri diikuti Felisa yang terlihat begitu kesal. Namun, baru saja Rania hendak melangkah pergi, suara pekikan dari arah belakang berhasil mengalihkan perhatian Rania. Setelah berbalik tubuh Rania mematung saat melihat Alvino sedang memeluk tubuh Katty dengan erat. Hati Rania terasa mencelos, apalagi saat melihat kedua tangan Alvino yang memegang pinggang Katty dengan mesra. Seringai tipis terlihat di sudut bibir Felisa saat melihat wajah Rania yang terlihat sendu.


Rania berjalan mendekati tempat Alvino yang masih betah memeluk tubuh Katty. "Kak Al," panggil Rania dengan suara lirih.


Alvino segera melerai pelukannya, menjauhkan tubuhnya dari tubuh Katty. Dia berbalik dan terkejut saat melihat Rania sedang berdiri di depannya saat ini dengan mata yang sudah terlihat berkaca-kaca. "Sayang, kamu di sini?" tanya Alvino gugup. Dia berjalan mendekati Rania yang sedang melangkah mundur.

__ADS_1


"Berhentilah, Kak," pinta Rania. Alvino segera menghentikan langkahnya.


"Dia siapa, Tuan?" tanya Katty bingung. Dia merapikan bajunya yang sempat kusut.


"Nona Katty, perkenalkan dia Rania Sandijaya. Istri saya tercinta," sahut Alvino. Kedua tangan Felisa mengepal erat saat Alvino dengan terang-terangan mengakui status Rania.


"Salam kenal, Nona. Saya Katty rekan bisnis Tuan Alvino." Rania sedikit mendongak, melihat tangan Katty yang terulur ke arahnya. Dia menatap ke arah Alvino yang sedang mengangguk. Rania pun membalas jabatan tangan Katty.


"Rania," ucap Rania dengan lirih. Alvino mendekati tempat Rania berdiri. Dia merangkul pundak Rania dan mencium pipi Rania dengan mesra.


"Maafkan aku, Kak." Rania menunduk karena merasa tidak enak hati. Alvino menangkup kedua pipi istrinya dan menghujaminya dengan ciuman. Wajah Rania terlihat merona merah karena malu saat dirinya menjadi pusat perhatian banyak orang.


"Wah, kalian benar-benar pasangan yang sangat romantis," puji Katty. Alvino dan Rania hanya menanggapi dengan senyuman.


"Oh iya, Sayang. Bagaimana kamu bisa ada di sini? Dengan siapa kamu ke sini?" tanya Alvino heran.


"Aku tidak enak makan di rumah sendirian. Jadi, aku mengajak Felisa untuk sarapan di sini. Aku tidak tahu kalau kamu juga sedang berada di sini," sahut Rania berbohong. Dia memalingkan wajahnya tidak berani menatap wajah suaminya sama sekali.

__ADS_1


"Felisa?" tanya Alvino mengerutkan keningnya. Raut wajah Alvino mendadak datar saat melihat Felisa sudah berdiri di dekat mereka.


"Ya sudah, kalau begitu kita sarapan dulu. Aku yakin kamu pasti belum jadi sarapan," kata Alvino dengan lembut. Dia berusaha tersenyum di depan Rania meskipun matanya melirik tajam ke arah Felisa.


Alvino tersenyum melihat istrinya yang sedang makan dengan sangat lahap. Namun, ekor matanya tetap mengawasi Felisa yang sedari tadi memasang wajah kesal. "Sayang, aku ke toilet dulu," pamit Alvino. Dia mencium pipi Rania sebelum pergi dari sana, sedangkan Rania hanya mengangguk mengiyakan.


Alvino sebenarnya tidak pergi ke toilet, dia hanya berdiri cukup jauh dari mejanya tadi. Dia mengambil ponselnya dan menghubungi nomor Mike.


"Hallo, Tuan," sapa Mike dari seberang.


"Mike, aku ada tugas untukmu. Cari tahu siapa Felisa sebenarnya dan awasi dia serta suruh dua anak buahmu untuk menjaga istriku. Entah mengapa aku merasa ada yang tidak beres dengan Felisa," perintah Alvino. Setelah Mike menanggapi, Alvino segera mematikan panggilan itu.


Aku akan diam selama kamu tidak berbuat macam-macam. Namun, sekali saja kamu melukai orang yang aku sayang. Nyawamu yang akan menjadi taruhannya. Alvino meremas ponselnya dengan cukup kuat.


...🍫🍫🍫🍫...


Dukungannya jangan lupaa 😊

__ADS_1


__ADS_2