Mutiara Hati Alvino

Mutiara Hati Alvino
105


__ADS_3

Rania yang sudah kembali ke rumah, merasa sangat kesal dengan suaminya yang sangat membatasi apa pun yang dia lakukan. Dia benar-benar tidak boleh melakukan apa pun. Bahkan, Alvino menyuruh Maya—anak Mbok Nah untuk bekerja di rumahnya, mengurus segala keperluan Rania. Entah mengapa, Alvino lebih mempercayakan Rania dengan Maya daripada Felisa.


"Nyonya, Anda ingin makan sesuatu?" tanya Maya saat sedang menemani Rania yang duduk di ruang keluarga, menunggu kepulangan suaminya.


"Tidak, May. Nanti kalau aku menginginkan sesuatu, pasti aku akan bilang padamu," sahut Rania tanpa mengalihkan pandangannya dari layar televisi. Ponsel Rania tiba-tiba berdering. Wajah Rania terlihat semringah saat melihat nama suaminya tertera di layar, dengan gerakan cepat Rania segera mengangkat panggilan itu.


"Kak, aku kangen," kata Rania dengan manja.


"Aku juga kangen sama kamu. Sayang, maafkan aku malam ini aku akan pulang malam."


"Kenapa?" tanya Rania kecewa.


"Hari ini Nona Katty ulang tahun dan aku sudah berjanji untuk datang. Aku akan datang bersama Kenan." Alvino berbicara dengan sangat hati-hati karena dia tahu orang yang hamil itu sangat sensitif.


"Apa kamu akan pulang sangat malam?" Suara Rania terdengar begitu pelan.

__ADS_1


"Tidak, aku usahakan jam 9 malam sudah pulang. Kamu jangan menungguku, aku tidak ingin kamu begadang. Ingat, Sayang. Ada nyawa yang harus kamu jaga. Aku matikan dulu. Aku mencintaimu."


Rania semakin terlihat kecewa, belum juga dia selesai berbicara panggilan itu sudah terputus begitu saja. Saat dirinya mencoba menghubungi lagi, nomor ponsel suaminya tidak bisa dihubungi sama sekali.


"Apa ada sesuatu, Nyonya?" tanya Maya saat melihat wajah Rania yang tampak begitu muram.


"Kak Al malam ini pulang telat karena mau menghadiri acara ulang tahun Nona Katty," sahut Rania lesu. Padahal Rania sudah sangat merindukan bau tubuh suaminya. "Maya, maukah kamu membelikan aku martabak manis rasa coklat keju?" pinta Rania.


"Baik Nyonya." Setelah menerima uang dari Rania, Maya segera pergi membeli martabak pesanan ibu hamil itu.


"Kamu mau ke mana, Fel?" tanya Rania heran.


"Saya izin mau pergi keluar sebentar, Nyonya. Ada urusan yang sangat penting. Sebelum jam sembilan saya sudah pulang, Nyonya."


"Baiklah, hati-hati, Fel." Rania yang sedang dalam suasana hati yang buruk hanya mengiyakan tanpa bertanya lebih detail ke mana Felisa akan pergi.

__ADS_1


Kenapa perasaanku tidak enak sekali? Batin Rania. Dia berpindah ke kamar dan merebahkan tubuhnya di atas tidur. Rania berusaha memejamkan matanya, tapi setiap kali matanya terpejam, bayangan Alvino bersama Katty seolah mengusik pikirannya.


Rania menoleh ke arah pintu saat mendengar pintu itu diketuk dari luar. Maya masuk ke kamar dengan membawa bungkusan martabak di tangannya. Namun, Rania seolah tak lagi berselera melihat makanan manis dengan taburan mesis coklat dan keju di atasnya.


"Makan kamu saja, May. Aku sudah tidak berselera lagi," kata Rania sambil menyerahkan kembali bungkusan martabak itu kepada Maya.


"Tapi Nyonya—"


"Kalau tidak mau, kamu bawa ke belakang saja. Kasih untuk siapa saja yang mau," suruh Rania. Maya hanya mengiyakan perintah majikannya tanpa membantah sedikit pun. Dia bisa melihat suasana hati Nyonya muda-nya yang terlihat tidak baik-baik saja. Setelah kepergian Maya, ponsel Rania berbunyi. Ada satu pesan masuk dari nomer yang tak dikenal.


Segera datang ke hotel XX dan lihat apa yang dilakukan suamimu.


Kening Rania mengerut saat membaca pesan itu. Namun, saat dia membuka pesan gambar dari nomor itu, tubuh Rania langsung menegang. Bahkan ponselnya sampai jatuh ke lantai. Terlihat sebuah gambar dua orang yang sedang bergelung dibawah selimut tanpa sehelai kain pun.


"Mana mungkin Kak Al sejahat itu padaku. Aku harus memastikannya," gumam Rania. Dia segera keluar kamar dan meninggalkan ponselnya yang tergeletak di lantai begitu saja.

__ADS_1


__ADS_2