
Dekorasi pesta terlihat menghiasi ruang tamu Mansion Bagaskara, tempat Anin akan melangsungkan acara lamaran. Keluarga Bagasakara memang sengaja tidak memesan gedung, mengingat kondisi Tuan Bagas yang sering sakit-sakitan semenjak meninggalnya mama Resti.
Keluarga Alexander sudah berkumpul di mansion, kecuali Nadira yang memang tidak berniat datang. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam, seluruh anggota keluarga dan beberapa kerabat keluarga yang di undang sudah berkumpul di ruangan itu. Mereka tinggal menunggu calon suami Anin yang sedang dalam perjalanan.
"Kamu yakin Nathan akan datang?" tanya Ronal, dia melirik jam di pergelangan tangan.
"Yakin, Pa. Aku sudah menghubunginya dan sebentar lagi dia akan sampai," sahut Anin. Dia tidak mengalihkan pandangannya dari ponsel di tangannya.
"Apa lukanya sudah sembuh?" tanya Ronal lagi. Dia merasa tidak yakin jika Nathan akan datang menemui putrinya.
"Papa tenang saja, ya. Sudah duduk saja, lima menit lagi dia akan sampai." Anin mengusap lengan Ronal lalu menyandarkan kepalanya di sana. Ronal merangkul tubuh Anin dan mendaratkan ciuman di puncak kepala putri semata wayangnya.
"Papa tidak menyangka, sepertinya baru kemarin Papa menimang kamu, tapi sebentar lagi Papa harus melepasmu menjadi milik orang lain," kata Ronal sembari mendaratkan ciuman di pipi Anin.
"Pa, jangan cium-cium! Lihatlah mama yang menatap cemburu ke arah kita," seloroh Anin. Sisil hanya tersenyum menatap putrinya yang sedang bermanja dengan Ronal. Dia sudah tidak heran dengan kedekatan mereka, karena sedari kecil Anin lebih lengket dengan sang papa daripada dengan dirinya.
"Eh, Ran. Kamu sudah hamil belum?"
"Uhuk uhuk." Rania tersedak setelah mendengar pertanyaan Anin.
__ADS_1
"Hati-hati, Sayang." Alvino mengusap punggung Rania dengan perlahan. "Anin, bisakah kamu memberikan pertanyaan yang tidak membuat istriku tersedak?" Anin melongo mendengar omelan Alvino.
"Ya Tuhan, Al. Virus kebucinan Dad Davin ternyata sudah menular kepadamu, Al." Anin terlihat berusaha menahan tawanya.
"Lihatlah siapa yang datang," kata Alvino mengalihkan perhatian semua orang. Mereka semua menatap ke arah pintu dan melihat Nathan sedang berjalan dengan gagah bersama keluarganya.
"Selamat datang, Jo," sambut Davin.
"Terima kasih, Tuan." Jo menyalami keluarga Alexander dan Bagaskara bergantian.
"Hai, Nat. Kamu sudah sehat?" tanya Anin saat Nathan sudah duduk di dekatnya.
"Ehem!" Nathan menghentikan gerakannya saat mendengar suara yang sangat familiar di telinganya.
"Kak Rayhan, Kak Nico." Nathan bangkit berdiri. Namun, sesaat kemudian dia menjerit kesakitan saat Rayhan menjewer telinganya dengan kencang.
"Sakit, Kak." Nathan berusaha melepaskan jeweran Rayhan.
"Calon istri orang jangan di genitin, Nat! Kamu tidak takut diterkam singa lapar!" omel Rayhan. Nathan melirik ke arah Nico yang sedang menatap ke arahnya.
__ADS_1
"Maaf ya, Abang Nico. Sahabat Kak Rayhan yang paling tampan, meskipun sebenarnya aku yang tertampan. Aaaaa." Nathan kembali menjerit saat jeweran Rayhan terasa semakin kencang.
"Ray, lepaskan tanganmu," suruh Queen yang berdiri di samping Rayhan. Dengan segera Rayhan menuruti perintah Queen, dia tersenyum lebar saat melihat telinga Nathan yang memerah.
"Kalian duduklah. Biar acara segera dimulai," perintah Jo. Mereka pun duduk dengan tenang.
Nicolas Abraham-sahabat Rayhan adalah putra tunggal Tuan Abraham, seorang pengusaha sukses yang kini tinggal di Perancis. Keluarga Nicolas berhalangan hadir, sehingga mereka meminta Keluarga Saputra untuk mewakili mereka. Sebenarnya, Nicolas sudah mencintai Anin sejak dulu, tapi Anin selalu menolaknya. Namun kini, Anin yang berkali-kali gagal menjalin hubungan kekasih, akhirnya menerima Nicolas karena ia melihat Nicolas yang sangat mencintainya dengan tulus.
Acara lamaran itu berjalan dengan sangat lancar dan pernikahan mereka akan digelar tiga bulan lagi. Di saat mereka semua sibuk menikmati hidangan yang sudah di sajikan, Nathan justru sibuk menatap foto Keluarga Bagaskara yang tergantung di tembok. Nathan menatap lekat wajah gadis yang sedang tersenyum lebar diampit oleh kedua orang tuanya. Dia menyandarkan kepalanya di sofa dan memejamkan kedua matanya.
"Aku sangat merindukanmu."
...🍫🍫🍫🍫...
Terima kasih Thor, Anin ternyata tidak tunangan dengan Nathan.
Team NN, silahkan kalian bernapas lega ya 🙊
Dukungannya jangan lupaa lohh
__ADS_1