Mutiara Hati Alvino

Mutiara Hati Alvino
76


__ADS_3

Nathan yang berniat ingin mengajak Nadira makan malam, justru melemparkan ponselnya ke sembarang tempat setelah Nadira memutus panggilannya begitu saja. Sebenarnya, bukan karena itu yang mengganggu pikirannya, tapi karena ucapan Nadira yang menyuruh Dion melamarnya, sungguh membuat hatinya tidak tenang.


Nathan yang baru saja pulang kerja belum lama, segera mengambil jaket yang tergantung di lemarinya lalu berjalan keluar dari kamarnya.


"Kamu mau kemana, Nat?" tanya Mila yang sedang menata makanan di atas meja.


"Bunda, Nathan ada kepentingan. Mungkin Nathan tidak akan ikut makan malam. Ayah di mana?" tanya Nathan sambil celingukan mencari keberadaan ayahnya.


"Ayah sedang mandi. Jangan pulang terlalu larut. Ingat besok kamu masih harus bekerja," nasihat Mila. Nathan mengangguk pelan, lalu mencium pipi Mila. Setelah itu, dia berangkat pergi untuk mendinginkan hati dan pikirannya yang terasa panas.


Nathan yang tidak memiliki tujuan, segera membelokkan motornya menuju ke rumah sahabatnya yang kebetulan tidak jauh dari tempatnya berada saat ini. Setelah memarkirkan motornya di halaman rumah Alvino, Nathan yang hendak berjalan menuju ke pintu, langsung menghentikan langkahnya saat melihat Alvino dan Rania yang sedang keluar dari rumah.


"Kalian mau ke mana?" tanya Nathan saat mereka berdua sudah berada dekat dengannya.


"Kamu di sini, Nat? Aku mau ke Mansion Alexander. Mommy menyuruhku makan malam bersama. Kamu mau ikut?" Nathan tidak langsung menjawab karena masih bimbang.

__ADS_1


"Kamu lama, Nat!" Alvino masuk ke dalam mobil bersama Rania di sampingnya.


"Lain kali saja, Al. Aku masih ada urusan," sahut Nathan, dia kembali naik ke atas motornya dan segera pergi dari rumah Alvino. Nathan melajukan motornya mengikuti alur jalan, karena dia sendiri tidak tahu ke mana arah dan tujuannya saat ini.


"Lebih baik aku makan saja lah, daripada aku mati kelaparan," gumam Nathan sambil memarkirkan motornya di depan sebuah restoran. Setelah turun dari motor, ia segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan. Namun, baru saja dirinya berdiri di depan pintu restoran. Seorang pasangan yang sedang bertengkar terasa menganggu penglihatannya.


"Hei! Kalau berantem jangan di tempat makan, kalian bikin selera makan orang lain jadi ... Anin!" pekik Nathan saat melihat gadis yang sedang bertengkar itu ternyata Anin.


"Nathan!" Anin berlari ke tempat Nathan dan merangkul pinggang Nathan begitu saja.


"Aku?" Nathan menunjuk dirinya sendiri. "Kamu tidak tahu siapa aku? Dasar kampungan!" hina Nathan dengan seringai tipis di sudut bibirnya.


"Lancang sekali mulutmu! Ada hubungan apa kamu dengan kekasihku?" tanya pria itu dengan sorot mata yang begitu tajam.


"Aldo! Kamu harus ingat kalau kita sudah tidak punya hubungan apa-apa! Hubungan kita sudah berakhir sejak kamu tidur dengan Bianca! Wanita murahanmu itu!" Anin menunjuk ke arah wanita yang berdiri tidak jauh dari mereka.

__ADS_1


"Kurang ajar sekali! Kamu itu yang murahan! Kamu itu tidak lebih dari seorang jal*ng! Ahh!" Tubuh Aldo jatuh terpelanting cukup jauh setelah Nathan memukulnya tanpa persiapan.


"Bang*at!" Aldo yang sudah dipenuhi emosi, segera berdiri dan memukul Nathan balik, tapi Nathan masih bisa menghindar. Mereka berdua pun beradu kekuatan otot mereka. Bahkan mereka tidak peduli meskipun saat ini mereka sudah menjadi pusat perhatian.


Anin yang panik, segera menghubungi Alvino tapi panggilannya tidak diangkat sama sekali. Akhirnya, Anin menghubungi Aluna karena jika dia menghubungi papanya. Yang ada masalahnya akan semakin ribet karena papanya sangat keras juga tegas.


"Aunty, bisa tolong Anin. Nathan sedang berantem sama mantan kekasih Anin." Suara Anin terdengar begitu gugup.


"Bagaimana bisa? Aunty ke situ sekarang." Setelah panggilan itu terputus, Anin segera mengirim lokasinya saat ini. Dia menoleh ke arah Nathan yang sudah mendapatkan luka lebam di beberapa bagian wajahnya, dan Aldo juga mendapatkan luka yang hampir sama.


"Berhenti kalian! Atau aku akan bunuh diri saat ini!" teriak Anin menghentikan perkelahian Nathan dan Aldo. Mereka berdua terkejut saat melihat Anin yang sedang mengarahkan pisau makan ke arah ulu hatinya. Nathan yang panik segera berlari mendekati Anin dan memeluknya erat.


"Jangan bertindak bodoh!" omel Nathan. Namun, Nathan terdiam saat merasakan kepalanya begitu pusing , bahkan pandangan matanya mulai terlihat berkunang-kunang.


"Aku pusing banget, Nin. Kayaknya aku mau pingsan," ucap Nathan lirih sambil memijat pelipisnya untuk mengurangi rasa pusing di kepalanya.

__ADS_1


"Nathan kamu yang benar saja!" Anin kembali panik saat tubuh Nathan terasa berat menimpanya. Beberapa pengunjung restoran pun ikut menolong Nathan yang sudah tidak sadarkan diri, sedangkan Aldo justru kabur bersama Bianca.


__ADS_2