Mutiara Hati Alvino

Mutiara Hati Alvino
18


__ADS_3

"Maaf ya aku lama," kata Alvino yang baru saja kembali, dia mendudukkan tubuhnya lagi di kursi tempat semula dia duduk.


"Tidak apa-apa kok, Al," jawab Ana, sedangkan Rania hanya fokus pada makanannya.


"Besok malam acara peresmian Nathan jadi CEO, kalian pasti di undang kan?" tanya Alvino, bibir Alvino menyeruput kopi yang tinggal setengah cangkir.


"Datang dong, bahkan Rania akan menyumbangkan suaranya lagi. Iya kan, Ran?" tanya Ana antusias, Rania hanya menganggukkan kepalanya.


"Wah, bagus dong. Mommy aku sangat menyukai suara Rania. Kamu tidak ikut bernyanyi, An?"


"Tidak, aku tidak berbakat dalam hal itu, Al," sahut Ana.


"Tetapi kamu berbakat dalam hal lain kan? Kamu hebat dalam balapan," puji Alvino, senyum di wajah Ana langsung terbit begitu saja.


"Terima kasih pujiannya Al, padahal aku masih kalah sama kamu. Rania juga hebat dalam balapan," kata Ana tanpa sadar. Alvino berpura-pura memasang wajah kaget.


"Kak," panggil Rania berusaha menyadarkan Ana kalau dia sudah keceplosan. Wajah Ana langsung terlihat gugup.


"Rania juga hebat dalam balapan?" tanya Alvino ingin tahu.


"Ya, balapan karung kalau sedang ada lomba tujuh belasan. Haha," sahut Ana dengan tertawa.


"Astaga, aku kira balapan motor." Alvino menggelengkan kepala tidak percaya.


"Kakak kok bikin aku malu sih," rajuk Rania, entah mengapa melihat Rania yang seperti itu membuat Alvino menjadi begitu gemas.


"Kan memang benar, Ran. Sebelum kita keluar negeri dulu, kamu setiap lomba balap karung selalu menang," kata Ana, dia seolah merasa bangga dengan adik kembarnya.


"Kalian pernah tinggal di luar negeri?" tanya Alvino penasaran. Belum sempat Ana menjawab, Rania sudah berdiri dari duduknya.


"Kak, Rania mau pulang." Ana dan Alvino menatap ke arah Rania.


"Sebentar lagi ya Ran, kan lagi asyik ngobrol," tolak Ana lembut.

__ADS_1


"Tidak, aku mau pulang sekarang. Kakak disini saja tidak apa-apa. Aku bisa pulang pakai taxi kok," jawab Rania, dia membenarkan kacamatanya yang sedikit melorot.


"Maaf ya Al, aku pulang dulu. Sampai bertemu besok di acara Kak Nathan ya," pamit Ana, dia beranjak bangun dari duduknya.


"Hati-hati di jalan," kata Alvino ramah. Ana menanggapi dengan senyuman, sedangkan Rania langsung berjalan pergi begitu saja.


"Huh! Kapan kamu bisa jujur padaku, Ran," gumam Alvino, dia pun ikut pergi dari caffe itu.


🍀🍀🍀🍀🍀


Mansion Alexander


"Mommy, Al pulang," teriak Alvino begitu dia sudah masuk ke dalam Mansion. Alvino melangkahkan kakinya masuk dan berhenti di ruang keluarga saat melihat kedua orang tuanya sedang duduk bersama Nadira dan Febian.


"Kamu sudah pulang, Al?" tanya Aluna saat melihat Alvino berjalan mendekat ke arahnya. Begitu sudah sampai di dekat Aluna, Alvino mencium pipi kanan dan kiri Aluna bergantian.


"Kenapa hanya Mommy yang kamu cium? Lagipula kamu sudah besar Al, sudah bukan waktunya kamu menciumi Mommy," kata Davin.


"Calon istri Nathan, lagi apa kamu? Serius amat," tanya Alvino menggoda, Nadira yang sedang duduk sambil sibuk menonton drama korea itu hanya mencebikkan bibirnya kesal.


"Calon istri Nathan apaan? Nadira tidak mau sama Kak Nathan," kata Nadira tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel.


"Kenapa? Bukankah Nathan baik, kamu juga sudah kenal Nathan dari dulu," tanya Aluna heran.


"Besok Kak Nathan juga bakal jadi Chief Executive Officer, memang kamu tidak mau punya suami seorang pemimpin perusahaan?" Febian yang sedari tadi diam kini ikut menggoda Nadira.


"Diamlah Bi, atau aku akan katakan ke Rania kalau kamu sudah mengagumi Rania dari kecil," kata Nadira begitu saja, Febian langsung membekap mulut Nadira dengan tangannya. Baik Davin, Aluna maupun Alvino menatap penuh tanya ke arah mereka berdua.


"Mulutmu ember sekali," kata Febian, dia benar-benar gugup.


"Kamu mengagumi Rania? Anak Tuan Sandi yang pandai menyanyi itu?" tanya Aluna penasaran.


"Bukan Mom, mulut Nadira saja yang asal bunyi kaya kentut," ketus Febian, sedangkan Nadira masih sibuk melepaskan bekapan tangan Febian yang begitu erat.

__ADS_1


"Jangan bohong, Bi," kata Alvino tegas, dia merasakan hatinya tak tenang saat Nadira mengatakan kalau Febian mengagumi Rania sejak kecil.


"Kalau kakak .... Auh!" teriak Febian kesakitan karena Nadira berhasil menggigit tangannya.


"Gigi kamu tajam banget sih?! Setajam gigi buaya betina," omel Febian sambil meniup tangan kanannya yang menunjukkan bekas gigi Nadira di sana.


"Kamu tuh yang buaya jantan, tiap minggu di kampus gonta ganti pacar terus." Nadira kembali keceplosan, Febian langsung mendelik ke arah Nadira, sedangkan mereka bertiga kembali menatap penuh tanya ke arah mereka berdua.


"Bi!" panggil Davin penuh penekanan.


"Apa Dad? Jangan percaya Nadira, dia suka bohong." Febian berusaha mengelak.


"Kapan aku bohong? Aku kan bicara apa adanya, memang kamu suka gonta ganti pasangan walaupun aku tahu, di hatimu hanyalah Rania seorang," goda Nadira, dia berbicara layaknya orang yang sedang membaca puisi, dengan cepat Nadira duduk di antara kedua orang tuanya.


"NADIRA!" bentak Febian kesal, bukannya takut, tetapi Nadira justru menjulurkan lidahnya mengejek Febian.


"Astaga, kalian berdua sedari kecil selalu saja bertengkar. Mommy pusing mendengarnya," kata Aluna, dia memijat keningnya dengan lembut.


"Nadira! Febian! Jangan bikin Mommy pusing, apa kalian tidak kasihan pada Mommy?" Davin mulai terlihat marah.


"Dasar Daddy bucin!" cibir Alvino, dia beranjak bangun meninggalkan mereka berempat yang menatap heran ke arah Alvino.


"Bukankah tadi Daddy tidak menyebut nama Alvino? Kenapa kakak kamu malah pergi?" tanya Davin bingung.


"Mungkin Al lelah Mas, apalagi sekarang tikus dan kucing ini sedang ribut," sahut Aluna, dia menatap ke arah Alvino yang menjauh dengan penuh arti.


Alvino yang baru masuk ke kamar langsung berjalan menuju balkon, dia berdiri di balkon itu sembari menatap langit yang telah gelap itu.


"Kenapa banyak sekali yang menyukai Rania? Kenan akan melamar Rania, Febian juga ternyata mengagumi Rania sejak kecil. Huh!" Alvino menghembuskan napas kasar.


"Bagaimana kalau Febian tahu jika Kenan akan melamar Rania? Pasti dia akan sangat sakit hati," gumam Alvino. Tatapan mata Rania tiba-tiba terlintas dalam ingatan Alvino, hingga Alvino merasakan jantungnya kembali berdebar-debar.


"Rania, Rania. Kamu benar-benar pemikat hati lelaki, tetapi kenapa kamu tidak berani jujur padaku? Padahal aku hanya ingin mengucapkan terima kasih karena sudah menolongku dulu." Alvino berjalan masuk kembali ke dalam kamar dan merebahkan tubuhnya di atas kasur secara kasar. Dia menatap langit-langit kamar dan berusaha memejamkan kedua matanya secara perlahan.

__ADS_1


__ADS_2