Mutiara Hati Alvino

Mutiara Hati Alvino
45


__ADS_3

Sementara itu, Aluna yang masih menemani Nadira di kamar segera mengalihkan pandangannya ke arah pintu saat mendengar suara pintu itu terbuka. Davin melangkahkan kakinya memasuki kamar Nadira dengan seutas senyum tersemat di bibirnya.


"Bagaimana Febian, Mas?" tanya Aluna tidak sabar.


"Semua sudah baik-baik saja dan aku yakin besok Bi akan meminta maaf sama Al," sahut Davin, dia mendudukkan tubuhnya di sebelah Nadira yang sedang tiduran.


"Daddy yakin?" tanya Nadira memastikan.


"Tentu saja."


"Apa yang Daddy katakan pada Bi?" Nadira terlihat begitu penasaran.


"Ya pokoknya ada dan kamu tidak perlu tahu. Sekarang kamu tidurlah karena udara malam tidak baik untuk anak kecil," goda Davin membuat Nadira mencebikkan bibirnya kesal.


"Dad! Nadira bukan lagi anak kecil, aku sudah besar!" ucap Nadira ketus dengan mengerucutkan bibirnya.


"Ya, Daddy tahu kamu sudah besar dan sudah waktunya kamu menikah dengan Nathan." Davin kembali menggoda, sedangkan Aluna hanya bisa menghembuskan napasnya secara kasar.


"Dad, Nadira masih kuliah belum mau mikirin nikah. lagi pula Nadira tidak mau sama kak Nathan."


"Kenapa?" tanya Aluna sambil mengerutkan keningnya.


"Dia genit!" sahut Nadira dengan wajah malas, kedua orang tuanya hanya bisa tertawa.


"Hati-hati nanti kemakan omongan sendiri. Ayo sayang kita ke kamar, sudah waktunya aku melatih otot-ototku," ajak Davin sambil menggandeng tangan Aluna dengan erat.

__ADS_1


"Kamu menyebalkan, Mas." Aluna menepuk lengan Davin dengan keras hingga Davin merintih kesakitan.


"Selamat malam dan selamat tidur princess," ucap Aluna lembut, dia dan Davin bergantian mencium kening Nadira lalu melangkah pergi keluar dari kamar itu.


"Dad, Mom. Ingat! Nadira sudah tidak mau punya adik lagi!" teriak Nadira saat kedua orang tuanya sudah sampai di ambang pintu.


"Tenang saja Nad. Daddy pastikan semua aman terkendali," sahut Davin dengan bibir yang tersenyum lebar.


"Mas!" Aluna mendelik ke arah suaminya membuat Davin menjadi begitu gemas.


"Aku mencintaimu, Sayang." Davin mencium puncak kepala Aluna lalu keluar dari kamar Nadira.


"Semoga besok semua sudah baik-baik saja," gumam Nadira sambil menatap pintu kamar yang baru saja tertutup rapat


Rumah Sakit Harapan.


"Bagaimana keadaan putri saya, Dok?" tanya Tuan Sandi setelah Rania selesai di periksa.


"Tidak ada yang serius, Tuan. Dia hanya shock saja, untuk luka nya nanti akan sembuh dengan sendirinya," terang dokter itu.


"Syukurlah." Tuan Bima menghembuskan napas lega seraya mengusap wajahnya. Dokter itu pun berpamitan keluar dari ruangan.


"Papa," panggil Ana lirih. Tuan Sandi menoleh ke arah Ana yang sedang berdiri menunduk di belakangnya.


"Tegakkan kepalamu, An!" perintah Tuan Sandi, dengan segera Ana mengangkat wajahnya dan melihat wajah papanya yang terlihat sangat kecewa.

__ADS_1


"Apa yang mau kamu katakan?" tanya Tuan Sandi sedikit menurunkan suaranya.


"Ana mau minta maaf, Pa. Ana sudah sangat salah karena menyakiti Rania dan Ana sudah melanggar janji Ana pada mama kalau Ana akan menjaga Rania dan tidak akan pernah menyakitinya," kata Ana lirih. Saat ini hatinya merasakan takut yang luar biasa, dia takut dengan kemarahan papanya dan juga dia sangat takut kehilangan Rania.


Tuan Sandi melangkahkan kakinya keluar ruangan tanpa mengeluarkan suaranya sedikit pun, sedangkan Ana hanya bergeming pada posisinya. Tatapan matanya beralih menatap ke arah Rania yang masih terbaring dengan mata terpejam dan wajah yang begitu pucat.


"Maafkan aku, Ran." Ana terisak, airmatanya keluar dari sudut matanya dan mengalir membasahi pipinya. Tiba-tiba terdengar suara pintu ruangan terbuka, tangan Ana dengan cepat menghapus airmatanya. Dia hanya berdiri menunduk tanpa berani menoleh ke arah pintu.


"Minumlah agar hatimu sedikit tenang." Ana mendongak, dia melihat papanya menyodorkan sebotol air mineral ke arahnya.


"Terima kasih, Pa." Ana meraih botol itu dan membukanya, dia menghabiskan setengah botol air mineral itu dalam sekali tenggak.


"Pa, Ana minta maaf," ucap Ana penuh sesal.


"Sudahlah, jangan terlalu di pikirkan. Semua bukan salah kamu sepenuhnya tapi salah Papa juga yang lebih sering memuji Rania padahal kamu juga sama hebatnya dengan Rania. Nanti kita bicarakan di rumah, sekarang kita harus fokus pada kesembuhan Rania terlebih dahulu," kata Tuan Sandi, dia menatap penuh sesal ke arah Rania yang masih terbaring. Apalagi saat dia melihat sudut bibir Rania yang membiru karena bekas tamparan.


"Bagaimana keadaan Rania, Tuan?" tanya Alvino dengan khawatir saat dia baru saja masuk ke dalam ruangan, sedangkan Kenan sedang mengantar Nathan untuk mengobati luka di lengannya agar tidak infeksi.


"Dia tidak apa-apa, hanya sedikit shock dan perlu istirahat," sahut Tuan Sandi, dia tersenyum saat melihat kekhawatiran terlihat jelas di wajah Alvino.


"Syukurlah." Alvino menghembuskan napasnya dengan lega.


"Al ... Al ...." Mereka bertiga mengalihkan pandangannya ke arah Rania yang masih memejamkan matanya tetapi mulutnya terus mengigau memanggil nama Alvino. Hati Alvino merasa tak karuan saat mendengar igaun Rania. Dia melangkahkan kaki lebarnya mendekati brankar yang di tiduri Rania.


"Aku di sini, Ran. Berjanjilah kamu harus baik-baik saja," ucap Alvino lirih sambil memegang tangan Rania dengan erat. Tuan Sandi dan Ana hanya terdiam dan menatap lekat ke arah mereka berdua.

__ADS_1


__ADS_2