Mutiara Hati Alvino

Mutiara Hati Alvino
12


__ADS_3

"Dad," panggil Alvino yang sedari tadi berdiri tidak jauh dari Davin.


"Mommy hilang," ucap Davin dengan sedih. Alvino.menghembuskan napasnya dengan kasar, sedangkan Nadira dan Febian hanya terdiam melihat ke arah Davin yang terlihat sangat frustasi.


"Mommy tidak hilang, Dad. Mommy sedang tidur cantik di ruang tamu." Davin berdiri tegak setelah mendengar ucapan Alvino.


"Bagaimana kamu bisa tahu?"


"Dad, mommy pergi belum ada setengah jam yang lalu. Tidak butuh waktu lama untuk memutar kebelakang tangkapan layar CCTV di Mansion ini, aku melihat mommy masuk kamar tamu dan belum keluar sampai sekarang. Jadi, Daddy tidak perlu susah-susah menyuruh uncle Jo untuk menyadap CCTV mansion ini," jelas Alvino panjang lebar. Alvino tersenyum mengejek kepada Davin yang akan selalu terlihat bodoh jika itu berhubungan tentang Aluna. Tanpa banyak bicara, Davin berjalan cepat ke kamar tamu. Davin mencoba membuka pintu itu, tetapi ternyata pintu itu di kunci dari dalam kamar.


"Sayang! Sayang!" panggil Davin sambil mengetuk pintu kamar berkali-kali dengan cukup keras, tetapi pintu kamar itu tidak terbuka sama sekali.


"Sayang, aku tahu kamu ada di dalam. Aku mohon, buka pintunya. Aku minta maaf sudah membentakmu tanpa sadar," teriak Davin tanpa lelah mengetuk pintu kamar itu.


ceklek


pintu kamar terbuka, menampilkan wajah Aluna yang masih acak-acakan karena Aluna sempat tertidur.


Davin memeluk tubuh Aluna dengan erat dan menciumi puncak kepala Aluna berkali-kali.


"Maafkan aku," ucap Davin sambil melerai pelukan mereka.


"Aku sudah memaafkanmu, Mas. Aku sudah tidak heran dengan kamu." Davin tersenyum tipis, dia menangkup wajah Aluna dan hendak mencium bibir Aluna.


"Dad! Jangan nodai mata suci kami!" pekik Alvino, Nadira dan Febian bersamaan sebelum bibir Davin dan Aluna saling menempel. Davin menjauhkan wajahnya dari wajah Aluna.


"Kalian belum tidur?" tanya Aluna menatap mereka bertiga bergantian.

__ADS_1


"Kita sudah akan tidur, Mom. Hanya saja, ada yang kelabakan mencari Mommy, dan waktu istirahat kita jadi terganggu," sindir Nadira sambil menatap Davin yang sedang tersenyum seolah tak berdosa.


"Ini sudah malam. Kalian bertiga kembalilah ke kamar dan istirahatlah," suruh Aluna, mereka bertiga beranjak pergi meninggalkan Davin dan Aluna.


"Sayang, aku harus menghukummu karena kamu sudah membuatku menjadi sangat khawatir," kata Davin, tangan Davin menggandeng tangan Aluna dan mengajaknya kembali ke kamar mereka. Aluna hanya diam menurut, karena Aluna tahu, hukuman yang akan diberikan Davin pasti hukuman yang bisa membuat dia maupun Davin ketagihan.


Sementara itu, Asisten Jo sedang duduk di atas kasur dengan memangku laptop. Mila yang duduk di sampingnya, ikut menatap ke laya laptop karena dia merasa penasaran, kemana sebenarnya Aluna pergi. Jari-jari Asisten Jo dengan lincah memencet keyboard laptop itu untuk menyadap CCTV di Mansion Alexander. Setelah CCTV berhasil tersadap, Asisten Jo memutar mundur ke belakang rekaman CCTV itu, dia membuang napas secara kasar saat melihat Aluna masuk ke dalam kamar tamu, bahkan sampai saat Davin menghubungi dirinya, Aluna sama sekali belum terlihat keluar dari kamar itu.


"Lihatlah, dari dulu sampai sekarang, Tuan Davin tetap saja terlihat bodoh jika menyangkut hal yang berhubungan dengan Nona Aluna." Asisten Jo menertawakan kebodohan Davin, Mila pun ikut tertawa. Akan tetapi, tawa mereka berdua seketika terhenti saat mata mereka menatap tampilan CCTV yang merekam kamar utama, di mana dua insan yang sudah tidak muda lagi, sedang berciuman panas di kamar mereka. Bahkan, baju tidur Aluna sudah hampir terbuka, sedangkan Davin sudah bertelanjang dada.


"Jangan melihat, Mas, aku takut kamu nanti kepengen," kata Mila, dia menutup kedua mata Asisten Jo.


"Kamu juga jangan melihat," timpal Asisten Jo, dia menutup layar laptop tanpa mematikannya terlebih dahulu. Sentilan tangan Asisten Jo, mendarat di kening Mila saat dia memergoki Mila yang sedang tersenyum sendiri karena melihat tubuh kekar Davin.


"Aku minta maaf, Mas. Aku masih seringkali khilaf." Mila menunjukkan rentetan gigi putihnya, sedangkan Asisten Jo menghela napas panjang. Asisten Jo mengambil ponsel yang tergeletak di sampingnya dan menghubungi nomer Davin. Panggilan itu tidak di angkat, tetapi Asisten Jo tetap memanggilnya dan saat Asisten Jo menghubungi ketiga kalinya, panggilan itu baru saja di angkat.


"Saya sudah tahu, Tuan. Bahkan, saya melihat Anda dan Nona Aluna yang hendak membuat adik untuk Febian," goda Asisten Jo dengan tawa mengejek.


"Sialan! matikan Jo?!" titah Davin dengan nada tinggi, tetapo Davim justru mendengar suara tawa dari seberang telepon.


"Selamat bersenang-senang Tuan. Saya melayani jasa gratis live streaming Tuan,"


"Jo! Kamu benar ...."


tut tut tut


Asisten Jo mematikan panggilan itu secara sepihak, dia merasa puas karena sudah membuat Davin menjadi kesal. Mila yang di samping Asisten Jo pun ikut tersenyum lebar.

__ADS_1


"Melihat Tuan Davin dan Nona Aluna seperti itu, adik kecilku langsung berdiri tegak," ucap Asisten Jo dengan seringai tipis di bibirnya.


"Jangan bilang kamu juga ingin kita olahraga malam ini, Mas," dengus Mila memutar bola matanya malas.


"Tidak juga," sahut Asisten Jo, bibirnya memberi ciuman di wajah Mila. Awalnya, Mila hanya diam, tetapi saat Asisten Jo menciumi lehernya dan kedua tangan Asisten Jo mer*as bukit kembarnya. Mila mendesah pelan, hingga akhirnya mereka berdua mengikuti jejak Davin dan Aluna yaitu olahraga malam tanpa busana.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


Ana dan Rania sedang duduk di ruang keluarga bersama papanya. Mereka duduk manja di samping kanan dan kiri Tuan Sandi. Tuan Sandi mengecup puncak kepala kedua putrinya secara bergantian.


"Sekarang kalian berdua sudah besar dan sebentar lagi Papa harus siap untuk melepas kalian jika kalian berdua telah menikah," ucap Tuan Sandi. Ana dan Rania menenggakkan tubuh mereka berdua.


"Papa kok bicara seperti itu! Aku dan Rania masih kuliah Pa." Ana menimpali ucapan Tuan Sandi.


"Apa di antara kalian belum ada yang memiliki tambatan hati? Rania, bagaimana hubungan kamu dengan Kenan, bukankah kamu sangat dekat dengan Kenan?" tanya Tuan Sandi lembut. Ana melengos saat mendengar pertanyaan Tuan Sandi untuk Rania, jika membicarakan soal Kenan, hati Ana akan langsung berdenyut sakit.


"Rania hanya menganggap Kenan seperti kakak, tidak lebih dari itu, Pa," sanggah Rania, Ana mengalihkan pandangannya menatap ke arah Rania.


"Benarkah? Kenan dua bulan lagi akan melamar salag satu putri Papa yang cantik, apa Kenan tidak mengatakan padamu?" tanya Tuan Sandi heran, Rania menggeleng perlahan, sedangkan Ana hanya diam merasakan hatinya yang semakin terasa sakit.


"Jangn-jangan Kenan akan memberi kejutan padamu. sepertinya Papa sudah keceplosan. Kamu pura-pura tidak tahu saja ya," ucap Tuan Sandi dengan suara khawatir.


"Papa jangan bercanda! Mana mungkin Kak Kenan bersedia menikahiku. Bukankah Papa tahu sendiri kalau tubuh Rania sudah tidak mulus lagi, Rania saja tidak berani jatuh cinta karena Rania takut akan terluka," ucap Rania sembari tersenyum getir, sedangkan Ana hanya mendengarkan percakapan mereka dengan perasaan yang gelisah.


"Kenan mengatakan kalau cinta tulus itu tidak memandang apapun, karena cinta itu tidak butuh alasan apapun. Papa yakin, Kenan pasti mencintaimu dengan tulus" ucap Tuan Sandi sambil memegang kedua bahu Rania. Rania hanya menunjukkan senyum simpulnya, sedangkan mata Ana mulai terlihat berkaca-kaca.


Aku harus siap menerima kenyataan bahwa Kenan memang bukan jodohku. Selama ini aku terlalu berharap lebih. Akan tetapi, jika Kenan menjadi suami Rania, aku akan bahagia melihat Kenan yang sangat menyayangi Rania, setidaknya ada yang menjaga Rania selain aku dan papa.

__ADS_1


__ADS_2