
Nathan masih terbaring koma di rumah sakit. Beberapa peralatan medis masih menempel di tubuhnya. Nadira yang hampir sepuluh menit berada di ruangan itu, hanya terdiam menatap tak tega. Nadira menggenggam erat tangan Nathan. Saat hangat kulitnya menyentuh kulit Nathan, dia kembali merasakan perasaan aneh yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
"Sudah dua hari Kak Nathan tertidur lelap kenapa belum bangun juga? Apa benar yang dikatakan dokter, kalau Kak Nathan memang sengaja tidak mau bangun? Apa semua karena aku?" ucap Nadira. Dia merebahkan kepalanya di samping kepala Nathan.
"Kak, aku minta maaf atas segala kebodohanku. Selama ini aku sudah sangat salah. Maukah Kak Nathan memaafkanku." Nadira menghentikan ucapannya saat merasakan setetes airmata keluar dari sudut matanya.
"Maukah Kak Nathan bangun? Apakah Kak Nathan tidak kasihan dengan Kak Anin yang sangat sedih sekarang? Bukankah lima hari lagi kalian akan bertunangan?" Nadira meremas dadanya dengan kuat saat merasakan rasa sakit di sana. Dia memejamkan kedua matanya dan menangis terisak.
"Aku tahu Kak Nathan sangat terluka karena aku. Maukah Kak Nathan bangun demi orang-orang yang Kak Nathan sayangi. Mereka semua sangat sedih sekarang, apalagi Aunty Mila. Aku janji Kak, setelah Kak Nathan bangun nanti, aku akan pergi dari kehidupan Kak Nathan. Aku tidak akan pernah muncul di hadapan Kak Nathan. Aku mohon Kak, bangunlah."
Nadira mencium kening Nathan, menyalurkan segala rasa yang bercampur di dalam hatinya. Tanpa terasa airmata Nadira yang membasahi wajah Nadira, menetes mengenai wajah Nathan. Genggaman tangan Nadira semakin mengerat saat dia merasakan rasa sakit itu semakin terasa menyayat hatinya. "Aku janji Kak. Aku akan pergi dari hidup Kak Nathan jika Kak Nathan sudah sadar nanti."
"Aku mohon ... sadarlah," bisik Nadira di telinga Nathan. Dia mengusap airmata yang masih terus membahasahi wajahnya. Nadira menatap lekat wajah Nathan yang terlihat sangat pucat dengan mata yang masih terpejam. Dia mengusap airmatanya yang menetes di pipi Nathan. Tanpa sadar, Nadira memajukan wajahnya, seolah terpikat dengan wajah Nathan. Dia menyatukan bibirnya dengan bibir pucat milik Nathan.
__ADS_1
Bangunlah, Kak. Orang-orang yang sangat menyayangimu, sangat menanti kesadaranmu.
***
Jo, Mila dan Cacha sedang duduk di ruang keluarga di rumahnya, sedangkan Rayhan sedang menunggu Nathan di rumah sakit. Jo menatap lekat wajah putrinya yang tampak begitu sedih.
"Cha, ada yang mau Ayah bicarakan sama kamu." Cacha menatap Jo dengan bingung, apalagi ia melihat sorot mata sang ayah yang menajam. "Bisakah kamu menjaga ucapan dan emosimu kepada Nona Muda Alexander."
"Cha, kakakmu itu koma, bukan sekarat." Mila meralat ucapan Cacha dengan lembut. Dia melihat kesedihan yang teramat dalam dari wajah Cacha.
"Bunda, seandainya Kak Nathan tidak menolong Nadira. Kak Nathan tidak akan mungkin terluka seperti seperti sekarang. Hati Kak Nathan sudah terluka dan sekarang tubuhnya juga terluka." Cacha menghapus airmatanya.
"Cha, semua yang Nathan lakukan sudah benar. Dia hanya melindungi Nona Muda Alexander," kata Jo lembut.
__ADS_1
"Ayah! Putra Ayah terluka demi menyelamatkan Nona Muda Alexander yang sudah sangat menyakitinya dan Ayah bilang semua itu sudah benar? Sebenarnya, bagaimana jalan pikiran Ayah!" Suara Cacha meninggi, dirinya kembali diselimuti emosi hingga tanpa sadar membentak sang ayah.
"Aku ini Ayahmu, Cha. Harusnya kamu tahu, bagaimana cara berbicara yang baik kepada orang tua!" Jo pun terlihat marah, Mila yang duduk di sampingnya hanya mengusap punggung suaminya dengan perlahan untuk menurunkan emosi Jo.
"Cha, kamu tidak akan pernah tahu bagaimana berharganya keluarga Alexander untuk Ayah."
"Seberapa pun berharganya keluarga Alexander, seharusnya Ayah juga memikirkan Kak Nathan!"
Di saat suasana sedang memanas, tiba-tiba ponsel Mila yang tergeletak di atas meja itu berdering. Mila segera mengangkat panggilan itu setelah melihat nama Rayhan tertera di sana.
"Hallo Ray, ada apa?" tanya Mila tak sabar.
"Bunda, Nathan sudah sadar," sahut Rayhan dari seberang. Mereka bertiga tersenyum bahagia setelah mendengar ucapan Rayhan. Mila segera mematikan panggilan itu begitu saja. Mereka bertiga pun bergegas menuju ke rumah sakit. Berbagai ucapan rasa syukur berkali-kali terdengar dari mulut mereka bertiga.
__ADS_1