
Perusahaan Alexander Group.
Alvino dan Kenan yang sedang fokus pada pekerjaannya, mengalihkan padangan mata mereka ke arah pintu ketika mendengar suara pintu yang terbuka. Ketika melihat siapa yang masuk ke ruangannya, Alvino langsung mendecakkan lidahnya dengan kesal.
"Bisakah kamu mengetuk pintu sebelum masuk? Ingat! Ini lingkungan kantor," omel Alvino dan kembali meneliti berkasnya.
"Aku sudah mengetuk pintu, telingamu saja yang sedang tidak berfungsi dengan baik," cibir Nathan sambil mendudukkan tubuhnya dengan santai di atas sofa.
"Kamu mengataiku tuli?" Wajah Alvino mulai terlihat merah padam, di saat sudah seperti ini Kenan hanya bisa menghembuskan napasnya secara kasar.
"Tidak! Kamu sendiri yang mengatakan dirimu tuli, aku hanya mengatakan telingamu sedang tidak berfungsi dengan baik." Nathan berusaha mengelak.
"Apa bedanya?!" sewot Alvino.
"Jelas berbeda. Sudahlah Al, hentikan pertengkaran kita karena aku tidak ingin kau semakin cepat menua."
"Nathan!" pekik Alvino marah, tetapi Nathan hanya tergelak saja melihat raut wajah marah Alvino yang menggemaskan baginya.
"Kalian berdua benar-benar seperti bocah. Ada perlu apa kamu kesini, Nat?" tanya Kenan mencoba menghentikan pertengkaran mereka.
"Oh iya Al, aku kesini mau mengabari kalau Ana sudah menyerahkan dirinya ke kantor polisi."
"Apa?!" pekik Alvino dan Kenan bersamaan.
"Kalian benar-benar kompak." Nathan bertepuk tangan sembari tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya.
"Bagaimana, Al?" tanya Kenan, Alvino menatap wajah Kenan yang terlihat begitu khawatir.
"Ana pasti bebas, karena aku yakin Rania pasti meminta jalur kekeluargaan karena dia adalah korbannya."
__ADS_1
"Kalau Ana bebas, berarti Jack juga akan bebas Al." Alvino tersenyum tipis melihat kekhawatiran di wajah Kenan.
"Kamu tenang saja, Ken. Aku tidak akan membiarkan Jack bebas begitu saja." Kenan menatap Nathan yang terlihat sedang duduk dengan santai.
"Bagaimana caranya?" Nathan tidak menjawab pertanyaan Kenan, dia hanya bangkit berdiri dan berjalan mendekati meja Alvino.
Ketika sudah sampai di dekat meja Alvino, Nathan merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah flashdisk dari saku celananya.
"Aku sudah melakukan tugas darimu dengan baik. Lihatlah apa yang aku temukan," ucap Nathan dengan senyum seringai tipis di sudut bibirnya. Kenan yang merasa penasaran, segera beranjak bangun dan ikut bergabung di meja Alvino, sedangkan Alvino segera memasang flashdisk itu ke komputernya.
Wajah Alvino dan Kenan tidak percaya saat melihat video Jack yang sedang melakukan transaksi narkoba dengan seorang pria yang terlihat hampir seumuran dengan Jack.
"Bagaimana?" tanya Nathan dengan nada angkuh saat rekaman itu telah selesai terputar.
"Kamu benar-benar bisa di andalkan," puji Alvino yang merasa sangat puas atas apa yang Nathan lakukan.
"Tentu saja. Siapa dulu dong, keturunan ayah Johan Saputra." Nathan menepuk dadanya dengan bangga dan hanya mendapat dengusan kesal dari kedua sahabatnya.
"Kamu mau meminta bayaran berapa juta? Bukankah kamu ini seorang pemimpin perusahaan?"
"Aku tidak butuh uangmu, Tuan Muda. Hanya saja aku butuh Nadira sebagai ... auuh!" Nathan mengerang kesakitan saat kaki Alvino menendang tulang kakinya dengan sangat keras.
"Al! Bisakah kamu menendang dengan sedikit lebih pelan? Tulangku bisa patah!" omel Nathan sambil memegang kaki kanannya yang sangat sakit.
"Aku benci kamu, Nat!" ketus Alvino.
"Apa salahku? Aku hanya ingin kamu menyuruh Nadira magang di tempatku tidak lebih!"
"Kenapa kamu tidak menyuruh Cacha? Kalau kamu mau menyuruh Nadira magang di tempatmu, suruh saja sendiri! Aku tidak suka memaksa adikku."
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu, aku akan mendekati Nadira sendiri dan menjadikannya ratu di hatiku." Nathan berbicara dengan gerakan tangan seolah dia sedang membaca puisi.
"Lebai!" Kenan yang merasa gemas hanya mendaratkan pukulan di pundak Nathan.
"Ya Tuhan, aku bisa mati muda jika setiap hari selalu berdekatan dengan kalian berdua yang sangat kasar," ucap Nathan dengan kesal, dia berjalan dengan sedikit terpincang menuju ke sofa.
"Apa yang akan kita lakukan selanjutnya, Al?" tanya Kenan serius.
"Kita akan menemui Rania dan Tuan Sandi terlebih dahulu, setelah itu kita akan menemui Ana di kantor polisi."
"Sekarang?"
"Tahun depan!" sewot Alvino, "sebentar lagi jam makan siang, kita ke sana sehabis jam makan siang saja."
"Baiklah." Kenan kembali ke meja kerjanya untuk menyelesaikan pekerjaannya yang belum selesai.
Sementara Nathan merebahkan tubuhnya di atas sofa dan mengeluarkan ponselnya.
"Kamu tidak kembali ke kantor, Nat?" tanya Alvino heran saat melihat Nathan yang sedang rebahan dengan santai dan begitu fokus dengan ponsel di tangannya.
"Tentu saja aku bekerja. Aku ini pemimpin perusahan, kamu pikir aku ini pengangguran!" Nathan bicara dengan sewot tanpa mengalihkan pandangannya dari ponselnya.
"Kenapa kamu masih di sini dan tidak kembali ke kantormu?"
"Aku capek kalau harus bola-balik. Aku menunggu di sini saja. Lihatlah, kita punya ponsel canggih, untuk apa kalau tidak digunakan dengan baik." Nathan menunjukkan ponselnya yang menyala ke arah Alvino, sedangkan Alvino hanya mendecakkan lidahnya dengan kesal. Mereka bertiga pun kembali fokus pada pekerjaan mereka masing-masing.
...🍫🍫🍫🍫...
Hai hai, ada yang kangen sama Author enggak nih 🙊🙊
__ADS_1
Maaf ya kemarin sehari enggak up,
tenang saja sebagai gantinya, Author udah siapin 4/5 bab hari ini tapi masih dalam proses edit.