
Langit cerah. Matahari bahkan tak malu-malu untuk menunjukkan sinarnya yang menyilaukan. Terik, namun di lain sisi memberikan kesejukan yang amat nyata. Burung berkicau, kupu-kupu terbang untuk menuai madu dari bunga yang bermekaran di taman.
Asya sedang duduk berleha-leha pagi itu. Zidan memutuskan untuk menyerahkan sementara tugas dan pekerjaannya kali ini, untuk menemani Asya menjalani hari-hari menjelang persalinan. Hanya tinggal menunggu hitungan minggu, maka mansion mereka akan menyambut anggota mungil yang akan meramaikan suasana.
Zidan menunduk, mengecup puncak kepala Asya dengan sebelah tangan mengusap perut buncit istrinya. Asya tersenyum. Perlakuan Zidan tak urung membuatnya merona merah. Pipi, hingga cuping telinga dan leher menjadi sasaran Zidan untuk menanamkan kecupan.
Asya terkekeh, dia menyikut pinggang Zidan pelan dan membuat lelaki itu mengerang walaupun sebenarnya hanya candaan.
"Jangan cium-cium!" peringat Asya.
Bibir Zidan berkedut samar. "Kenapa? Kamu gak suka?"
"Zidan ...." Asya mendumal. "Banyak orang yang liat, tahu?!"
Tawa renyah itu menyebar di area taman. Zidan masih tetap menggoda istrinya walaupun tak seintim tindakannya barusan. Semalam, setelah mengungkapkan kesah dan perasaan yang Zidan sembunyikan kepada Asya, hati Zidan mendesah dengan kelegaan yang amat sangat. Bebannya terasa terangkat sebagian.
Mereka bisa dikatakan telah menapaki fase baru dalam pernikahan dengan saling terbuka satu sama lain. Asya menenangkannya. Bahkan ketika tatapan Zidan menyendu dengan dada yang seakan diremat setelah menceritakan masa lalu, Asya dengan senang hati melebarkan tangan--untuk kemudian menyambutnya dalam dekapan menenangkan.
Sekali lagi Zidan menatap Asya, memuja karena Tuhan telah begitu sayang kepadanya dengan mengirimkan sesosok bidadari tak bersantap untuk dia rengkuh setiap saat.
"Zidan ...."
Suara itu begitu lirih namun tersirat kehalusan. Zidan tersenyum. "Ada apa?"
"I love you ...."
"I love you, more ...." Zidan menjawabnya dengan nada penuh cinta dan pemujaan.
Berselang beberapa detik mereka hanya memandang manik masing-masing, seakan mengungkapkan kata tanpa gerakan bibir dan suara.
Dalam keheningan yang membentang, suara derap langkah terburu mendekat ke arah mereka. Zidan menoleh, dahinya berkerut dalam begitu melihat Bibi An--kepala maid yang sudah bekerja lama di mansion datang dengan raut wajah panik.
"Ada apa, Bi?" tanya Zidan mengatur posisi duduk. Dengan masih merengkuh Asya dengan sebelah tangan, lelaki dengan mata hitam itu menatap Bibi An menunggu jawaban.
"Itu, Tuan ...." Jemari Bini An terjalin gusar. "Ada tamu."
"Tamu?"
"Iya, Tuan."
"Siapa, Bi?" Kali ini Asya yang bertanya.
Bibir Bibi An tampak terbuka, kemudian tertutup dengan cepat secara dramatis.
Menarik kesimpulan bahwa Bibi An tak bisa menjawab, Zidan bangkit lalu mengulurkan tangan untuk kemudian menggandengkan Asya memasuki mansion.
__ADS_1
Dari pintu belakang mansion yang mengarah langsung ke ruang tengah, Zidan bisa melihat sebuah siluet yang asing namun terasa familiyar tampak duduk di sofa membelakanginya dan Asya.
Dengan derap langkah yang teratur karena masih menggandeng Asya, Zidan mendekat dan mengernyitkan dahi begitu melihat ekspresi Rendi dan Ana yang tampak mengerut, kemudian melihatnya dengan waspada.
"Zidan ...." Asya mencicit.
Zidan menoleh dan sedikit menunduk untuk menyamakan tinggi. "Iya?"
"Aku ... kita--" Asya tak bisa melanjutkan kalimat.
Entah Zidan sadar atau tidak, siluet yang membelakangi mereka itu terlihat menegang untuk beberapa saat. Asya mendesah pasrah, tangannya bahkan sudah dingin dan tergorokannya terasa terpilih hingga tak bisa berkata-kata.
Apalagi saat Zidan memilih untuk mendekat. Sosok tamu itu menoleh hingga pandangan mereka berserobok dalam keterkejutan.
"Zidan ...."
...
Mansion itu masih sama. Kenangan merebak membuat dada Rina terasa sesak oleh luapan rasa rindu. Hubungannya dan Rendi memang tak bisa dikatakan berhasil. Namun, setidaknya di sinilah Rina pernah menghabiskan masa dengan dua anak tersayangnya.
Rina menghela napas, tangannya yang tampak rapuh terjalin gugup mana kala melihat pintu gerbang terbuka. Sebuah mobil Audi berwarna putih gading yang tampak familiyar melaju keluar dengan lambat.
"Mamah!" Suara terkesiap yang nyaris seperti pekikan terdengar mana kala jendela mobil terbuka.
Ana terkejut bukan main. Dengan gerakan cepat perempuan itu memarkirkan mobilnya di depan gerbang untuk kemudian keluar dan menghampiri Rina yang berdiri dengan senyum sendu.
Ana masih dalam keterkejutan. Dia menoleh ke kebelakang dan memberi instruksi agar penjaga memasukkan mobilnya kembali ke dalam mansion.
"Mamah ngapain ke sini, Mah?" tanya Ana.
Bibir Rina mengulas senyum sendu. Teringat percakapan Asya dan Zidan yang memang sengaja dia dengar, membuat dada Rina kembali sesak. Dia tak ingin membebani Asya dengan kewajiban yang seharusnya dia pikul. Apalagi mengingat bahwa masa bersalin Asya yang tinggal menghitung minggu, Rina merasa bersalah jika harus menumpukan semua beban itu kepada menantunya.
"Mamah ke sini mau ketemu sama Zidan."
Mulut Ana menganga lebar. "Tapi, Mah. Asya ...."
"Mamah yang akan meluruskan masalah dengan Zidan. Mamah gak mungkin membebani Asya dengan hal yang seharusnya Mamah jelaskan dari awal."
Bibir Ana terkatup rapat untuk beberapa saat. "Tapi, Zidan akan marah."
"Nanti atau kapanpun itu, Mamah tetap harus, Ana .... Lagi pula Mamah sangat rindu sama Zidan."
Ana memejamkan mata. Tak ada pilihan lain selain membawa Rina masuk ke dalam mansion untuk menemui Zidan.
Sekali lagi suasana masih tampak sama. Hanya ada perubahan kecil seperti beberapa perabotan yang berganti menjadi lebih modern dari beberapa tahun lalu. Bahkan bayangan ketika Ana dan Zidan kecil berlarian masih tertangkap dalam benak Rina.
__ADS_1
"Pah ...."
Rina menoleh dramatis ketika Ana bersuara. Dari undakan tangga, suara ketukan berirama sedang tampak terdengar. Lelaki paruh baya dengan wajah yang tak berubah menatap Rina dengan pandangan terkejut.
"Mas ...."
"Rina?" gumam Rendi dengan kerutan yang makin timbul. Lelaki paruh baya tersebut bahkan masih memerhatikan Rina dan Ana bergantian. "Ana ...."
"Ana bisa jelasin, Pah."
Ana memutuskan untuk membawa Rendi duduk di sofa, lalu bergantian membawa Rina untuk duduk di hadapan sang ayah.
"Bagaimana kabar, Mas?" Rina bertanya canggung.
Hal yang sama pun turut Rendi rasakan. "Baik. Hanya beberapa bulan ini mengalami sakit."
"Sakit?"
"Iya ...." Rendi tersenyum hangat. "Sakit yang biasa dialami orang lanjut usia."
Rina hanya berdehem ringan sebagai tanggapan. Di hadapan mantan suaminya ini, Rina bahkan masih bisa mengalami kecanggungan setelah hampir delapan tahun lamanya tak bertemu.
"Bagaimana kabarmu, Rina?" tanya Rendi.
"Baik."
"Aku dengar, kamu sudah kembali menikah."
Rina tersenyum kecut. Mata dengan tatapan rapuh itu menatap Rendi dengan sendu. Bagaimanapun mereka berdua pernah menjali hubungan suami istri. Untuk berbicara hal yang menyangkut kehidupan pribadi setelah berpisah seperti ini rasanya sangat canggung.
"Sudah menikah dan bercerai."
Merasakan atmosfer yang sudah terasa berbeda, Ana diam-diam menyimpan keluhan dalam hati. Tak ingin menyebarkan rasa sesak lebih lama, Ana bergegas memanggil salah satu maid dan memerintahkan untuk memanggil Zidan dan Asya yang berada di taman belakang.
"Untuk pertanyaan barusan."
"Tak perlu merasa bersalah, Mas," sergah Rina. "Hanya masa lalu, dan akan menjadi pembelajaran. Aku ke sini hanya ingin bertemu anak-anak, terkhususnya Zidan dan meminta maaf kepada anakku itu."
Keheningan menyeruak setelahnya. Rendi terlihat tak berdaya karena merasa bersalah dan prihatin di satu sisi. Hingga kemudian derap langkah dan suara obrolan kecil mulai terdengar memasuki mansion. Rina sudah menyiapkan mental.
Tubuhnya bahkan sudah sekaku papan ketika memutuskan untuk berbalik dan menatap sang anak penuh kerinduan. "Zidan ...."
...
Like dan coment.☺️☺️
__ADS_1
Beri vitamin untuk Dewi supaya semangat☺️🤭 Semoga gak ada yang bosen karena ceritanya memang mau tamat😚☺️