My Devil Man

My Devil Man
MDM- Part 86


__ADS_3

Asya menutup pintu kamar, dan berlalu menuju ruangan kerja Zidan yang berada di lorong bagian kanan mansion.


Pintu hitam ruangan itu terlihat renggang, membuat Asya sedikit menyondongkan tubuh untuk mendapati bahwa saat ini Zidan tengah berkutat dengan layar laptop yang terbuka, dan beberapa map yang Asya yakini adalah dokumen penting mengenai pekerjaan sang suami.


Memutuskan tak mengganggu, Asya kemudian kembali berlalu dan memilih untuk menuju lantai dua di mana kamar Ana berada.


Setelah lelah mendesak Fany di telepon tadi, keputusan untuk menanyakan kepada Ana--menurut Asya adalah hal yang tepat. Mungkin saja kakak iparnya itu mengenal wanita paruh baya yang ada di dalam foto.


Ah, mengingat foto yang sampai saat ini masih tersimpan di ponselnya, Asya sama sekali tak bisa melupakan ekspresi wanita tersebut.


Meski terlihat samar karena efek pencahayaannya yang buruk, Asya bisa melihat tatapan menyendu ketika wanita paruh baya itu memandang Zidan.


Asya menghela napas, dia kembali melangkah dan mengetuk pintu kamar Ana dengan perlahan, berharap bahwa penghuninya belum terlelap malam ini.


"Siapa?"


"Asya, Kak...."


"Asya?!" Terdengar pekikan dari dalam, sebelum pintu berwarna putih itu terbuka cepat. "Ya Tuhan.. Kamu naik ke lantai dua sama siapa?"


Asya tersenyum samar, dia menjalin jemari dengan gugup. "Sendiri, Kak. Ada yang mau aku tanya."


"Ya ampun, Asya. Zidan bisa marah kalau tahu kamu ke kamar Kakak sendiri."


Lagi-lagi Asya hanya bisa tersenyum samar. Benar apa yang Ana katakan, mungkin jika mengetahuinya, suaminya itu akan dipastikan menceramahi Asya semalaman suntuk.


Tapi, ah..., Asya tak ingin memperpajang masalah ini. Toh, dia bisa naik ke lantai dua dengan selamat. Dan tujuannya naik ke lantai dua dan bertemu Ana mungkin dapat terealisasikan.


"Jangan kasih tahu Zidan ya, Kak...," ucap Asya memelas.


Membuat Ana mengulum senyum sebelum kemudian menggenggam tangan Asya dan menuntun wanita hamil itu masuk ke kamarnya.


"Lagian kamu ngapain ke sini, Sya?" tanya Ana duduk di sisi ranjang. Tepat di sampingnya Asya melakukan hal yang sama.


"Aku mau tanya sesuatu, Kak."


"Hal penting, ya?"


Asya mengangguk. Bertepatan dengan tangan kanan yang merogoh saku kecil gaun tidurnya, mata Asya bersirobok dengan sebuh bingkai kecil di atas nakas.


Asya terkesiap, gerakan tangannya yang merogoh kantung itu terhenti. Dia mematung. Foto itu.... Asya bahkan tak perlu berpikir dua kali untuk memastikan bahwa potret yang berada di atas nakas adalah foto keluarga.


Semua wajahnya tampak familiyar. Zidan, Kak Ana, dan Ayah mertuanya. Lalu, wanita itu..., Asya yakin bahwa itu adalah ibu dari suaminya.


Yang Asya kagetkan, mengapa wajah wanita yang berada di dalam foto--yang saat ini berada di ponselnya--dengan yang di bingkai tampak sama bahkan bisa dikatakan persis tanpa cela sedikitpun?


Apakah....?


"Kak, itu foto keluarga?" Asya bertanya perlahan.


Membuat Ana yang mendengarnya, mengikuti arah pandang Asya sebelum tersenyum sendu.


"Iya, Sya..." Tangannya mengambil bingkai, mengusap permukaannya perlahan. "Inilah keluarga Kakak dan Zidan waktu masih lengkap."


"Ta-tapi?"


"Pasti di kamar Zidan gak ada foto ini, ya?"

__ADS_1


Asya mengangguk samar. Seingatnya hanya ada foto pernikahan mereka, foto Zidan dan Ana, serta ada pula foto mereka berempat dengan sang Ayah mertua yang menyertai.


"Hah, anak itu masih marah aja sampai sekarang."


"Maksud Kakak?" tanya Asya, "Zidan marah sama Mamah?"


"Lebih tepatnya bukan marah sih, Sya. Tapi, mungkin lebih ke kecewa." Ana menghela napas, menatap sendu bingkai atas pangkuannya. "Dulu Kakak juga gitu..., kecewa, marah, sedih, dan Kakak bahkan menganggap Mamah gak sayang lagi sama keluarga. Tapi, Kakak sadar kalau Mamah pasti punya alasan."


Asya membenarkan semua. Masih segar dalam ingatannya, masa lalunya dan Zidan. Masa di mana Asya sangat terpuruk karena lelaki itu di setiap hembus napas.


Dan Asya sadar, di saat itu bukan kesalahan Zidan seutuhnya. Perlakuannya terbentuk karena keadaan.


Zidan merasa terpuruk, benci dengan takdir. Dan segala rasa itu, Zidan salurkan dengan menyakitinya di masa lalu.


"Zidan pernah bilang kalau dia..., dia gak pernah lagi ketemu Mamah."


"Mamah pergi dan seakan menghilang. Kabar yang dulu Kak Ana dengar, Mamah udah nikah lagi."


Tanpa sadar Asya menghembuskan napas. Mencoba merasakan kesesakan yang pernah Zidan rasakan.


Dan, kalau benar wanita paruh baya yang berada dalam foto di ponselnya adalah ibu dari suaminya.


Bukankah masih ada alasan untuk mereka kembali bersama? Kembali seperti hubungan ibu dan anak pada umumnya?


"Kak....," panggil Asya.


Membuat Ana mengerjab dan menoleh untuk memandang wanita hamil itu.


"Kakak pernah punya keinginan untuk ketemu Mamah lagi, gak?"


Dan Asya...., dia bertekad untuk berusaha mewujudkan hal itu.


...


Ketika Asya memasuki ruang kerja Zidan, lelaki itu tengah menunduk seraya memijit keningnya pelan.


Asya menghela napas. "Zidan...," ucapnya menutup pintu.


Membuat lelaki itu mendongak dan mengulas senyum tipis di wajahnya yang tampak lelah.


"Udah malem, ayo tidur."


"Ini juga baru mau tidur, Sya."


Asya menggeleng pelan seraya mendekat. Membiarkan Zidan membawanya ke atas pangkuan, Asya tak sanggup untuk tak melingkarkan lengannya di leher kokoh lelaki itu meskipun posisinya sedikit tak nyaman.


"Banyak kerjaan, ya?"


Hanya deheman yang Zidan berikan sebagai jawaban. Lelaki itu menyerukan kepalanya di lekukan leher Asya, menghidu aroma memabukkan yang membuatnya candu.


"Zidan...."


"Hn?"


"Katanya mau tidur?"


Asya menggigit bibirnya, memejamkan matanya erat. Bukan ini yang ingin dia lakukan, meski tak bisa ditampik bahwa sentuhan dan kecupan yang Zidan layangkan membuatnya menginginkan lebih.

__ADS_1


"Zidan..., aku mau ngomong sebentar...," rajuk Asya.


Dan kali ini Asya berhasil, Zidan menarik kepalanya, memandang Asya dengan pandangan yang bergairah.


"Sya..., aku..."


"Nanti, oke?"


"Oke, oke... Aku dengerin..."


Asya ingin tertawa sekarang, apalagi melihat wajah Zidan yang berbinar. Oh Tuhan... Bagaimana bisa suaminya seperti ini?


"Sekarang kamu mau ngomong apa?"


"Aku..." Asya berpikir sejenak, memilah kata yang tepat untuk dia jabarkan pada suaminya itu. "Aku boleh ke makam orang tua aku, gak?"


"Boleh," kata Zidan, "Kenapa kamu nanya gitu? Kamu maunya kapan, biar aku anter?"


"Kamu gak sibuk?"


"Asya..., kalau untuk anterin kamu atau nemenin kamu, gak ada kata sibuk, Sayang..."


Wajah Asya memerah. "Lusa kalau gitu, kamu bisa, kan?"


Zidan mengangguk, dengan tangan megusap perut Asya, lelaki itu mengangsurkan kecupan lembut di kening istrinya. "Kamu kangen mereka, ya?"


"Iya, Zidan... Aku udah lama gak ke makam mereka. Terakhir mungkin waktu hamil lima bulan, itupun waktu kamu di Rumah Sakit, jadi aku cuma pergi sama Kak Ana."


"Yaudah, aku nanti temenin kamu."


"Zidan...."


"Hn?"


"Kamu gak kangen seseorang?"


"Kangen seseorang?" Zidan mengernyit. "Buat apa? Lagian semuanya ada di sini. Papah, Kak Ana dan kamu."


Asya meringis. sebegitukan kecewanya Zidan pada sosok sang ibu?


"Kamu... Gak kangen sama Mamah kamu, Zidan?"


Sedetik, dua detik, hingga kesekian detik selanjutnya Zidan masih terdiam. Asya menelan salivanya berat. Dia mendongak, dan menyendu begitu menatap kepedihan yang tercetak jelas di mata Zidan.


"Zidan..."


"Dia gak ada di sini, Sya." Suara Zidan berat. "Jadi, buat apa aku kangen sama dia."


"Tapi Zidan--" Asya terdiam.


Ketika wajah Zidan mendekat, Asya hanya bisa memejamkan mata hingga sapuan basah terasa di bibirnya.


Zidan menciumnya. Dan Asya tahu, ini hanya pengalihan. Lelaki itu tak ingin mendengar atau menjawab pertanyaan yang baginya menyakitkan.


...


Like dan Coment

__ADS_1


__ADS_2