
Tak ada yang berubah dari apartemennya menurut Asya. Semua masih terasa sama. Suasana dan letak perabotan, mungkin yang berbeda hanyalah beberapa sudut dan barang- barang yang tertutupi debu.
Asya menghela napas, dia menoleh dan mendapatkan Rani yang juga memandang hal yang sama dengannya. Mungkin hanya ini yang bisa dia lakukan sekarang. Membawa Rani untuk tinggal di apartemennya menurut Asya adalah hal yang tepat.
Dia akan berusaha membujuk Zidan setelah ini. Apalagi saat Asya mengingat Zidan belum terbuka padanya, lelaki itu masih menyembunyikan hal-hal yang menurut Asya bisa dibagi. Ya, itu menurut Asya, tapi mungkin tidak menurut Zidan.
"Ini apartemen siapa?"
Suara Rina memecah lamunan Asya. Wanita itu tersenyun kemudian meraih tangan Rani untuk dia tuntun menuju sofa. "Ini apartemen Asya, Mah."
"Ini apartemen kamu?"
"Iya." Asya mengangguk, sebelum kembali melanjutkan, "Asya tinggal di sini sebelum nikah sama Zidan. Bahkan Kak Ana pun tinggal di sini, Mah. Kak Ana tinggal di apartemen sebelah Asya. Waktu Asya nikah, Kak Ana ikut pindah dan mutusin buat nyewain apartemen itu."
Rina hanya mengangguk. Wajahnya berubah sendu. Wanita paruh baya itu merasa kalah. Ya, kalah karena tak satupun hal dari anaknya selama ini melibatkan dirinya. Zidan dan Ana tumbuh tanpa dirinya di samping mereka.
"Mah...."
Panggilan Asya membuat Rani mengerjab. Bibirnya yang bergurat mengukir senyum. "Ada apa, Sayang?"
"Mamah kenapa?"
"Mamah... Cuma merasa selama ini Zidan dan Ana bahagia dan senang tanpa Mamah. Mungkin mereka akan marah kalau tau Mamah berusaha mendekati dan masuk ke dalam hidup mereka lagi."
"Mamah gak boleh merasa begitu, Mah."
"Tapi, Sya--"
Asya menggeleng, membuat Rani menutup mulutnya rapat dan tidak melanjutkan perkataannya lagi. "Mamah gak boleh merasa begitu. Yakin, yakin kalau Kak Ana dan Zidan pasti maafin Mamah. Karena Asya tau mereka masih mengharapkan Mamah."
Perkataan Asya membawa angin sejuk pada Rani. Hatinya menghangat. Dia memandang Asya lembut dan sekali lagi menanggup pipinya yang halus dan putih. "Zidan pasti mencintai kamu dengan sangat, Sya. Mamah bisa melihat itu semua. Kamu berbinar."
Sedetik setelah pernyataan itu dijabarkan, Asya sama sekali tak bisa menahan rona merah di pipinya yang kini menjalar. "Asya tau, Mah."
"Zidan beruntung mendapatkan kamu," ucap Rani. "Mamah mau tau bagaimana awal mula kalian bertemu."
Kemudian Asya menceritakannya. Awal mula mereka bertemu, berpisah dan kemudian kembali bertemu lagi. Tentu saja Asya tak mencerikan keburukam suaminya itu. Semua hal yang menyangkut segala kesalahpahaman Asya tutup rapat dan dia simpan sendiri.
__ADS_1
Asya sudah memaafkan Zidan. Mungkin jika Zidan tak salah paham padanya dan segala hal yang waktu itu membuat Asya terluka tak terjadi, mereka mungkin tak akan bertemu sekarang.
"Kalian memang ditakdirkan bersama," ungkap Rani.
Asya mengangguk, dan kembali tersenyum. Bahkan wanita hamil itu tak tau sebanyak apa dia tersenyum hari ini. Bertemu dengan Rani memang membahagiakan. Asya merasa dilimpahi kasih sayang dan kembali mendapatkan figur orang tua dihidupnya.
Ya... Hidupnya akan terasa sempurna setelah ini.
...
Asya tahu inilah yang akan dia dapatkan. Tatapan tajam yang sarat akan kekhawatiran, hembusan napas yang memburu dan tentu saja... Kemarahan Zidan. Ya, apalagi memang? Kemarahan sudah pasti. Siapa yang tak khawatir jika istrinya yang hamil besar menghilang?
Huh... Bahkan Asya sendiripun tak mengetahui harus berbuat bagaimana jika sampai Zidan marah padanya.
"Dari mana aja, Sya?" tanya Zidan yang melangkah mendekati Asya.
Tubuh lelaki itu bahkan masih berbalut setelan kerja yang lengkap, mengingat hari baru saja beranjak siang.
"Eh... Dari luar. Jalan-jalan sebentar."
"Jalan-jalan?"
Membuat Zidan menghela napasnya kasar dengan tangan yang mengacak rambutnya frustasi. Tidak tahukah Asya bahwa dirinya kalap memikirkan keberadaan wanita itu? Demi Tuhan... Asya sedang hamil, hamil besar!!
"Jalan-jalan ke mana, Sya?"
Pertanyaan itu membuat Asya mendongak. Mencoba tersenyum, justru Asya tak mendapatkan apapun. Wanita itu menelan ludahnya kasar. Tak mungkinkan dia mengatakan yang sebenarnya pada Zidan?
"Ya, cuma jalan-jalan aja, Zidan... Aku bosen di rumah."
"Tapi bosen gak gitu juga, Sya. Demi Tuhan, kamu itu lagi hamil, seharusnya kamu pake supir buat pergi."
Asya meringis, dia melihat ke arah punggung Zidan di mana sang Ayah Mertua tengah duduk dan memerhatikan mereka.
"Jawab, Sya," kata Zidan tegas. Bahkan lelaki itu tampak tak mengedip dan makin membuat Asya ciut.
Entah karena kemarahan yang bertambah atau karena bosan menunggu Asya menjawab, Zidan berlalu pergi dari ruang tengah menuju kamar mereka.
__ADS_1
Asya berusaha mencegah, namun rasanya mustahil mengingat kemarah Zidan padanya saat ini.
"Susul dia, Nak." Rendi menghampiri. Lelaki paruh baya itu memadang teduh Asya dan membuatnya tanpa buang waktu menuruti perkataan Rendi.
"Zidan...." Asya berseru memasuki kamar. Matanya mengedar menyusuri sudut kamar yang tampak kosong, hingga kemudian tatapan terpaku pada tirai pintu kaca yang terbuka.
Di sana Zidan tampak berdiri, setelan jasnya sudah telepas--menyisakan kemeja putih dengan lengan tergelung sampai siku.
"Kamu marah?" tanya Asya menghampiri Zidan.
Zidan diam.
Asya menghela napas, dia mendekat. Ingin membuat Zidan luluh Asya mengambil inisiatif menggenggam tangannya.
"Maaf."
Zidan tetap diam, meskipun begitu lelaki itu sama sekali tak menolak ketika Asya menyandarkan kepala di bahunya dan melihat ke arah pandang yang sama.
Taman mansion ini didesain sangat indah. Ada air mancur, berbagai bunga yang ditanam mengelilinginya dan beberapa pohon besar yang cukup rindang.
"Aku khawatir, Sya," ucap Zidan menghela napas. Dia melepaskan genggaman, membawa Asya untuk berdiri di depannya untuk kemudian dia peluk dari belakang. "Aku telepon kamu gak jawab. Waktu aku pulang kamu gak ada."
"Maaf."
"Jangan ulang lagi, oke?"
Asya diam, namun tak urung mengangguk. Dia pun tak yakin akan menepati perkataan itu. Ada orang lain yang memerlukan kehadirannya, dan itu adalah Rina.
"Aku janji kalau aku pergi aku akan hubungi kamu, Zidan, dan aku gak akan pergi sendiri."
Zidan tau inilah jawaban yang akan Asya katakan. Dan karenanya Zidan tak memaksa hal lain dari Asya. Asya tetaplah perempuan keras kepala yang tak akan mengiyakan permintaannya dengan mudah.
Lagi pula selama Asya menghubunginya ketika perempuan itu pergi, dan tak mengulang lagi apa yang dia lakukan hari ini, Zidan yakin dia akan tenang dan baik-baik saja.
...
Vote dan coment.
__ADS_1
Lagi gabut berat... Ada yang bisa rekomendasiin Film atau drama? 😄😄