My Devil Man

My Devil Man
MDM- Part 92


__ADS_3

Zidan menatap gusar ke luar jendela. Langit mendung, udara mendingin, dan Zidan yakin setelah ini rintik hujan akan menyapa bumi dengan liquid basahnya.


Lelaki itu kalut, dengan ribuan kata dan pemikiran yang membuat batinnya diliputi kegusaran. Matanya menatap nanar untuk sesaat. Tak ada yang bisa membuatnya tenang, apalagi saat ini suasana ruangannya sudah bisa dikatakan berantakan.


Berkas berserakan di atas meja, laptop yang terbuka sedari tadi bahkan tak menarik atensinya sama sekali. Berusaha menghilangkan jengah, Zidan menekan tombol interkom untuk memanggil sang sekretaris. Berselang beberapa detik setelahnya, pintu diketuk kemudian terbuka setelah Zidan memberi seruan untuk memasuki ruangan.


"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" Anita mendekat. Mata perempuan itu tampak menyelidik dengan kerutan samar di dahinya.


Zidan yang duduk menyandar menyadari hal tersebut. Namun, seakan tak memerdulikan apapun, Zidan berdehem seraya bertanya, "Ada pertemuan penting yang harus saya hadiri setelah ini, Anita?"


Anita lantas menyalakan sebuah tablet tanpa diperintahkan untuk kedua kali. Perempuan bersetelan rapi itu berdehem canggung untuk sejenak sebelum membacakan susunan jadwal yang telah tertata apik di dalam layar.


Dari apa yang Zidan tangkap, lelaki itu tak perlu menghadiri apapun lagi hari ini. Setelah mengucapkan beberapa patah kata, dan memberikan perintah pada Anita, Zidan mempersilahkan perempuan tersebut meninggalkan ruangan, sebelum sang sekretaris berbalik dan kembali mengaburkan lamunan.


"Pak ...." Anita berucap segan.


Zidan mengangguk kecil, seakan menginterupsi untuk memberitahukan apa yang hendak disampaikan.


"Pihak dari Sahila Group menghubungi, asisten dari pak Zami mengabari bahwa besok beliau ingin bertemu dengan Anda, Pak."


Zidan menimang sesaat. Sahila Group adalah salah satu perusahaan terkemuka dalam bidang resort dan perhotelan. Untuk dapat menjalankan kerja sama dengan perusahaan berskala besar tersebut, Zidan bahkan harus mengirimkan proposal kerja sama dari jauh-jauh hari.


"Baiklah, konfirmasi persetujuaan. Dan tanyakan di mana kami bisa bertemu."


Anita menanggapinya dengan senyuman sebelum beranjak pergi. Meninggalkan Zidan yang termenung dan kembali dilanda kekalutan yang terasa menyesakkan.


...


Hujan sudah reda. Begitu Zidan memasuki mansion, mata lelaki itu berserobok dengan sosok Ana yang tengah tersenyum menatap ponsel seraya duduk santai di atas sofa.


Zidan tersenyum kecut. Andaikan Ana mengetahui bahwa Zidan sempat bertemu dengan ibu mereka, apa perempuan itu akan marah? Memikirkan saja membuat Zidan bergidik. Apalagi fakta kalau Ana sangat dekat dengan sosok Rina ketika hubungan mereka masih utuh dan bisa disebut keluarga.


"Kak Ana?"


Seruan itu membuat Ana berjengit kaget. Dengan gerakan serampang untuk menyembunyikan ponsel, Ana mendongak menatap Zidan yang justru kini memandangnya dengan tatapan heran dan penuh selidik.


"Eh ... Zidan, kamu udah pulang?"


"Ini udah malem, Kak. Gak mungkin aku gak pulang."

__ADS_1


Ana mendengus mendengar jawaban itu. Sedangkan Zidan yang meihat reaksi tersebut terkekeh pelan. Hatinya menghangat. Ah ... keluarga memang bisa membuat ketenangannya kembali.


"Kakak kok senyum-senyum sendiri pas liat hp?" tanya Zidan seraya mendaratkan bokong di atas sofa bersebelahan dengan Ana.


"Ih ... iya apa?" Ana mengerutkan kening. Berusaha menormalkan ekspresi, Ana justru melemparkan senyum yang membuat Zidan makin curiga.


Sebenarnya, sebelum Zidan menginterupsi kegiatannya tadi, Ana sedang berkirim pesan ria dengan ibunya. Menanyakan kabar dan berbagi cerita. Apalagi saat Ana mengingat pertemuan melankolis tadi siang, Ana sama sekali tak bisa menahan senyum di bibir serta matanya yang berkaca penuh syukur.


"Aku tadi chat-an sama Raihan." Entah dari mana pemikiran itu tercetus. Yang jelas saat melihat tatapan heran Zidan berubah menjadi seringai jahil, Ana yakin Zidan sudah sepenuhnya percaya kebohongannya yang melibatkan nama Raihan.


Raihan ... maaf karena bawa-bawa nama kamu, ya?


"Kakak pacaran sama Raihan?"


Ana menggeleng cepat dengan wajah memerah padam begitu mendengar pertanyaan spontan dari Zidan. Mengingat lelaki itu saja membuat jantung Ana berdetak tak sehat, apalagi menjalin hubungan dengannya?


"Ih ... Kakak bohong, kan?" tanya Zidan memprovokasi.


Ana memasang wajah yang teramat masam kali ini. Dengan gelagat seolah tersinggung dan kaki yang menghentak kuat, Ana meninggalkan Zidan yang sudah terkekeh kencang karena tingkah aneh kakaknya tersebut.


...


Sebenarnya Zidan merasa tak enak kepada Asya. Seharusnya, di masa kehamilan Asya yang hampir mendekati persalinan, lelaki itu lebih banyak menghabiskan waktu di rumah dan mempersiapkan kamar bayi--yang sudah Zidan sediakan tepat di samping kamar mereka--untuk anak mereka nanti.


Namun tanpa sepengetahuan Zidan, istrinya itu bahkan sudah menyiapkan beberapa perabot berupa box bayi, lemari, lampu tidur khusus dan segala jenis barang yang bahkan Zidan tak tahu apa namanya.


"Asya ...."


Suara serak serta sepasang tangan yang melingkari perutnya membuat Asya terpekik kecil. Wanita hamil itu menghela napas sebelum tersenyum tulus dan menyentuh tangan Zidan yang melingkar penuh sayang.


"Akhirnya kamu pulang," ujar Asya.


Zidan berdehem sebagai tanggapan.


Melihat tuan dan nyonya mereka tampak saling berinteraksi intim, para maid yang seakan telah dikomandani, satu per satu beranjak pergi memberi privasi.


Zidan mengecup puncak kepala Asya dan membalikkan tubuh istrinya perlahan sebelum menuntunnya untuk menuju kursi yang terdapat di sebelah konter dapur.


Asya yang tak menyiakan kedekatan tersebut, memeluk pinggang Zidan dan menenggelamkan kepalanya di dada sang suami.

__ADS_1


"Kok pulangnya kemaleman?" tanya Asya sedikit merajuk.


Zidan tertawa kecil untuk kemudian kembali mengecup puncak kepala Asya penuh cinta. "Tadi kan hujan, Sayang ...."


Alasan itu menurut Zidan tentu saja bisa Asya terima. Selain alibi yang meyakinkan, Zidan juga butuh memupuk ketenangan agar tak nampak tertekan di hadapan sang istri. Meski enggan mengakui, jujur dalam hatinya--semenjak kepergian Rina yang mendadak, Zidan kalut bukan main.


Dirinya bahkan masih terus mencari informasi--meskipun hujan--seperti yang dia lakukan sepulang dari kantor tadi.


"Zidan, kamu kenapa?"


Pertanyaan itu mengaburkan lamunan Zidan untuk sesaat. Alih-alih menjawab Zidan justru menunduk dan menanamkan ciuman lembut di bibir Asya yang merekah indah.


"Ih ... nanti ada yang liatin, Zidan ...."


"Gak akan sayang." Zidan menggeleng, "Mereka udah tau kok, kita butuh waktu berdua."


Meskipun perkataan Zidan benar adanya, Asya masih tak bisa menyembunyikan rona merah yang timbul di kedua pipinya begitu menerima perlakuan mesra dari Zidan.


Wanita itu kembali menatap sang suami. Lama memerhatikan, Asya mendapatkan rona lelah yang tercetak samar di sana. Sudut bibir Asya berkedut. Dirinya bukan tak tahu bahwa Zidan kalut setengah mati semenjak Rina dia bawa pergi.


Namun, alih-alih merasa kasihan, Asya justru merasa senang dan puas karena tahu bahwa sang suami masih sangat menyayangi sosok ibunda meskipun enggan mengakunya.


"Kamu keliatan lelah, Zidan. Ada masalah?" tanya Asya perhatian.


Zidan menggeleng.


"Trus kamu kenapa?"


"Aku cuma kangen sama Baby. Pengen jenguk ...."


Apa hubungannya sama wajah lelah kamu itu, Zidan? Asya mengerutu dalam hati, namun sama sekali tak bisa menyembunyikan rona pipinya yang merah padam.


Sedangkan Zidan yang mengetahui bahwa Asya menangkap maksudnya, justru makin memanasi suasana. "Malem ini boleh, Sya?"


"Jangan ngomong kenceng-kenceng!" peringat Asya.


Membuat Zidan terkekeh geli.


Malam itu, setelah berdebat sesaat, hingga akhirnya Asya menyetujui kode tersirat dari sang suami--mereka beranjak menuju ruang makan dan menikmati hidangan yang telah disajikan bersama Ana dan Rendi yang menatap mereka dengan selidik.

__ADS_1


__ADS_2