
Asya memandang kepergian Zidan sebelum berbalik untuk memasuki rumah Fany. Ketika kakinya melangkah dan tangannya menutup pintu, Asya mendapati Fany yang duduk di sofa dengan wajah tegang yang membuatnya bingung.
"Kamu kenapa, Fan?" tanya Asya menghampiri Fany.
Fany kelabakan, entah karena ketakutan atau yang lain, Fany mendekati jendela dan menyampirkan tirai yang tertutup untuk melihat keadaan luar rumahnya.
"Zidan udah pergi, Sya?"
"Udah... Dia katanya ada urusan tadi."
Tanpa sadar Fany menghembuskan napas. Dia mengusap dadanya perlahan sebelum menghampiri Asya yang sudah duduk di sofa.
Dua gelas jus sudah dia siapkan di atas meja mengingat Asya akan datang, membuat Fany menyodorkannya dan berkata, "Sya, minum dulu."
Asya manut, wanita hamil itu meminum jus beberapa teguk sebelum kembali menatap sahabatnya penuh selidik. "Kamu kenapa, Fan?"
"Gue ada sesuatu yang mau diomongin sama lo, Sya."
"Apa?"
"Gini--" Fany menghela napasnya pelan, dan membuat raut ekspresi setenang mungkin. "Lo akhir-akhir ini merasa Zidan berubah, gak?"
Membuat Asya terdiam mendengar pertanyaan itu. Faktanya pertanyaan yang dikatakan Fany menjurus pada kenyataan yang sekarang dialaminya.
Zidan berubah, lebih banyak diam seakan menyimpan kekesahannya dalam hati dan enggan untuk berbagi.
Dan memikirkannya membuat prasangka Asya berkelebat. Ekspresi menjadi khawatir dan was-was. Apa jangan-jangan Zidan punya--
"Nggak kok, Sya. Bukan itu maksud gue. Zidan aman kok di kantor, dia gak macem-macem," sela Fany cepat seakan mengetahui jalan pikiran Asya.
Jika saja dia tak memikirkan perihal ini sekarang, dia pasti sudah tertawa terbahak akibat melihat raut wajah Asya yang aneh menurutnya.
"Terus maksud kamu apa? Zidan memang banyak berubah sekarang, dia suka melamun, kayak banyak pikiran."
Fany mengangguk memaklumi, merasa sesuatu tak akan pernah selesai jika hanya dibicarakan, membuat Fany meraih ponselnya di atas nakas dan menunjukkan sesuatu yang sudah disiapkannya.
__ADS_1
"Ini apa?"
"Coba deh lo liat dengan jelas."
Asya melakukannya. Foto itu tampak buram, terlihat seperti diambil dengan teburu. Perlahan, Asya memerhatikkannya dengan jelas.
Dua orang menjadi fokus dalam foto itu. Seorang lelaki dan wanita yang Asya yakin sudah berumur. Lama memperhatikan, membuat Asya mengernyit dalam setelahnya.
"Ini Zidan?"
"Menurut lo?" Fany balik bertanya, membiarkan Asya menyelesaikan pemikirannya sendiri.
"Iya, ini aku yakin Zidan. Dia pake baju ini kemarin, tapi ibu-ibu ini siapa, Fan?"
Fany mendekat, menggeser layar ponsel untuk memperlihatkan pada Asya potret yang makin jelas. Wajahnya Zidan tercetak di sana, dengan seorang wanita paruh baya yang tampak berbicara pada suami sahabatnya itu.
"Ini siapa, Fan. Aku yakin kamu tau, kan?"
Fany mengangguk.
Diamnya Fany dan perubahan wajahnya yang terlihat jelas seakan memberikan jawaban tanpa harus diucapkan.
Asya tersenyum masam, dia kembali memfokuskan pandangan pada ponsel dan berkata, "Kamu gak akan kasih tau, kan?"
"Sorry, Sya. Lo harus tanya sendiri sama Zidan."
...
Asya memilih untuk pulang lebih cepat dari perkiraannya. Dia menyetujui ajakan Fany untuk mengantarnya pulang, dan menelepon Zidan untuk memberitahu setelahnya.
Asya menghela napas. Dia memasuki mansion untuk mendapati bahwa keadaan bangunan itu lumayan sepi. Hanya ada beberapa asisten rumah tangga yang mengerjakan pekerjaan masing-masing.
Sang Ayah mertua pun tentunya saat ini berada di dalam kamar. Kondisinya yang memang tak begitu sehat, membuat Rendi harus sering beristirahat.
Mengedarkan pandangan, Asya kemudian memasuki kamar sebelum membersihkan diri terlebih dahulu. Setelah tubuhnya segar dan bersih, Asya duduk di pinggir ranjang dan kembali malihat layar ponsel di mana foto Zidan dan seorang wanita paruh baya--yang Fany kirimkan padanya--terpampang jelas.
__ADS_1
"Apa yang kamu sembunyiin, Zidan?"
Asya mengusap perutnya pelan. Tak dipungkiri bahwa Asya ingin Zidan terbuka padanya. Hubungan mereka bukan hanya sebatas sepasang kekasih sekarang. Melainkan dua manusia yang sudah mengikrarkan janji di hadapan Tuhan untuk selalu ada apapun yang terjadi.
Lama termenung dengan pemikiran, membuat Asya bahkan tak sadar bahwa Zidan memasuki kamar mereka.
Hingga ketika derit pintu tertutup berbunyi, barulah Asya mengerjab dan mendongakkan pandangan untuk mendapati bahwa Zidan saat ini menatapnya dalam.
"Zidan, kamu kapan sampainya?"
Zidan tersenyum, dia berjalan menghampiri Asya sebelum menunduk dan mengecup puncak kepalanya penuh sayang. "Baru aja. Oh ya, kamu ngapain, sampai gak sadar aku pulang?"
Menyadari bahwa mungkin saja Zidan bisa melihat layar ponselnya di mana foto lelaki itu tertera, Asya mematikan benda itu cepat dan menuntun Zidan untuk duduk di sebelahnya.
"Kamu capek?"
"Sedikit..." Zidan mengangguk. menikmati pijatan lembut yang Asya angsurkan di lengannya. "Tapi, kalau kamu pijetin, aku yakin capeknya hilang."
Asya bersemu merah, pipinya dan hatinya menghangat hanya kata singkat itu. Setelah memijat dan mengobrol ringan beberapa saat, Asya membiarkan sang suami untuk pergi ke kamar mandi dan membersihkan diri.
Dia menuju walk in closet, menyiapkan pakaian santai dan dalaman yang dia letakkan di atas ranjang sebelum memilih untuk memeriksa ponsel kembali.
Lagi-lagi pandangan Asya terpekur. Lama memandang membuat desir samar menggetarkan dada Asya. Sadar atau tidak, Asya dapat merasakan kejanggalan dari ekspresi Zidan dan wanita paruh baya itu di dalam foto.
...
Sorry ceritanya makin gaje😅😅
Sebenarnya dewi lagi dalam keadaan stuck dan mulai kehilangan feel untuk karya ini. Masalah di dunia real makin banyak, dan untuk menulis cerita, kita sebagai author dituntut untuk jatuh cinta sama karya kita sendiri.
Dan dewi mulai kehilangan itu...
So, semoga kalian masih nunggu cerita ini, ya...
Karena bagaimana 'pun, dewi akan berusaha untuk namatinnya.
__ADS_1
Dan semoga pula dewi bisa semangat lagi..😊😊