
Andi hanya bisa berdecak saat melihat keadaan Raihan saat ini. Tampilan lelaki itu terlihat menyedihkan, dengan tangan yang menggenggam ponsel dan menyebut nama Asya secara berulang.
Andai saja dia tak mencuri dengar dari seorang lelaki yang minum di sampingnya, mungkin saja dia tak bisa menemukan Raihan hingga saat ini.
Ya, Raihan memang saat ini cukup mencuri perhatian dari seluruh penghuni klab. Pasalnya lelaki itu tampak menyedihkan kerena menangis, atau lebih tepatnya mengeluarkan air mata yang berlebih.
Mendengus, Andi berjalan mendekati Raihan dan duduk di kursi kosong sebelahnya. Tak ada tanggapan, membuat Andi kembali menepuk bahu lelaki itu dengan tekanan yang lebih kuat.
"Siapa?" Raihan menoleh dan mengedip, selanjutnya kekehan sumbang mulai terdengar dari mulut yang berulang kali meneguk minuman itu. "Lo.. Andi kan? Ngapain lo disini?"
"Seharusnya gue yang tanya, lo ngapain disini?"
Wajah Raihan tertunduk, lelaki itu kembali menuangkan vodca kedalam sloki sebelum meneguknya. "Gue? Hahaha.. gue kesini buat nenangin pikiran.."
Andi berdecak, mendengar perkataan Raihan membuatnya merebut botol minumam milik lelaki itu dan meneguknya langsung. "Nenangin pikiran, atau cari tempat buat nangis gak jelas?"
"Mungkin keduanya."
Gumaman itu walaupun terdengar samar, Andi masih dapat mendengarnya. Jujur, dia merasa prihatin dengan keadaan Raihan sekarang. Dia juga pernah mengalaminya dulu, di khianati atau lebih tepatnya ditinggalkan tanpa kejelasan.
Tapi, dalam kasus Raihan. Walaupun tampak sama seperti kejadian yang menimpanya, tak bisa di pungkiri keadaannya jauh berbeda.
Dari yang pernah dia dengar dari Fany, Asya terpaksa memutuskan lelaki disampingnya ini karena ancaman Zidan. Sungguh dia tak menyangka sahabatnya itu akan melakukan apa saja untuk mendapatkan segala yang diinginkan.
"Gue.. sakit.." Tangan yang terkepal, memukul dadanya berulang. "Gue masih cinta sama dia An, tapi dia.. dia malah punya anak dari cowok lain.."
Mata Andi terbelalak, lelaki itu meletakkan botol di atas meja bartender dan berbalik menghadap Raihan. "Maksud.. maksud lo apa? Lo bilang Asya--"
"Hahaha.. lo kaget kan?" Raihan menepuk bahu Andi, sebelum melanjutkan, "Apalagi gue, gue.. gue bahkan udah berancana menikah sama dia.. tapi dia, dia tetap milih Zidan.."
"Yang benar, Han.. lo gak bisa bilang yang bukan-bukan."
"Maksud lo.. gue bohong? gue gak mungkin begini, kalau bukan Asya yang kasih tau gue.."
Setelahnya, kepala Raihan tertelungkup di atas meja. Lelaki itu bahkan sempat mengeluarkan air mata sebelum kehilangan kesadaran seperti sekarang ini.
Sedangkan Andi, dia masih terpaku dengan mata menatap Raihan. Tak bisa di pungkiri dia iba dengan keadaan lelaki yang baru saja di kenalnya. Dia baik, dan Andi tau itu. Serta ucapan yang dia layangkan, tampak meyakinkan. Bukankah orang yang mabuk, s'lalu mengatakan kejujuran?
...
Dengan gerakan konstan, Asya menyentuh perut ratanya dengan sentuhan lembut. Mengambil segelas susu kehamilan, Asya pun meneguknya secara perlahan.
__ADS_1
Seperti apa yang dokter Sari sarankan kepadanya saat pemeriksaan yang lalu, sudah beberapa hari ini Asya rutin meminum susu kehamilan untuk sijabang bayi.
Tersenyum, Asya mulai menghidangkan menu sarapan ke meja makan. Disana Ana sudah menunggu dengan stelan pakaian yang rapi. Perempuan itu baranjak, dan mendekati Asya, membawa serta beberapa piring berisi menu hidangan yang simple tapi terlihat mengugah selera.
"Enak banget nih, keliatannya.." puji Ana, kemudian duduk dikursi diikuti Asya.
"Mana ada kak, cuma menu sarapan rumahan."
"Tapi bener lho.. keliatan enak. Kamu dari kapan udah bisa masak?" tanya Ana, mulai menyuapkan nasi goreng yang masih hangat seraya menatap Asya.
Pandangan Asys menjadi sendu, dia juga ikut menyuapkan nasi gorang, dan menjawab setelahnya, "Sewaktu mamah masih hidup, dia yang ngajarin aku masak. Dan waktu aku mulai kuliah dan tinggal sendiri, ya.. jadi mulai terbiasa deh.."
Suapan makanan itu terhenti, kemudian tangan Ana bergerak, menepuk bahu Asya pelan. "Maafin kakak ya, Sya.. kalau kakak tau kamu jadi sedih, kakak gak mungkin--"
"Gak pa pa kak." Asya tersenyum lembut. "Lagi pula kejadiaannya udah lama, kok.."
Setelahnya hanya keterdiaman yang terjadi. Suara deting piring dan sendok memenuhi ruang makan minimalis milik Asya, sebelum Ana mulai berbicara, "Oh ya, Sya.. mual kamu masih parah?"
Asya menggeleng. "Gak terlalu sih kak, cuma ya.. gitu. Lagi pula kata dokter Sari biasa kan?"
"Iya sih.. tapi kalau kamu mau, kakak bisa atur temu janji kamu lagi sama dokter Sari. Mungkin kamu bisa minta saran untuk atasin morning sickness, supaya lebih ringan.."
Beberapa menit setelahnya, kegiatan sarapan Ana pun selesai. Perempuan itu turut membantu Asya membereskan perkakas makan, sebelum berpamitan kepada Asya untuk pergi ke Rumah Sakit setelahnya.
Dan disini lah Asya, duduk sendiri diruang tamu dengan mata yang menatap layar ponsel, dimana nama Zidan tertera.
...
"Yaudah, kamu jangan terlalu capek Zidan disana. Inget, jaga kesehatan.."
'Iya-iya.. kamu juga jaga kesehatan, Sya.. jangan terlalu capek. Oh ya, mungkin aku lusa baru pulang kesana, ternyata ada beberapa kendala yang harus aku selesaikan disini. Kamu gak pa pa, kan?'
Asy menggeleng, walaupun dia tau Zidan tak akan bisa melihatnya. Menghela napas, Asya menjawab, "Iya. gak pa pa. Lagi pula waktu kamu pulang nanti, ada sesuatu yang aku mau kasih tau ke kamu."
'Kasih tau apa? Kenapa gak sekarang aja.'
"Waktu ada kamu aja, secara langsung biar enak. Yaudah, gih sana lanjut kerja."
'Oke.. kalau gitu aku lanjut kerja dulu. Love you.'
"Love you, too."
__ADS_1
Sambungan telepon berakhir. Asya masih terdiam dengan mata yang menatap layar ponsel yang menggelap sebelum berjengkit kaget, karena suara bel apartemen yang terdengar tiba-tiba.
Meletakkan ponsel di atas nakas, Asya beranjak menuju pintu, lalu membukanya. Wajah perempuan itu tampak sumringah ketika melihat siapa yang datang, namun ekspresi itu tak berlangsung lama.
"Fany? Kamu ngapain dateng sama Andi?"
Fany menyengir kemudian menoleh, dan menatap Andi dengan pandangan tajam. Andi hanya hisa mendengus tak suka, sebelum pandangannya dia arahkan kepada Asya.
"Sya.. ada.. eumm.. ada sesuatu yang gue pengen omongin."
Dahi Asya berkerut dalam, apalagi saat matanya menatap Fany yang tampak melayangkan guratan keraguan disana. Menelan ludahnya kasar, Asya menjawab, "Ayo deh, masuk."
Akhirnya, setelah persetujuan singkat itu -- Asya menuntun Fany dan Andi untuk memasuki apartemennya. Kedua orang itu duduk di sofa, sementara Asya beranjak menuju dapur untuk membuat minuman.
"Jadi, apa yang mau kamu omongin, An?" tanya Asya seraya meletakkan nampan berisi tiga gelas minuman.
Andi yang ditanya seperti itu hanya tersenyum kikuk. Andai saja perasaan penasaran dan rasa ibanya bisa dia tekan, tak mungkin dia bisa nekat untuk menghampiri Fany ke rumahnya dan memohon untuk di temani menemui Asya.
"Jadi, gini nih.. aku-- aww!!"
Perkataan Andi berubah menjadi suara mengaduh begitu Fany mencubit lengannya. Tatapan mengancampun dia berikan, tapi entah kenapa tak bisa membuat perempuan itu takut sedikitpun.
"Gini, Sya.. jadi.. eumm.."
Alis Asya tertaut begitu mendengar gumaman panjang dari Fany, sahabatnya itu tampak gugup menurut Asya.
"Jadi, apaan?"
"Gini.." Fany menghela napas, sebelum berkata, "Andi semalem ketemu sama Raihan, dan.. dan dia ngasih tau sesuatu tentang masalah yang cuma kita tau."
Asya masih bingung mendengar perkataan Fany yang menurutnya sedikit mengambang. Namun, melihat gerak-gerik Fany yang tampak gelisah, membuat Asya turut didera hal yang sama.
"Raihan.. Raihan, bilang apa sama.. kamu?"
Andi memejamkan mata, lelaki itu pun menjawab, "Dia bilang lo sama Zidan akan punya baby.."
Perkataan itu memang dikatakan dengan nada halus dan terkesan sopan, namun tak bisa dipungkiri dapat membuat jantung Asya berdegup dan takut setengah mati.
...
Vote, like dan coment ya..
__ADS_1