My Devil Man

My Devil Man
MDM- Part 75


__ADS_3

Usapan di perut buncitnya membuat manik lentik itu mengerjab. Asya membuka matanya, meraba lengan yang kini mengusap perutnya seraya tersenyum kecil.


"Zidan?"


"Hmm?"


"Jam berapa sekarang?" tanya Asya. Badannya menggeliat berusaha mengusir penat setelah kegiatannya semalam dengan Zidan.


Lelaki itu enggan menjawab. Dengan gerakan lembut Zidan justru kembali menenggelamkan kepalanya dalam surai halus Asya. Tak ada yang ingin dia lakukan hari ini kecuali bergelung di bawah selimut, dengan tubuh polos sang Istri yang ada didekapan.


Merasa pelukan Zidan makin mengencang, Asya kembali bergerak seraya berkata, "Zidan, aku gak mau di dalam villa mulu. Aku mau jalan-jalan."


"Nanti aja, Sya.."


Suara Zidan yang teredam membuat Asya terkikik geli. Sekali lagi, wanita itu menggeliat sebelum akhirnya berhasil membebaskan diri.


Asya bangkit dari ranjang dan langsung memakai jubah tidur untuk menutupi tubuh polosnya. Melihat Zidan yang masih terpejam membuat Asya berdecak.


Lantas wanita itu memilih masuk ke kamar mandi untuk menyegarkan diri.


Helaan napas nyaman langsung meluncur dari bibi Asya begitu tubuh pegalnya terendam air hangat. Busa yang melingkupi menambah kesan dari itu semua.


Mata Asya masih terpejam, enggan terbuka bahkan saat gesekan pintu geser berbunyi diikuti suara tapak basah seseorang.


Tanpa harus menerka, Asya sudah tau siapa orang tersebut. Apalagi saat telapak tangan itu mulai menggosok-gosok lengannya dengan gerakan naik-turun.


"Tadi gak mau bangun," ledek Asya dengan mata yang masih terpejam.


"Ya, itu tadi," jawab Zidan.


Lelaki itu ikut berendam dalam bathup. Tubuh Asya yang sedikit berisi dia sandarkan di dada bidangnya. Tangannya bergerak kedepan, mengusap sambil lalu perut Asya yang membuncit.


Kebiasaan baru memang dan ajaibnya selalu membuatnya berdebar.


"Tiga bulan lagi, Sya. Ziano akan lahir."


"Ziano?" Asya bertanya heran. Membalikkan tubuh dan kini bersandar di sisi bathup satunya -- menghadap Zidan.


"Iya, Ziano."


"Itu nama Baby kita?"


Zidan mengangguk.


"Tapi itukan nama laki-laki, kamu yakin Anak kita jenis kelaminnya itu?"


Zidan kembali mengangguk, tangan lelaki itu meraih tangan Asya dan mengusapnya sambil lalu.


"Aku merasa yakin aja."

__ADS_1


"Tapi kenapa harus Ziano?"


Zidan mengerutkan alis. "Memangnya gak bagus?"


Asya terdiam sejenak, membiarkan Zidan membalikkan tubuhnya dan menyandarkannya di dada bidang lelaki itu. "Kenapa harus Ziano? Nama itu aja hampir sama dengan nama kamu. Zidan.. Ziano.. Tuh kan sama!"


Asya memberenggut membuat Zidan terkekeh geli sebelum menjelaskan, "Sya, nama Ziano itu singkatan tau. Ziano. Zi, untuk Zidan. A, untuk Asya. No, untuk Vano."


"Oh.." Asya ber'oh' ria. "Jadi kamu mau kasih nama Vano?"


Zidan mengangguk. "Tapi gak jadi, entah kenapa tadi malem aku kepikiran nama itu."


Asya tersenyum setelahnya, wanita itu tak mengatakan apapun lagi, dan kembali memejamkan mata seraya menikmati usapan Zidan pada perutnya.


...


Bunyi riak air makin terdengar, Asya makin mempercepat langkah kakinya dan membuat Zidan yang mengikuti menghela napas pasrah.


Setelah mereka sarapan, Asya mengajak Zidan untuk melihat sungai yang memang notabennya terdapat di dekat villa mereka.


Zidan sempat menolak, dengan dalih jalan menuju sungai itu terjal dengan bebatuan besar yang susai dilalui.


Tapi bukan Asya namanya jika tak bisa membujuk Zidan. Dengan bola mata besar yang menggemaskan, Asya menatap Zidan dan akhirnya membuat sang Suami luluh.


Dan di sini lah dia sekarang, mengikuti Asya yang terus saja berjalan seraya bersenandung tak jelas.


Dress hamil bermotif bunga matahari itu tertiup angin. Menambah kesan. Apalagi saat Asya sudah berdiri di sisi aliran sungai yang jernih.


Asya terdiam. Dia memandang takjub pada riak sungai yang mengalir. Air tampak jernih, dan sepanjang mata memandang terdapat beberapa warga desa yang tengah melakukan aktifitas sehari-hari.


"Zidan, aku mau duduk di situ."


Zidan mengikuti arah telunjuk Asya sebelum memapahnya untuk duduk di salah satu batu yang berukuran sedang.


Asya tertawa bahagia. Kakinya dia selonjorkan untuk menikmati aliran sungai yang menggelitik.


Di sisi lain Zidan terpana, bukan karena pemandangan sungai melainkan karena wanita yang kini telah menjadi Istrinya tersenyum bahagia.


Ya, bisa dibilang Zidan sudah lama tak melihat tawa bahagia itu. Masih teringat dalam pikirannya bagaimana wajah sendu Asya menyambut matanya yang perlahan terbuka.


Empat belas hari. Ya, empat belas hari masa komanya dan Zidan sadar selama itu pula Asya tersiksa karena menunggunya.


Dan kerena itu dia bertekad akan membahagiakan Asya. Apapun, bahkan jika Asya memintanya untuk meninggalkan wanita itu, akan dengan senang hati Zidan lakukan.


Tapi Tuhan berkehendak lain. Asya memaafkannya, bahkan menerima lamarannya untuk menikah dan menghabiskan masa tua bersama.


"Zidan..?"


Zidan terhenyak, lelaki itu menoleh dan ikut duduk di sisi Asya -- di atas batu sedang itu.

__ADS_1


"Ada apa, Sya?"


Tak menjawab, Asya memilih menunduk. Jemarinya yang terjalin membuat Zidan kembali bertanya, "Ada apa, Sayang?"


"Zidan aku mau ikan."


"Ikan?" Zidan mengernyit. "Ikan apa?"


"Aku mau ikan bakar."


"Nanti kita beli, dari yang aku dengar di sini ada rumah makan yang jual ikan bakar. Kalau kamu mau, kita bisa pergi ke sana buat makan siang."


"Aku gak yang mau dibeli."


Zidan makin bingung. "Trus ikan bakar yang gimana, Sya?"


"Aku mau kamu yang tangkep. Kayak orang itu."


Lagi-lagi Zidan mengikuti arah tunjuk Asya. Jika sebelumnya jemari Asya itu menunjuk batu yang sekarang dia duduki, maka kali ini jemari itu menunjuk lelaki paruh baya yang sedang menangkap ikan dengan alat yang sederhana.


Terlihat seperti tombak, namun Zidan yakin namanya bukan itu.


"Tapi, Sya--" Kalimat Zidan yang hendak menolak terhenti. Lagi-lagi mata besar itu memandangnya dengan menggemaskan.


Alhasil membuat Zidan menghela napas sebelum berajak mendekati lelaki paruh baya tersebut.


Asya yang melihatnya hanya tersenyum tipis. Apalagi saat melihat Zidan mengunakan alat menangkap ikan itu dengan gerakan yang teramat kaku.


Bahkan hingga satu jam berlalu, Zidan belum juga mendapatkan ikan dan mendekatinya dengan tangan kosong.


Asya hendak merengut kesal. Tapi semua seakan sirna ketika mata Suaminya bersinar lelah.


"Sya, aku gak bisa nangkepnya."


"Gak pa pa, Zidan."


"Ziano, Papah minta maaf, ya..," ucap Zidan seraya mengusap tempat bergelung sang Anak.


"Dia gak marah, Zidan.."


"Trus, gimana? Kamu berarti gak jadi dong makan ikan bakarnya?"


"Kita makan di tempat kamu bilang tadi aja."


"Yaudah, yuk."


Meraih tangan Asya, Zidan membantu sang Istri untuk menuruni batu tersebut. Sikap yang sederhana memang, tapi mencerminkan seberapa besar Zidan mencintai sang pujaan.


...

__ADS_1


Like dan Coment.


__ADS_2