
"Mah, udah selesai masaknya?"
Pertanyaan itu membuat Rina terhenyak. Sambil terus mengaduk, wanita paruh baya itu tersenyum dan menoleh sekilas untuk melihat Zidan yang memeluknya manja.
Ya, semua sudah kembali normal seperti sedia kala. Rina dan Zidan yang sudah berbaikan. Bahkan keberadaan Rina di mansion mereka bukanlah sebuah hal yang tabu. Mereka kembali merajut kenangan tanpa mengindahkan keberadaan masa lalu yang pernah memecah kebersamaan keduanya.
"Sebentar lagi, Sayang," jawab Rina.
"Kok lama banget, sih ...." Zidan menggerutu kesal, terdapat selipan nada manja di balik rengekannya.
Hal itu kembali membuat Rina terkekeh. Sambil mengaduk, Rina mengalihkan perhatiannya kepada Ana yang sudah berdiri dan bersandar di kusen pintu dapur. Anak perempuannya itu tampak menahan tawa sebelum mengatakan hal yang membuat Zidan mendelik kesal.
"Mamah kok sanggup ladenin anak manja kayak Zidan? Dia itu kan udah besar, Mah. Udah mau jadi bapak-bapak lagi. Memang gak malu, ini anak. Gak inget umur."
"Mamah juga gak tahu, coba kamu tanya sama adik kamu, ini, Ana," jawab Rina mengendikkan bahunya pelan.
Zidan memajukan bibir. Menggerutu kesal. Meski pun perkataan Ana hanya dimaksudkan untuk meledek, Zidan tak urung untuk membalas. "Yeah ... daripada Kak Ana yang masih jadi jomlowati, lebih baik aku lagi yang udah punya istri. Apalagi aku udah mau punya anak, Kak. Kakak kapan? Kalau masalah umur? Inget, Kak. Menikah terlambat juga gak bagus, apalagi buat perempuan kayak Kakak."
"Mah!! Zidannya tuh ...." Ana menghentakkan kaki. Jari telunjuk perempuan itu bahkan sudah menunjuk tegas wajah Zidan yang berjarak beberapa meter darinya.
Rina tak bisa menahan tawa. Mematikan kompor, Rina menoleh sekilas dan mengusap pipi Zidan lalu melambaikan tangan kepada Ana hingga membuat sang anak mendekat.
Dia melepaskan pelukan Zidan pelan. Kemudian beralih menggandeng dua anaknya yang kini sudah dewasa itu untuk duduk di kursi yang tersedia di konter dapur.
"Kalian ini ...." Rina menggeleng, melipat dua tangan di depan dada. "Udah besar, kok, mainnya ledekan, sih?"
"Kak Ana duluan, Mah!"
"Zidan duluan, Mah!"
Mereka berseru serempak, setelahnya saling berpandangan dan menyebarkan aura permusuhan. Zidan yang mendelik, Ana yang melebarkan kedua matanya. Hidung mereka kembang kempis. Meski demikian tak dapat dipungkiri bahwa itu semua adalah hal yang lumrah bagi sepasang kakak beradik.
"Udah ... udah ...." Rina melerai. Tertawa pelan ketika dua anaknya memandangnya secara bersamaan. "Kalian ini udah besar, lho. Dan Zidan, benar kata Kakak kamu, Nak. Kamu hampir jadi seorang ayah, manja boleh tapi jangan kelewatan, ya?"
Zidan mengangguk, membuat pandangan Rina kali ini beralih kepada anak perempuannya.
"Dan Ana. Benar kata Zidan, Nak. Kapan kamu mau ngenalin seseorang ke Mamah? Mamah gak sabar, lho, mau nimang cucu juga dari kamu. Asya hampir melahirkan dan Zidan sebentar lagi hampir jadi ayah. Kamu kapan, Sayang? Apa kamu gak mau berkeluarga dalam waktu dekat?"
Ana menunduk ketika mendengar pertanyaan ibunya. Dia memilih jari. Sejujurnya dia menginginkannya juga, akan tetapi--
__ADS_1
"Kan ada Raihan, Mah? Mamah pasti kenal Raihan, kan? Dia itu deket sama Kak Ana."
Ana mendelik. Kali ini raut wajahnya yang kesal tak bisa ditahan. Baru saja akan mencecar Zidan yang seenaknya berbicara, pertanyaan Rina membuat pipi Ana merah padam.
"Raihan? Oh ya, Mamah kenal dia. Mamah pernah ketemu beberapa kali, bahkan waktu di apartemen dia ada datang, kan?"
Bukan Ana, melainkan Zidan lah yang mengiyakan. "Iya, Mah."
"Terus?" tanya Rina lebih lanjut.
Zidan menyeringai, melirik Ana sekilas dan menaik turunkan alisnya dengan pandangan mengejek. Zidan tak urung berkata, "Mereka udah deket banget, Mah. Bahkan Kak Ana sengaja gak bawa mobil kalau lagi kerja ataupun berangkat seminar, karena kalau pulang, Raihan yang jemput dia, Mah."
"Zidan!!"
Yang diperingati tak memperdulikan. Zidan hanya tersenyum sekilas dan kembali melanjutkan, "Menurut Mamah, Raihan orangnya gimana, Mah?"
Rina nampak berpikir. Wanita paruh baya itu tersenyum dan melihat Ana setelahnya. "Dia baik, ramah senyum, sopan juga dan sepertinya cocok deh untuk anak Mamah yang cantik ini."
"Ih, Mamah ...."
...
Asya memejamkan matanya perlahan. Berbaring di atas gazebo dengan merebahkan kepalanya di paha Zidan adalah hal yang terasa menyenangkan. Menikmati angin segar, gemerisik pancuran air dan serangga cantik yang beterbangan.
Asya berusaha bangkit. Dibantu Zidan, Asya bergerak untuk kemudian duduk dengan Zidan yang memeluk pinggangnya. Kelahiran tinggal menghitung hari. Tak terasa memang, apalagi kebahagiaan yang seakan selalu saja menghampiri mereka membuat Asya menjalaninya dengan penuh rasa syukur.
"Nak, ini minum dulu," ucap Rina. Mengambil segelas jus, wanita paruh baya itu menyerahkannya kepada Asya dan membantunya untuk meminum dalam beberapa tegukan.
"Makasih, Mah."
"Sama-sama, Sayang."
Mereka duduk berdampingan. Bersenda gurau, menghabiskan hari dengan mengobrol ria. Asya merasakan kehangatan itu. Berbagi cerita tentang masa kecil sang suami dan kak Ana, Asya bahkan tak sanggup untuk tak bertanya.
"Zidan dan Kak Ana waktu kecil gimana, Mah?"
Pertanyaan itu seakan membuat Rina bernostalgia. Mengingat masa-masa indah pertumbuhan kedua anaknya.
"Zidan itu anak yang aktif banget, Sayang. Sedangkan Ana gak jauh beda. Mereka sepaket."
__ADS_1
"Trus?" lanjut Asya penasaran.
Membuat Rina tersenyum sekilas, mengusap pipi Asya yang sedikit berisi, Rina melanjutkan, "Apalagi waktu mereka kecil. Sifat Zidan lah yang paling aneh. Waktu umur-umur dua tahun gitu, dia itu kalau lagi poop, maunya ngumpet terus."
"Mah ...." Zidan mendelik.
"Mau tahu gak, dia itu ngumpetnya di mana?" lanjut Rina.
"Memangnya di mana, Mah?" jawab Asya antusias, dirinya bahkan tak memperdulikan raut wajah sang suami yang masamnya bukan main.
"Di balik gorden, Sayang. Dia itu kalau udah sakit perut, ya akan ngumpet di balik itu. Muter-muter gak jelas sampai kebelit sama kain gorden." Rina menahan tawa, menoleh ke arah Rendi kemudian bertanya, "Ya, kan, Mas?"
"Iya. Gak akan ketemu sebelum kecium baunya."
Tak bisa dikatakan betapa merahnya wajah Zidan sekarang. Tak ada yang tak tertawa mendengar kisah keanehan dirinya bahkan Asya sekali pun. Dengan perut besar dan tubuh terguncang, Asya tertawa lepas. Air matanya bahkan keluar karena mendengan cerita yang menurut Zidan sendiri terdengar konyol.
"Oh, ya, Mah. Mamah inget gak siapa yang waktu itu ledakin balon pake korek sampe alis dan bulu matanya rontok? Mukanya juga gosong. Apalagi rambutnya? Udah pendek, berdiri lagi ... kayak habis kena setrum. Mamah inget gak?" tanya Ana.
Zidan melotot. Bibirnya terlipat. Lelaki membentuk gestur yang seakan mengatakan 'Jangan kasih tahu!' yang sama sekali tak dipedulikan oleh Ana.
Seperti apa yang Zidan lakukan sewaktu meledeknya di dapur. Ana membalas Zidan dengan menaik turunkan alis.
"Itu Zidan, kan." Bukan Rina, melainkan Rendi lah yang menjawabnya.
Mulut Asya menganga lebar. Dia menoleh untuk menatap sang suami dengan tangan terangkat sebelum kemudian mengusap wajah Zidan dengan alis tertaut. Membayangkan Zidan kecil dengan penampilan seperti yang Ana jabarkan sebelumnya membuat Asya tak bisa berkata apa-apa lagi selain, "Kamu bener-bener kayak gitu, Zidan?"
"Kak Ana!!"
Rasain!! Itu akibat kamu ledekin Kakak, Zidan .... Hihihi ....
...
OTW tamat, Gaess ....
Yuk, like yang kenceng, jangan lupa coment nya, jugaðŸ¤ðŸ¤
Note : Untuk cerita meledaknya balon (gak tahu sebutan balonnya apa, yang jelas balon yang bisa melayang itu) karena main korek itu beneran terjadi, lho, gaess. Kakak pertama aku dulu tuh gitu. Alis sama bulu matanya hampir semuanya rontok. Rambutnya berdiri semua, bahkan mukanya sampe gosong gaess.🤣😂
Dan untuk cerita ngumpet di balik gorden pas lagi poop itu, kelakuan adek aku pas masih kecil. Sekitaran umur dua tahunan gitu.😂🤣
__ADS_1
Jadi semua itu aku ambil dari kisah keluarga sendiri, lho.
Oh, ya. Ada yang samaan?