
Matahari menyingsing, menyisakan langit yang ditemani cahaya redup bulan. Asya masih setia berdiri di balkon kamarnya, memandang dengan pandangan kosong mobil Zidan yang tak jauh terparkir.
Lelaki itu enggan untuk tinggal, dia lebih memilih tidur dengan posisi tak nyaman, dibandingkan dengan menerima tawaran untuk tidur sementara di villa ini.
Sebenarnya apa yang dipikirkan lelaki itu? Bukankah di posisi ini dia lah yang harusnya marah? Bukankah dia lah yang harusnya kecewa dengan apa lelaki itu lakukan?
Bahkan, setelah mengetahui bahwa Zidan sudah memberitahu perihal kehamilannya pada keluarga Omnya, Asya sangat takut untuk membuka ponsel, menjawab semua panggilan yang diyakininya dari keluarnya itu.
Sungguh tragis nasibnya. Sebenarnya apa yang Tuhan rencanakan? Mengapa semua terasa sulit?
"Menyerah Zidan... gak ada gunanya lagi untuk dipertahankan, aku udah terlanjur kecewa..."
Asya mengucapkan itu seraya memegang dadanya yang teramat sakit. Bukan perjuangan seperti ini yang Asya inginkan. Bukan ini yang Asya harapkan dari lelaki itu.
Dia ingin ucapan maaf. Bukan maaf yang selama ini dia dengar, melainkan ucapan maaf dengan penyesalan yang nyata, dan dia belum melihatnya dari Zidan.
Hingga derit pintu terdengar, suara tapak melangkah mendekati membuat Asya menoleh.
"Kak Ana?"
"Sya..." Ana tersenyum. "Boleh kakak ngomong sebentar?"
Asya mengangguk, duduk di pinggir ranjang tepat di samping kak Ana.
"Mau ngomong apa, kak?"
"Zidan--"
Asya diam, tak ingin menyanggah ataupun memerhatikan.
"Dia tulus cinta kamu, Sya."
"Aku tau."
"Tapi kenapa--"
"Aku nolak dia?"
Ana mengangguk membuat Asya menghela napas.
"Aku belum liat rasa penyesalan yang seharusnya. Ya, walaupun aku udah merasa dia memang menyesal. Tapi bukan ini yang aku harapkan, kak. Bukan dengan dia dateng ke keluarga aku lalu memberikan penjelasan, bukan itu.."
"Trus, Sya?" Ana menggenggam tangan Asya. "Kakak bukannya mau egois, tapi sebagai seorang kakak, kakak gak bisa liat Zidan gini, Sya."
Asya memandang Ana, mencoba memahami posisi perempuan itu. Tapi, sekali lagi. Hatinya ingin egois kali ini. Dia ingin Zidan merasakan apa yang dia rasakan. Berusaha menjelaskan, meminta maaf dengan tulus, Asya ingin lelaki itu turut mengalaminya.
Dan jika dia dibilang egois, dibilang munafik dan entah apa sebutannya selain itu, maka Asya akan menjawab; Ya, dia memang wanita seperti itu.
"Kak Ana mau dengar aku cerita sesuatu gak?"
Ana mengangguk kendati masih dalam posisi bingung.
"Aku ketemu Zidan waktu aku pindah ke sekolah dia. Hubungan yang bisa dibilang berawal dari sesuatu yang konyol. Aku nyaman, dan di saat aku mulai naruh perasaan, dia bilang aku perusak rumah tangga orang tuanya.."
"Sya..." Ana makin mengeratkan genggaman.
Dan karenanya Asya tersenyum. "Aku dikeluarin dari sekolah kerena fitnah gak jelas. Tujuh tahun aku ketemu Zidan lagi, dia perlakuin aku layaknya bukan manusia. Pelecehan, hinaan, dan ya.. Akhirnya seperti ini kak, aku hamil. Padahal aku masih berhubungan sama Raihan dulu."
__ADS_1
"Sya... Maafin Zidan ya? Kakak gak tau kalau dia begitu dulu. Andaikan--"
Asya menggeleng, mendekap tubuh Ana yang bergetar. "Kak, aku bukannya gak mau maafin Zidan. Tapi..., mungkin belum saatnya."
"Sya...," gumam Ana disekian rasa sesak.
Mungkin, jika dia menjadi Asya dia akan melakukan hal yang sama. Meninggalkan Zidan dan menyiksanya hingga lelaki itu menyesal, sangat menyesal.
...
Meremat roda kemudi dan memandang Asya dari balik kaca buram, hanya itu yang bisa Zidan lakukan.
Masih terbayang dalam pelupuk bagaimana Asya kembali menolak kehadirannya. Usahanya yang kesekian, kali ini kembali gagal.
Wajahnya yang babak belur, ternyata juga tak bisa menggoyahkan hati Asya barang sedikitpun.
Zidan meringis. Sesak dan sakit menderanya secara bersamaan. Apakah ini benar-benar akhir?
Apakah dengan penolakan ini Zidan harus benar-benar pergi?
Dan suara dering ponsel, mungkin akan menjawab pertanyaan yang berkecamuk di dalam pikirannya dengan lugas.
"Halo Anita, ada apa?"
'Pak, maaf sebelumnya menganggu malam-malam.'
"Tak apa, An. Kamu mau menyampaikan sesuatu?" tanya Zidan dengan pandangan tak lepas dari objek yang sedari tadi dia perhatikan.
'Pihak investor tadi menghubungi perusahaan, Pak. Mereka ingin mengetahui progres pembangunan dari Bapak secara langsung. Dan jika anda berkenan, mereka ingin bertemu anda di lapangan.'
"Mereka ingin bertemu di lapangan?"
Zidan sejenak berpikir. Mungkin ini adalah keputusan yang terbaik ke depannya. Untuk Asya dan dia tentunya.
"Baiklah, saya akan berangkat besok. Siapkan tiket perjalanan dan akomodasi lain."
'Baik, Pak.'
Zidan menghela napas begitu sambungan terputus. Dia menatap layar ponsel, dimana fotonya dan Asya terpajang sebagai wallpaper.
Lalu diapun kembali mendial sebuah nomor.
"Yud...," sapanya begitu sambungan terhubung.
'Eh, Dan? Lo masih di luar?"
"Hmm.."
'Keras kepala banget sih lo, ditawarin masuk, bukannya masuk. Kenapa, lo berubah pikiran?'
Zidan mendengaus, namun kembali menjawab, "Nggak, gue cuma mau ngomong."
'Ngomong apaan?'
"Gue kayaknya bakal balik ke Jakarta besok. So, gue titip Asya, ya.."
'Eh, kok balik? Lo yakin?' tanya disebrang dengan nada terkejut.
__ADS_1
"Iya. Gue ada kerjaan, besok gue harus terbang ke Surabaya, ada yang harus gue urus."
'Lo nyerah gitu?'
"Nggak, Yud.. gue ngasih jarak aja. Sementara gak ketemu, kayaknya bakal jadi keputusan bagus. Dan karena itu gue nitip Asya, bilang juga sama kak Ana, suruh bawa Asya periksa ke dokter kandungan. Hasilnya kirim ke e mail gue."
'Oke..' Terdengar helaan napas dari sebrang. 'Gue bakal kasih tau kak Ana pesan lo. Jaga diri lo, oke?'
"Oke, bro. Thanks.."
Setelahnya panggilan kembali berakhir. Zidan menarik napas dalam. Mungkin ketidak hadirannya di sisi Asya akan memakan waktu lama.
"Semoga, waktu kita ketemu lagi, kita baikan ya Sya.."
...
Pagi seperti biasa, dengan aktifitas yang biasa pula. Asya, Ana, Fany, Andi dan Yuda menyantap sarapan dengan tenang, tak ada satupun yang membuka percakapan di antara mereka.
"Sya, udah selesai?" tanya Ana, seraya mengelap sudut bibir dengan tisu.
"Udah kak."
"Nih, Sya." ujar Fany, sahabatnya itu menyodorkan segelas susu kehamilan kepada Asya dan langsung disambutnya.
Dia meminumnya dengan pelan hingga tandas. Kemudian beranjak untuk membereskan perlengkapan makan bersama dengan Fany. Meninggalkan Ana, Andi dan Yuda di ruang makan.
"An, Zidan masih ada di depan gak?" Perempuan itu bertanya dengan tangan yang bergerak lincah, menyusun beberapa menu sarapan dalam piring yang hendak dia antarkan pada sang adik.
"Dia udah pulang, kak." Bukan Andi, melainkan Yuda lah yang menjawab.
"Lah, si Zidan pulang?"
"Iya."
"Ada bilang alasannya apa?" sambung Ana.
"Dia ada urusan. Ada kerjaan katanya di Surabaya."
"Oh." Andi mengangguk, turut merasakan kekecewaan saat sahabatnya itu pergi.
"Dia nitip."
"Nitip apa?" tanya Ana. Makanan yang sudah dia siapkan bahkan sudah teronggok.
Yuda menghela napas, mencoba mengingat apa saja yang Zidan katakan semalam. "Dia bilang, dia nitip Asya. Dia juga nyuruh kak Ana buat bawa Asya ke dokter kandungan, dan kalau bisa, hasilnya di kirim ke e mail dia."
"Dia lama?"
"Kayaknya sih lama."
"Gue kasian sama Zidan," cletuk Andi yang secara tak langsung di angguki keduanya.
Mereka kembali berbicara setelah itu, tanpa menyadari kehadiran Asya yang sedari tadi mendengar percakapan mereka.
Tatapan Asya tertegun, bahkan perempuan itu harus menumpukan tubuh di nakas yang berada di sisi pintu dapur.
Zidannya pergi?
__ADS_1
Apakah dia menyerah?