
Sejak semalam pikiran Asya hanya terfokus kepada Zidan. Sikapnya yang tiba-tiba menjadi kasar setelah mendengar nama Esfi, dan perkataannya yang memperingatkan Asya bahwa Esfi berbahaya -- terlihat sangat janggal menurutnya.
Memang, tak bisa ditampik bahwa Asya turut merasakan hal itu. Esfi adalah masa lalu Zidan, dan kedekatan mereka berdua memang tak bisa dianggap remeh. Tapi, tetap saja itu aneh menurutnya.
"Kok, gak dimakan sarapannya?"
Suara Zidan mengintrupsi lamunan Asya. Dia mendongak dan tersenyum kikuk. "Aku makan kok."
Setelahnya Asya mulai menyuapkan sesendok nasi goreng kedalam mulutnya. Hari ini, entah sudah yang keberapa kali -- Zidan kembali datang ke apartemennya hanya untuk sekedar mengantarkannya sarapan. Asya sudah melarang, tapi Zidan tetaplah Zidan. Lelaki yang tak ingin dibantah segala keinginan dan perintahnya.
Beberapa menit kemudian, mereka berdua selesai sarapan. Zidan mengelap bibirnya menggunakan tisu yang berada diatas meja, begitupun Asya.
Tubuh Zidan sudah berbalut setelan jas tiga potong yang begitu pas melingkupi dirinya. Entahlah, melihat Zidan berpenampilan seperti ini membuat Asya berbunga. Mungkin saja ini bawaan wanita hamil, pikir Asya.
Dan mengenai kehamilan, Asya sebenarnya sudah berulang kali -- akan memberitau Zidan. Tapi mengingat perkataan Ana yang semalam sempat menginap di rumahnya dan menjaganya -- menggantikan Zidan, Asya kembali mengurungkan niatnya itu.
Zidan memang terlihat sangat lelah beberapa hari ini. Terkadang wajahnya pucat. Dan seperti sekarang, bulatan hitam disekitar mata -- seperti mata panda, sudah tergambar jelas diwajahnya.
Asya bangun dari duduknya mengikuti Zidan, perempuan itu membawa piring bekas sarapan dan meletakkannya di dalam wastafel sebelum beranjak menuju ruang tamu.
"Kapan aku bisa mulai kerjanya, Zidan?" tanya Asya, memandang Zidan dalam.
Zidan tersenyum, tangannya bergerak mengusap pucuk kepala Asya dengan sapuan lembut. "Waktu kamu udah sehat, ya.."
Aku hamil Zidan, bukan sakit..
Ingin sekali rasanya Asya mengatakan hal itu, namun alih-alih mengatakannya, Asya malah berujar, "Aku udah sehat kok. Aku boleh kerja, ya?"
"Gak boleh, Sya."
"Trus aku harus sendirian lagi? Aku kesepian disini, Dan. Aku gak betah."
Tangan Zidan yang sebelumnya masih mengusap kepala Asya, kini beralih memegang pundaknya. "Kalau begitu aku akan anterin kamu kerumah Fany, oke? Biar kamu-nya gak kesepian lagi."
"Tapi kan Fany sibuk, dia kan ada kerjaan juga, Zidan. Ya, gak mungkin lah aku gangguin dia."
"Tenang aja." Zidan menyeringai. "Kalau untuk urusan itu aku udah handle, pokoknya waktu aku anterin kamu ketempat Fany, dia akan ada disana."
Asya hanya bisa diam, lagipula Zidan itu adalah CEO di perusahaannya -- tempat dirinya dan Fany bekerja. Jadi, apapun yang dia katakan, tetap tak akan bisa dibantah.
"Jadi, kamu akan anterin aku?"
"Iya."
"Yaudah, kamu tunggu aku siap-siap dulu ya?"
__ADS_1
Asya beranjak memasuki kamarnya. Pakaian santai pun sudah dia kenakan, dan karena hujan yang mengguyur semalam masih meninggalkan jejak sejuk yang menggelitik, Asya memilih untuk melapisi kaos pink lengan pendeknya dengan sebuah cardigan berwarna abu.
"Yuk," ajak Asya -- menggandeng tangan Zidan untuk keluar dari apartemennya.
...
Zidan memarkirkan mobilnya tepat didepan rumah Esfi. Yuda tampak sudah menunggunya didepan pagar rumah wanita itu. Hari ini dia akan memperingatkan Esfi untuk menjauh dari kehidupannya dan juga Asya. Dia tak ingin, wanita masa lalunya itu kembali hadir dan memporak-porandakan hubungannya yang sudah terjalin sebaik ini.
Tidak akan ada yang menyangka bahwa dia akan kembali menginjakkan kaki dirumah ini. Ya, dia memang sudah beberapa kali datang, saat hubungannya dengan Esfi terjalin, dan untuk kembali menginjakkan kaki -- mungkin untuk yang terakhir kali, Zidan harus menanggalkan rasa bencinya pada wanita itu, walau hanya sedikit.
"Gimana, dia udah keliatan?" Zidan menepuk bahu Yuda, jas yang melingkupi kemejanya tadi sudah dia tanggalkan.
Zidan berencana untuk bertemu Esfi sebelum dia memulai pekerjaannya sebagai CEO seperti biasa. Rasa sesak dalam dadanya mungkin akan menghilang, begitu dia melakukan hal ini.
"Dia dari tadi gak keliatan," jawab Yuda mengendikkan bahu.
"Thanks ya, lo udah mau nemenin gue."
Yuda tersenyum, lelaki itu balas menepuk bahu Zidan sebelum berkata, "santai aja kali, bro. Lo tau kan gua gak ada kerjaan lain. Cafe udah di handle, dan jadwal gue kosong sekarang. So. gue akan bantu lo."
"Sekali lagi thanks, ya.."
Mengangguk, Yuda melirik sekilas ke rumah Esfi yang nampak sepi. "Memangnya dia ngelakuin apa lagi, sampe lo minta gue buat nemenin lo ketemu dia?"
Zidan berdecak. "Dia ngirim kue ke apartemen Asya. Gue gak tau apa yang udah di masukin cewek itu ke dalam kue-nya. Untung aja Asya belum sempat makan. Kalau nggak, gue gak tau apa yang akan terjadi."
Akhirnya, setelah percakapan singkat itu, Zidan dan Yuda memutuskan untuk masuk kedalam pekarangan rumah Esfi. Mereka sejenak berdiri didepan teras, sebelum Zidan dengan kasar menggedor pintu rumah Esfi, tanpa memperdulikan tombol bel yang berada disisi pintunya.
"Sia.. pa?" tanya Esfi begitu pintunya dia buka. Suaranya tampak tercekat, wajah yang tadinya datar kini berubah menjadi seringaian. "Eh Zidan, ngapain kamu dateng kesini?"
Memutar bola mata jengah, Zidan dan Yuda langsung menerobos masuk kedalam rumah Esfi dengan kasar -- membuat seringaian diwajah Esfi makin bertambah lebar.
"Aku buatin minum, ya?"
"Nggak usah!"
"Minum doang kok, ya?" Esfi tersenyum. kehadiran Zidan dirumah ini, memang sudah dia baca sebelumnya. "Kan udah lama kamu gak dateng, apalagi sekarang kamu ngajak Yuda. Aku gak enaklah kalau gak nyiapin minum."
"Gak usah basa-basi!" Suara Zidan terdengar membentak, mukanya memerah dengan tangan terkepal kuat. "Maksud lo apaan kemarin ngirimin Asya kue segala, huh?! Lo mau nyelakain dia?" tandas Zidan, lelaki itu bahkan memilih berdiri ketimbang duduk di sofa yang di anggapnya menjijikkan.
"Oh, itu." Esfi terkekeh seraya mendekati Zidan. Tangannya terangkat, menepuk dada bidang lelaki yang pernah menjadi kekasihnya ini. "Aku cuma mau minta maaf, sayang. Bagaimana pun, aku sama Asya kan pernah sahabatan. Apalagi hubungan kita makin kuat, setelah dia dengan kurang ajarnya ngerebut kamu dari aku."
Percakapan Zidan dan Esfi, perlahan tapi pasti kini mulai memanas. Bahkan Yuda yang sedari tadi memperhatikannya kini sudah terduduk gelisah.
"Dan, inget tujuan kita Dan. Lo gak lupa kan?"
__ADS_1
Zidan mengangkat tangan ke arah Yuda tanpa memandang sahabatnya itu. Gerakan ini -- Yuda mengerti. Zidan menyuruhnya untuk diam.
"Inget ya, Asya gak pernah ngerebut gue dari lo! Gue udah jengah sama hubungan kita dulu! Asal lo tau aja, dalam hubungan yang gue gak pernah anggep itu, lo cuma mainan gue, Esfi!"
Wajah Esfi masih datar, walau perasaan dalam dadanya kini mulai bergejolak. Demi apapun, Esfi semakin membenci perempuan bernama Asya itu.
"Oke, gue ngerti sekarang. Jadi lo mau bilang, kalau selama ini cuma gue yang ngejalanin hubungan ini? Lo gak nganggep gue ada?"
Zidan mengangguk, tanpa berniat mengucapkan sepatah katapun. Tangannya bersidekap, menunggu perkataan yang Esfi akan lontarkan kembali.
"Apa sih baiknya Asya, Dan?! Tujuh tahun lalu, gue udah ngasih tau kebusukan dia sama lo! Kebusukan dia yang udah ngehancurin keluarga lo!" Tangan Esfi mencengram kemeja Zidan, membuatnya tampak terlihat kusut. "Dia murahan! Asal lo tau Dan, dia itu gak lebih baik dari gue!!"
Plak..
Suara tamparan menggema. Zidan menggeram, matanya kini berkabut kemarahan. Yuda yang berada di belakangnya otomatis mendekat dan melerai.
"Dan, ayok kita pulang."
Cukup, Sudah cukup bagi Yuda untuk melihat dan mendengar pertengkaran sepasang mantan kekasih ini. Yang satu ingin kandas tak bersisa, sedangkan yang satu lagi ingin mempertahankan hubungan -- walau dirasa tak memungkinkan.
"Lepasin, Yud!"
"Gak, sebelum kita keluar dari sini."
Zidan berdecak, lelaki itu menyentak tangannya yang sudah Yuda seret mencapai daun pintu. Dia kembali melangkah -- mendekati Esfi yang terduduk akibat tamparan, lalu mencengram dagunya sehingga pandangan mereka kembali bertemu.
"Lo kira, lo lebih baik dari dia, huh?!" Berdecih, Zidan kembali melanjutkan, "dari segi apa lo lebih baik dari Asya?! Coba lo bilang ke gue!"
Rasa perih disudut bibirnya membuat Esfi mendesis, namun saat ini bukan itu lah yang terpenting. Tujuannya adalah menjauhkan Zidan dari perempuan murahan seperti Asya, dan untuk melakukan itu, dia harus bisa meyakinkan Zidan, seyakin-yakinnya.
"Asya gak pernah berubah, Dan. Dia itu murahan, aku bahkan udah berulang kali liat dia gonta-ganti pasangan. Coba kamu tanya dia, kemarin dia sama siapa?"
Zidan mengernyit, lalu terdiam -- membuat Esfi kembali melanjutkan, "dia masih sama Zidan. Dia itu murahan, kita bahkan gak tau selama ini dia udah di pake berapa cowok. Dia itu tetap sama, melakukan segala cara untuk mendapatkan apa dia mau."
Di luar dugaan, Zidan malah tergelak mendengar setiap apa yang Esfi tuduhkan kepada Asya. Tak lain halnya dengan Esfi, Yuda juga mengernyit dalam.
"Hahaha.. Lo bilang apa tadi, Asya udah di pake banyak cowok?" Tawa Zidan yang menggema seketika itu pula terhenti begitu kalimatnya berakhir. "Asal lo tau ya, Fi. Asya masih utuh waktu gue sentuh, dia masih belum kejamah sama cowok lain selain gue. Dan lo bilang, lo lebih baik dari dia?! Lo bahkan gak lebih dari jalang, yang sialnya gue pake dulu. Gue bahkan bingung, sebenarnya lo udah di pake berapa cowok sih sebelum gue?"
Zidan melepaskan cengraman tangannya, pada rahang wanita itu. Dia menapih tangan, seakan tak ingin ada setitik pun debu yang tersisa. Berbalik, Zidan menghampiri Yuda yang masih terpaku.
Ya, Yuda memang terkejut mendengar pengakuan Zidan yang menegaskan bahwa hubungannya dengan Asya telah melangkah jauh. Apakah Zidan hanya memanfaatkan Asya, ataukah lelaki itu benar cinta seperti apa yang terlihat.
"Yuk, kita balik. Gue banyak urusan kantor yang lebih penting dari ini."
Zidan dan Yuda berbalik, kemudian melangkah keluar dari rumah Esfi. Sedangkan wanita itu kini masih bersimpuh di lantai -- dengan tatapan tajam yang menghujam.
__ADS_1
"Liat aja Sya. Gue akan buat lo kembali ke tempat lo yang semula. Gak lama lagi, tunggu aja!"