My Devil Man

My Devil Man
MDM- Part 87


__ADS_3

Ban mobil berdecit ketika Asya menginjak pedal rem. Bersamaan dengan hal tersebut, Asya menghembuskan napasnya penuh kelegaan.


Dia mengedarkan pandangan, saat ini dia sedang berada di kawasan perusahaan Vandra's Group. Setelah membujuk Rendi dengan begitu keras, penuh dengan usaha, akhirnya Asya berhasil mengendarai mobilnya--yang sufah lama tak dia kendarai--ke perusahaan suaminya ini.


"Hah ... Dukung Mamah ya, Nak ...." Asya mengelus perut perlahan.


Tangannya merogoh tas selempang yang teletak di kursi sebelahnya. Dia mencari nomor sekretaris dari Zidan yang diketahuinya bernama Anita.


Semalam, setelah dipastikan Zidan terlelap, Asya mengambil ponsel lelaki itu yang biasanya diletakkan di atas nakas, lalu mencari nama Anita dalam kontak sang suami.


Asya menghembuskan napas. Dia menekan ikon menghubungi dan menunggu beberapa saat dengan ponsel berada tepat di telinganya.


'Dengan Anita, ini siapa?' Suara di sebrang mengintrupsi begitu panggilan terhubung.


Asya menggigit bibir. "Ini Asya."


'Asya?' Terdengar nada keheranan dari seberang.


Membuat Asya menjawab, "Iya, ini Asya. Eumm... Istri Zidan."


'Oh... Maaf, Bu. Saya tak mengenal suara Ibu sebelumnya.'


"Nggak kenapa-napa, Anita. Oh ya, bisa kita ketemu sebentar."


'Ketemu, Bu?'


"Iya, kalau kamu gak lagi ada kerjaan."


'Kebetulan lagi jam istritahat, Bu.'


"Kalau gitu aku tunggu di taman deket perusahaan ya ...."


'Baik, Bu."


Panggilan berakhir, Asya keluar dari mobil dan berjalan ke arah taman lalu duduk di salah satu kursi yang tersedia di tempat itu.


Selang beberapa menit, seorang perempuan berpakaian formal tampak memasuki area taman. Membuat Asya yang melihatnya melambaikan tangan.


"Anita, ya?" tanya Asya begitu perempuan itu memghampirinya.


"Iya, Bu. Saya Anita."


"Gak usah bicara terlalu formal, Anita." Kembali duduk, Asya menarik tangan Anita untuk duduk di sampingnya. "Maaf kalau aku ganggu waktu istirahat kamu, ya ...."


Anita hanya tersenyum. Dia memerhatikan Asya, bagaimana perempuan yang merupakan istri dari atasannya ini tampak ramah dan bersahabat. Auranya terpancar, terlihat cantik apalagi keadaan Asya yang saat ini tengah hamil besar.


"Kamu gak kasih tau Zidan kan?"


Anita menggeleng.


Dan meilhatnya membuat Asya menghela napas.


Tanpa ingin membuang waktu lebih banyak, Asya kembali mengeluarkan ponsel dan mengarahkannya pada Anita. Lagi-lagi foto yang Fany kirimkanlah, yang dia tunjukkan.

__ADS_1


"Kamu kenal sama orang yang di foto ini gak, An?"


Anita memerhatikan. Matanya mengedip, kemudian keraguan terlihat. Dan Asya yang memerhatikannya menangkap semua raut itu.


"Kamu kenal?" tanya Asya lagi.


Anita menggeleng cepat.


Namun, bukan Asya namanya jika dia tak bisa mendapat keinginannya kali ini. "Aku tau kamu bohong, Anita."


"Saya tak mengenalnya, Bu."


"Anita." Asya burucap tegas, tanpa ragu menggenggam tangan Anita dan menatap matanya dalam. "Aku butuh informasi ini, oke. Dan yang aku butuhin cuma tempat di mana ibu dalam foto ini berada. Aku yakin kamu tau di mana keberadaannya, kan?"


"Sa-saya tau, Bu."


"Kalau gitu di mana?"


Asya bisa melihat keraguan dalam mata Anita kembali muncul. Dia mengeratkan genggaman. "Kalau yang kamu takutin itu Zidan. Aku bisa jamin gak akan terjadi apapun, An..."


Dan mendengarnya membuat Anita menjawab. "Ibu yang dalam foto itu sekarang ada di hotel, Bu. Deket sini, kok."


"Kamu bisa anterin aku?"


"Bi-bisa, Bu. Tapi...."


"Kan aku udah bilang, An. Kalau yang kamu takutin Zidan, kamu gak perlu khawatir, oke?"


Anita mengangguk. "Baik, Bu."


Rina kira ada sesuatu yang akan terjadi. Apalagi saat melihat keberadaan Anita--yang diketahuinya merupakan sekretaris anaknya--tepat saat dia membuka pintu hotel.


Dia mengenal perempuan itu, beberapa kali Anita akan datang ke hotel dan bertemu dengannya lalu menyerahkan beberapa lembar baju dan keperluan lain atas perintah dari Zidan.


Rina bersyukur, dia tak menyangka Zidan masih memberi perhatian padanya walaupun anaknya itu enggan bertemu.


"Zidan mau ketemu sama Ibu, ya?"


"Bukan, Bu. Bukan Pak Zidan yang ingin bertemu."


"Terus siapa?"


Anita diam. Dia memilih menuntun Rina menuju lift dan menekan tombol lantai dasar di mana Asya menunggu.


Dan melihat tanggapan Anita atas pertanyaannya, Rina pun memilih diam. Detik demi detik berlalu, pikiran berkelebat di benak Rina. Siapa yang ingin bertemu dengannya? Karena setahunya, yang mengetahui keberadaannya di kota ini hanyalah Zidan dan Anita--sekretaris anaknya.


"Beliau, Bu, yang ingin bertemu dengan Ibu," ucap Anita begitu mereka melangkah keluar dari lift


Anita mengikuti arah pandang, tepat mengarah kepada seorang perempuan hamil yang duduk di sofa di ruangan tunggu hotel tersebut.


Baru saja hendak bertanya lagi, Anita kembali menuntunnya menuju perempuan itu.


Asya mendongak, dadanya berdetak kuat. Bibirnya yang bergetar tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun. Seakan susunan kalimat yang sudah dirapalnya hangus tak bersisa.

__ADS_1


Malah, yang bisa dilakukannya saat ini hanya berdiri dan terdiam.


Dan Anita yang melihatnya lantas meninggalkan dua orang itu.


"Apa kamu mengenal ibu, Nak?"


Asya mengangguk. Jika diperhatikan, Zidan memiliki wajah yang sangat mirip dengan Rina. Dan sekarang Asya mengetahui dari mana rupa rupawan suaminya itu berasal.


"Silakan duduk, Mah."


Rina mengerutkan kening, namun tak luput menuruti ajakan tersebut.


"Nama saya Asya, Mah," ucap Asya setelah sekian detik terdiam. "Saya... Istri dari Zidan."


Rina terperangah, tangannya bergerak untuk mengatup mulutnya yang menganga penuh keterkejutan. Oh Tuhan... Banyak yang telah dia lewatkan selama ini.


Fakta bahwa saat ini Zidan sudah memiliki seorang istri--pun dirinya sudah memiliki menantu--ditambah keadaan Asya yang tengah mengandung cucunya, membuat Rina dilingkupi kebahagian di waktu yang bersamaan.


Tanpa aba-aba Rina mendekap dan memeluk Asya penuh kehangatan. Asya terkesiap, tak menyangka respon inilah yang akan dia dapatkan.


"Oh Tuhan... Kamu ternyata istri Zidan."


"Mamah bisa panggil saya Asya."


Pelukan mereka terhela. Rina memandang Asya dalam, sejurus kemudian mengusap pipi dan rambut sang menantu. Ah, dia jadi mengingat dan merindukan Ana.


"Jangan ngomong formal dong sama Mamah."


"Ba-baik, Mah."


Lalu pandangan Rina teralih pada perut Asya yang membuncit. "Udah hamil berapa bulan, Sayang?"


"Tujuh bulan lebih, Mah."


"Udah besar, ya...."


Asya mengangguk. Merasakan getar hati kala tangan Rina mengusap perutnya. Andai... Ya, andai orang tuanya masih hidup, dipastikan mereka berdua pasti akan merasa senang seperti Rina saat ini.


"Maaf Mamah gak bisa hadir dipernikahan kamu ya, Sayang," ucap Rina sendu, "Zidan...."


"Asya tau, Mah...." Asya tersenyum, beralih menggenggam tangan keriput itu rapat. "Tapi, Asya yakin kalian biaa bersama lagi."


Rina hanya bisa menunduk dengan mata yang berkaca. Pertemuan pertama kali yang membuatnya terkesan dan bahagia. Dari yang bisa Rina lihat, Asya adalah perempuan tulus dengan mata yang berbinar penuh kejujuran.


"Mamah gak bisa bilang apa-apa, Sya... Zidan udah terlalu kecewa dengan Mamah. Pasti dia udah ceritakan sama kamu, gimana Mamah dengan teganya meninggalkan dia dan baru kembali sekarang."


Asya memgangguk. Tak menyangkal walau sebenarnya bukan Zidan lah yang bercerita melainkan Ana. Dan dari mana dia tahu Rina kembali, Asya rasa dia harus memberitahu.


"Asya bukan tau keberadaan Mamah dari Zidan."


Rina menatap heran.


Membuat Asya kembali melanjutkan. "Tapi itu bukan masalahnya, Mah. Yang penting sekarang gimana caranya hubungan Mamah dengan Zidan kembali mambaik."

__ADS_1


"Tapi... Tapi, Mamah udah berbuat salah...."


"Tak ada manusia yang tak mempunyai kesalahan, Mah." Asya kembali tersenyum, dan Rina yang melihatnya merasa terhangatkan. "Dan setiap orang tentu berhak mendapatkan kesempatan, termasuk Mamah."


__ADS_2