
Ketika cinta sudah diragukan, ketika rasa mulai tak berharga dihadapan orang yang kita sayang, disaat itu pula --menurut Asya-- dia harus menyerah. Di dalam hubungan ini, di antara tautan perasaan yang di sebut 'cinta' dia tak sanggup bertahan untuk lelaki yang --berulang kali-- meragukan kesetiaannya.
Dengan pandangan gamang, Asya menata helai demi helai pakaian dalam koper. Dia perlu ketenangan setelah ini. dia perlu hiburan setelah luka yang menusuk. Berdua, hanya berdua dengan anaknya saja.
Jika kemarin Asya sempat berharap Zidan mengetahui kehamilannya, kali ini berbeda. Asya justru berharap lelaki itu tak mengetahuinya sampai kapan pun. Biarlah orang berkata dia egois, ingin memisahkan sosok anak dari ayahnya. Namun, apakah Asya akan sanggup bertahan, jika Zidan kembali menganggap kehamilannya ini rekayasa?
Kehadiran anaknya diragukan.
Kehamilan seakan jalan pintas bagi Asya agar dapat kembali lagi dengan lelaki itu.
Oleh karenanya, memikirkan hal itu, Asya memilih pergi. Menata hati yang sudah rusak, entah sudah yang keberapa kali. Setidaknya dia berharap, saat kembali nanti, dia dapat memandang lelaki itu dengan rasa yang memang sudah tak ada.
Dia menyerah.
Dia tak ingin dan tak sanggup untuk tersakiti lagi.
Menghapus air matanya kasar, Asya menutup koper, menghela napasnya pelan sebelum berbalik, menatap perempuan yang sedaritadi menatapnya dengan mata yang sama -- berkaca.
"Memangnya lo harus pergi ya, Sya?"
Asya tersenyum lembut dan mengangguk. "Iya, Fan. Aku.. kamu tau kan, aku gak bisa begini terus?"
"Iya sih, Sya." Fany menunduk dalam, meremat jemarinya dengan gusar. Andaikan saja dia tadi tak pergi, pasti Asya tak mengalami hal ini. "Maaf, Sya."
Meskipun halus, Asya masih bisa mendengarnya dengan jelas. Menghela napas, Asya melangkah. Memegang pundak sahabatnya, agar menatap. Dia pun berkata, "Cepat atau lambat, aku yakin ini terjadi, Fan. Zidan.. dia memang belum bisa percaya aku, lalu untuk apa aku bertahan?"
"Tapi, Sya.." Perempuan itu meraih tangan Asya yang ada dipundaknya -- menggenggam, menatapnya dengan pandangan pengertian. "Tapi anak lo butuh figur seorang ayah, dia gak mungkin kan hidup tanpa ayah?"
Fany tak bermaksud meminta Asya untuk memaafkam lelaki egois itu. Baginya, pilihan Asya memang tepat. Pergi untuk memberi pelajaran pada Zidan, memang semestinya Asya lakukan sejak dulu. Tapi, untuk berpisah dengan sahabatnya ini Fany rasa--
"Gue gak mau lo pergi, Sya."
"Aku gak lama, Fan."
"Lo tau kan gue gak punya temen selain lo?"
"Iya, aku tau."
"Tapi--"
"Fan," Asya menekankan suaranya. "Please, oke? Aku gak lama."
"Trus lo mau kemana?"
Sejenak Asya terdiam. Dia tak berpikir panjang akan tujuannya saat ini. Yang ada dalam pikirannya saat ini hanyalah pergi, menjauh dari Zidan untuk sementara waktu -- sampai dia bisa memandang lelaki itu dengan rasa berbeda nantinya.
"Aku gak tau harus kemana."
"Nah kan, makanya jangan pergi dulu." Fany bersikeras, sedang Asya masih sama dengan pendiriannya. Bahkan mereka tak menyadari seseorang yang sedari tadi memperhatikan, ingin mengintrupsi namun enggan.
"Jangan pergi, oke?" bujuk Fany sekali lagi, membuat Asya tersenyum tipis dan menggeleng cepat.
"Gak bisa, Fan."
"Gimana kalau lo pergi ketempat gue aja?" sebuah suara mengintrupsi tiba-tiba, membuat Asya dan Fany terlonjak kaget.
Menghela napas lega bersamaan, kedua perempuan itu lantas menoleh, mengernyit tipis, sebelum salah satu dari mereka berkata, "Andi? Kenapa kamu disini?"
__ADS_1
Lelaki yang masih memakai stelan lengkap itu tersenyum samar. Melangkah sebelum berhenti tepat didepat kamar Asya. Dia memandang Fany singkat, lalu pandangannya beralih pada kekasih sahabatnya. Ah.. Apakah Asya masih bisa dianggap kekasih Zidan, setelah lelaki itu kembali mengulang kesalahan yang sama?
"Gue kesini karena di telpon Fany."
Alis Asya bertaut, dia menoleh, dengan pandangan penuh tanya. "Kamu ngasih tau Andi?"
"Sorry, Sya.. gue gak tau harus gimana lagi. Lo terus aja bilang mau pergi."
"Tapi Fan, gak harus kasih tau Andi juga." Setelah mengatakan itu, tangan Asya terangkat -- memijit dahinya pelan ketika rasa pening tiba-tiba menyerang.
"Lo gak pa pa, Sya?"
"Gak pa pa."
Fany ragu dengan jawaban itu, oleh karenanya dia memapah Asya, membawanya untuk duduk disisi ranjang. Segelas air minum dia sodorkan dengan khawatir, dan disambut Asya dengan meminumnya hingga tandas.
Hal itu tak luput dari penglihatan Andi. Dia kecewa sekaligus prihatin dilain sisi. Padahal dia sudah memperingatkan Zidan untuk tak lagi jatuh dalam permainan Esfi.
Namun entah karena terlalu bodoh atau apa, Zidan justru kembali terjerat, dan kini terancam ditinggalkan oleh dua orang yang --mungkin-- dia cintai.
"Lo mau pergi, Sya?" tanya Andi, melirik sebuah koper berwarna maroon di atas ranjang.
"Iya."
"Lo pergi ketempat gue aja, mau?"
Asya menggeleng. "Nggak usah An, aku takut ngerepotin."
"Gak ngerepotin, Sya. Lagipula gue setuju lo tinggalin Zidan, tapi lo juga harus inget bayi dalam kandungan lo."
Asya termenung ketika mencerna kalimat itu, tangannya tanpa terasa bergerak, mengusap perut dimana ada bagian dirinya disana.
"Dia gak bakal tau, gue jamin itu."
Perasaan Asya goyah, kepalanya mendongak cepat. "Kenapa kamu bisa seyakin itu?"
Andi kembali tersenyum, dan bersedekap. "Gue gak bisa bilang karena apa. Yang jelas, gue yakin dengan lo pergi, Sya. Zidan akan menyesal."
"Dia gak akan menyesal, An.."
"Dia akan menyesal, Sya. Dia akan menyesal karena terprovokasi sama cewek kayak Esfi--"
Kalimat Andi terpotong begitu Asya bertanya dengan cepat. Ada rasa sesak disana ketika mendengar nama perempuan itu. "Maksud kamu? Maksud kamu apa, An?"
Menimang-nimang, Andi mengangguk sebelum berkata, "Mungkin udah saatnya lo tau, Sya. Kejadian tujuh tahun yang lalu, dan kejadian sekarang, Esfi dalangnya."
...
Meninggalkan Fany dan Andi yang menatapnya khawatir, Asya melangkah. Pandangannya mengedar, dadanya sesak terhimpit rasa yang bisa dibilang 'sebuah kemarahan'. Dan karenanya, disinilah dia. Dirumah dalang yang menyebabkan hubungannya dan Zidan hancur tak bersisa.
Setelah memaksa Andi mengantarkannya, akhirnya Asya bisa menapakkan kakinya disini. Menghela napas, tangan Asya terangkat ragu ketika memencet bel disisi pintu.
Hingga kali ketiga, pintu itu akhirnya terbuka. Menampakkan sosok Esfi yang yang memakai kaos oblong dan hotpants.
Sejenak perempuan itu terkejut, namun pandangannya berubah menjadi seringaian dengan cepat. "Eh, Asya. Ada apa ya?"
Asya menatap tajam, kepalan tangan disisi tubuhnya mengerat kuat. "Boleh aku masuk?"
__ADS_1
"Boleh."
Setelahnya mereka masuk bersamaan, seringai masih tercetak jelas dibibir Esfi begitu pandangan matanya bersirobok dengan Andi dan Fany yang berdiri didepan pagar rumahnya.
Perempuan medusa itu melangkah, memasuki dapur dan menyiapkan segelas minuman dan langsung diletakkan di meja sofa begitu dia kembali.
"Ada apa lo dateng kesini, Sya?"
"Aku rasa kamu udah tau."
"Maksud lo?"
Asya terkekeh, sikap tenang dalam dirinya menguar, membuat Esfi tiba-tiba tercekat.
"Aku rasa kamu gak bodoh, Fi."
"Maksud lo, apa?"
"Heh." Meraih gelas, Asya menggegamnya hingga buku jarinya memutih. Melemparkan seringaian balik, Asya menyiram minuman itu keatas kepala Esfi dan disambut oleh pekikan perempuan itu.
"Sialan! Maksud lo apaan siram gue kayak gini?!"
"Ups.. gak sengaja."
Esfi berang, dan langsung bangkit dari duduknya. "Gue gak tau maksud lo apa dateng ke rumah gue. Tapi gue harap, lo pergi dari tempat gue, sekarang!!"
Bukannya terintimidasi, Asya justru tekekeh geli. Dengan bersedekap dia bangkit, menginfasi seluruh tampilan Esfi yang sudah berantakan.
"Kamu pantes dapetin ini, Fi."
"Sialan lo, Sya!!"
Plakk..
"Kamu yang sialan, j*lang!!"
Mata Esfi membola, tangannya tanpa aba-aba bergerak cepat, menyentuh pipinya yang terasa panas -- dengan tetes merah yang terasa perih disudut bibir.
Dia tak menyangka, Asya yang notabennya lemah dan bisa ditindas, kini justru menamparnya kuat.
"Cara kamu murahan," Asya mendesis, tersenyum remeh. "Dari dulu sampe sekarang, cara yang kamu pake masih sama."
Dengan masih memegangi pipinya, Esfi menoleh. "Oh, tapi berhasilkan?"
"Iya, berhasil."
Meskipun jawaban memuaskan yang dia dapatkan, tak lantas membuat Esfi tenang. Pandangan Asya yang seharusnya tersakiti, kini justru tak dia dapatkan -- membuat rasa senang dan kecewa berdampingan bersamaan.
"Sayangnya kalau kamu merasa menang, kamu salah, Fi. Kamu kalah. Ternyata kamu gak ubahnya sosok cewek murahan yang bisa melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang kamu inginkan, ya?..
..Dan kalau kamu berharap, cinta Zidan akan kamu dapatkan, aku harap kamu segera bangun dari alam mimpi. Karena apa?" Asya maju selangkah, sedikit berbisik. "Karena Zidan cuma cinta sama aku, dan dia gak suka cewek yang caper dengan cara kotor."
Setelahnya Asya berbalik, meninggalkan Esfi yang masih saja tergugu memegang pipi -- seakan dikalahkan telak.
"Oh ya." Asya bergumam, tangannya memegang knop pintu -- tanpa menoleh. "Aku saranin kamu dateng deh ke psikiater. Kamu bermasalah. Aku rasa kamu punya gangguan mental."
...
__ADS_1
Like dan coment ya..