
Ketika semua kepercayaan musnah, ketika kata cinta di permainkan, rasa sakitnya sangat -- hingga menusuk, menurut Zidan. Tampilan lelaki itu kini berantakan, bahkan redupnya kamar tak bisa menyembunyikan rupanya yang seperti orang kelimpungan.
Dia kecewa, tapi apa yang harus dia lakukan?
Dia rindu dekapan Asya, rengkuhannya yang menenangkan dan segala yang ada dalam diri wanita itu -- begitu pas dalam hatinya yang pernah sakit.
Namun karenanya dia melupakan satu fakta. Wanita itu pernah menjadi sebab kehancuran hidupnya, menjadikan masa remajanya jauh dari namanya kebahagiaan keluarga.
Zidan sangat ingin tak mempercayai itu, tapi semua bukti seakan melumpuhkan segala pemikirannya. Potret itu begitu jelas, dan kini kembali terulang. Wanitanya berkhianat. Disaat dirinya jauh, Asya begitu mudah melupakan dirinya.
Masih segar dalam ingatan Zidan, cincin yang tersunting dikalung yang melingkari leher Asya. Cincin itu, cincin yang diserahkan Raihan pada saat melamarnya. Satu lagi fakta yang membuat Zidan memanas, hingga membentak perempuan itu, makhluk dengan hati terapuh yang pernah dia kenal.
Menghela napas, Zidan mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruang. Sekarang dia berada di kamarnya. Tepatnya di kamar -- mansion keluarganya.
Zidan enggan untuk kembali ke apartemen. Karena di sana, kenangannya dan Asya banyak tersimpan. Tangis, keegoisan, pemaksaan, teriakan sakit, tawa hingga bahagia, terlewati disana. Melingkupi setiap sudut hingga membuat Zidan sesak.
Dia termenung, hingga sebuah ketukan, di susul suara tegas namun lembut memanggil namanya. "Zidan, kamu kenapa?" tanya sang Ayah diluar sana.
"Nggak ada apa-apa, Pah," Zidan menjawab sekenanya, tanpa ingin memperpanjang.
"Yaudah, Papah cuma mau bilang makan malam udah siap. Kamu turun, oke?"
"Iya, Pah."
Setelahnya terdengar derap langkah menjauh. Zidan sekali lagi menghela napas, memejamkan manik hingga butir bening itu kembali turun.
Salahkah bila dia menangis karena cinta? Kenapa rasanya sangat sakit ketika Asya berlaku demikian?
Dan.. ada pertanyaan yang selama beberapa waktu ini menggantung dalam benaknya. Apakah hubungannya dengan Asya masih bisa berjalan, tanpa mengalami perubahan yang berarti?
...
Ana memandang nanar pagar mansion keluarganya. Geram, amarah dan kekecewaan bercampur jadi satu. Dia tak menyangka bahwa adik satu-satunya akan sebodoh ini. Melepaskan Asya dan terjerat kebohongan lagi.
Kurang lebih sejam yang lalu Ana kembali ke apartemennya. Setelah beristirahat sejenak, perempuan itu lalu mengunjungi apartemen Asya -- bermaksud untuk melihat keadaannya. Namun yang didapatkan tidak sesuai harapan. Asya tak ada.
Ana yang merasa khawatir langsung memasuki apartemen Asya tanpa permisi terlebih dahulu. Syukurlah, Asya telah mempercayainya dengan memberi sandi apartemen beberapa hari lalu.
Kosong. Itulah yang Ana dapatkan. Hingga beberapa menit mencari, akhirnya Ana memilih untuk menelpon Asya. Dan apa yang dia dengar, sangat membuatnya kecewa.
Lalu mengalirlah cerita itu. Diantara suara lirih Asya, Ana yakin perempuan yang bicara di sebrang telepon, sedang mengeluarkan air mata.
Dan disinilah Ana, setelah berusaha mencari ke apartemen adiknya, akhirnya Ana memutuskan untuk pulang ke mansion, dimana dia yakin bahwa disinilah Zidan sekarang berada.
Ana memasuki mansion dengan kaki menghentak, perempuan itu mengedarkan pandangan, dan hanya mendapatkan para maid yang menyiapkan makan malam di sisi ruang makan.
"Bi, Zidan pulang gak?" tanya Ana pada salah satu maid paruh paya.
Wanita paruh baya itu menoleh, dan menunduk hormat. "Iya Non, dia tadi pulang. Tapi, bibi selarang gak tau dia ada dimana."
"Makasih ya, bi."
"Iya, Non."
Bertepatan dengan Ana yang berbalik, Rendi --ayahnya-- menuruni undakan tangga dengan tongkat sebagai tumpuan. Lelaki paruh baya itu tersenyum, menatap anak pertamanya.
__ADS_1
"Ana, kapan pulang?"
"Barusan aja, Pah."
Raut Ana yang tampak seperti seseorang menahan sesuatu membuat Rendi bertanya, "Kamu kenapa, An?"
"Pah, Zidan dimana sekarang?"
Rendi menghela napas, lelaki yang memakai tongkat itu berjalan pelan untuk duduk di sofa, di bantu oleh Ana.
"Dia lagi ngurung diri di dalam kamar. Papah gak tau kenapa, waktu dia pulang tampilannya itu berantakan. Waktu ditanya dia diem aja. Ini aja, Papah baru dari kamarnya, nyuruh dia turun buat makan malam."
"Biarin aja dia gitu pah."
Perkataan ketus Ana membuat Rendi mengerut bingung. Dia tak pernah melihat Ana berbicara dengan nada amarah yang seperti ini. Apalagi, hubungannya dengan Zidan bisa dibilang dekat.
"Kamu ada masalah sama Zidan?"
"Gak, Pah. Dia yang nyari masalah."
"Maksud kamu?"
Tak ingin membuang waktu terlalu lama, Ana memilih untuk tak menjawab pertanyaan dari Rendi. Perempuan itu tersenyum seraya bangkit dari duduknya. Dia berkata, "Pah aku nyusul Zidan dulu ya. Dan apapun yang Papah dengar, jangan naik keatas, aku yang akan bawa Zidan kesini."
Rendi mengangguk tanpa bertanya lebih jauh, karena dari apa yang Ana tuturkan, Rendi yakin sang Bungsu sudah membuat masalah.
Setelah mengusap tangan sang Ayah, Ana berlari menaiki undakan tangga. Perempuan itu berbelok ke sebelah kiri, berjalan cepat menuju ruangan urut ketiga yang merupakan kamar Zidan.
Mengetuk pintunya cepat, Ana berteriak, "Zidan!! Buka pintunya!! Buka pintunya!!"
"Kak, ngapain kakak kesi--"
Kalimat Zidan terhenti, begitu Ana menampar sang Adik dan menarik kerah kemeja yang dia kenakan. Amarah telah menguasainya, kekecewaan akan tingkah Zidan membuat Ana terpaksa menampar sang Adik.
"Kamu bodoh Zidan!!" Ana berteriak, mengepalkan tangan -- memukul tubuh Zidan. "Kamu **** atau gimana, hah?! Kamu apain Asya sampe dia kabur?! Kamu apain dia?!"
Zidan terdiam, membiarkan Ana tetap memukul tubuhnya.
"Kamu apain dia, sampe dia kabur kayak gitu?!"
Tubuh Ana luruh, perempuan yang berprofesi sebagai dokter itu terduduk dilantai dengan air mata yang sudah menggenang.
Dia ingat perkataan Asya. Perkataan sendunya yang menceritakan bagaimana Zidan menuduh perempuan rapuh itu.
Perempuan yang sudah Ana anggap sebagai adiknya sendiri.
"A-Asya kabur kak?" tanya Zidan dengan wajah yang shock.
Ana mengangguk, bangkit dan kembali menarik kerah Zidan. "Kamu salah Zidan!!"
"Apanya yang salah, kak?! Apanya yang salah?!"
"Kamu salah nuduh Asya begitu!!"
"Aku gak salah, kak!" Zidan bersikeras, mengingat hal itu kembali membuatnya dikuasai amarah. "Dia udah duain aku, kak! Ketika aku gak ada, dia permainin aku kak!!"
__ADS_1
"Asya gak gitu, dia gak pernah duain kamu!!"
"Oke, kalau kakak bilang begitu." Zidan tersenyun miris, dia kembali berkata, "Kakak tau, siapa yang nyebabin keluarga kita harus begini. Itu karena Asya!! Dia hancurin keluarga kita!!"
"Dia gak pernah hancurin keluarga kita!!"
Dari perdebatan mereka, Ana yakin bahwa sang Ayah mendengar di bawah sana.
"Kakak gak percaya Zidan, kamu ngomong gitu. Dengan mudahnya kamu nuduh Asya rusak keluarga kita."
Zidan mengusap wajahnya kasar. Andai saja Ana tau bahwa dia pun sangat ingin tak mempercayai semua. "Kakak gak tau apapun! Apa kakak tau rasanya sakit ketika melihat orang tua kita bertengkar? Kakak gak tau kan?! Karena kakak memilih kabur dari situasi, tanpa ingin tau segalanya!"
Tercekat, Ana memandang wajah Zidan dalam. Perempuan itu turut merasakan sakitnya, oleh karenanya dia memilih pergi saat itu, tanpa tau dirinya salah.
"Kakak tau Zidan, makanya kakak pilih pergi. Tapi ini gak ada hubungannya sama Asya. Keluarga kita memang gak bisa di pertahanin dari dulu." Ana berkata lembut mencoba menjelaskan.
"Keluarga kita hancur karena orang ketiga, Kak. Dan itu Asya!!"
Merasa apa yang di jelaskannya tak akan mempengaruhi Zidan. Ana merangkul lengan sang adik, menariknya menuruni undakan tangga, lalu menghampiri Ayah mereka yang duduk di sofa dengan wajah khawatirnya.
"Kalian kenapa berantem?" tanya Rendi, berusaha bangkit namun Ana melarangnya.
"Pah, Papah kenal Asya?"
Rendi terdiam. Lelaki paruh baya itu tampak berpikir, dan setelahnya memandang mereka dengan wajah berbinar. "Papah kenal dia, dia itu anaknya sahabat Papah. Kalian kenal dia dari mana?"
Ana tersenyum congkak ketika melihat Zidan. "Kapan terakhir kali pertama dan terakhir kali, Papah ketemu dia?"
Rendi tampak bingung, namun tetap berusaha menjawab, "Papah pertama dan terakhir kali ketemu dia tujuh tahun lebih yang lalu lah. Waktu itu Papah baru dengar kalau sahabat Papah meninggal, dan Papah pergi kerumahnya untuk ucap bela sungkawa. Di saat itulah Papah ketemu Asya. Dia anak yang baik, dia hampir seumuran kamu lah Zidan, Papah harap, Papah ketemu dia lagi. Kasian dia, masih remaja udah yatim piatu."
"Dia memangnya pergi kemana, Pah?" tanya Ana, bukan untuk memprofokasi.
"Papah gak tau dia pergi kemana. Dia menghilang begitu aja, kemudian Papah dengar dia pergi ke Bandung, tinggal sama keluarga dari pihak Papahnya."
Penjelasan itu sudah cukup membuat Zidan tercekat. Tubuhnya bahkan mungkin saja sudah jatuh, jika saja dia tak memilih duduk saat itu.
"Tru-trus Papah cerai sama Mamah gara-gara apa?"
Rendi menghela napas, mencoba membuka lembaran lama. "Kami memang gak cocok lagi, Zidan. Mamah kamu s'lalu nuduh Papah selingkuh. Padahal kenyataannya bukan gitu."
Zidan rasa sudah cukup semua penjelasan yang dia dengar. Dulu dia pikir Asya-lah yang salah dan menjadi sebab kehancuran hidupnya. Tapi, setelah semua yang kini dia tau. Zidan sadar, disini dia lah yang bodoh karena menuduh perempuan rapuh itu tanpa tau apa yang sebenarnya terjadi.
"Pah, Zidan pergi dulu."
Zidan berlalu, sebelum langkah lelaki itu berhenti ketika Ana memanggilnya.
"Zidan?"
"Hmm." Zidan berdehem, tapa menoleh ketika memegang knop pintu.
"Yang kamu tuduhkan, tentang Asya dan Raihan saat itu, kamu salah. Mereka bukan hanya berdua saat itu. Kakak ada disana, bahkan dua sahabat kamu dan Fany ada disana. Perjuangin mereka Zidan, jangan sampe kamu menyesal karena kehilangan mereka."
...
Like dan coment ya..
__ADS_1
Sorry author gak up, author lagi kurang sehat beberapa hari ini.😊😊