My Devil Man

My Devil Man
MDM- Part 61


__ADS_3

Zidan membersit hidung begitu mobilnya tepat terparkir di depan pagar sebuah rumah. Rumah yang tampak sederhana, dengan rangkaian dan jejeran bunga yang melengkapi -- terasa amat sejuk ketika dipandang.


Mengeluarkan ponsel dan menghidupkannya, lelaki itu sesekali memperhatikan plat alamat dan pesan teks tertera di layar handphone genggamnya itu secara bergantian.


Semalam, setelah tekad kuat yang telah dia pupuk sedemikian rupa, Zidan akhirnya memberanikan diri untuk menemui keluarga Asya yang masih tersisa.


Dari cerita singkat yang pagi buta tadi Ana sampaikan -- setelah mengorek informasi dari Asya, Zidan dapat menyimpulkan bahwa pujaan hatinya itu masih punya seorang Om -- adik dari ayahnya -- yang tinggal bersama istri, satu anak, serta menantu dan juga seorang cucu.


Zidan tersenyum singkat, mengingatkan diri agar berterima kasih kepada Ana dan sahabatnya Andi, karena tanpa mereka, mungkin dirinya tak akan bertindak sejauh ini.


"Ayo Zidan, saatnya lo yang berjuang!" kalimat itu seakan menjadi penyemangat ketika Zidan menapaki halaman luas rumah itu, setelah membuka pagarnya.


Menormalkan degup jantung, tangan lelaki yang bergetar itu terangkat untuk memencet bel di sisi pintu. Tak lama setelahnya pintu terbuka, menampilkan seorang wanita paruh baya yang memandang bingung ke arahnya.


"Ini, siapa ya?"


"Saya Zidan, Tante."


Wanita itu tampak mengernyit, terbukti dari kening keriputnya yang mengerut seakan mencoba menelaah wajah Zidan yang mungkin saja pernah dia temui -- namun terlupa karena penyakit pikunnya yang terkadang kambuh.


"Kita belum pernah bertemu, Tante. Saya baru pertama kali ke sini," ucap Zidan seakan memahami perilaku wanita itu saat sedang memandang wajahnya.


Wanita itu tersenyum manis, dan menggapai tangan Zidan untuk diusap. "Pantesan, Tante gak pernah liat kamu. Oh ya, nak Zidan cari siapa?"


Wajah Zidan yang sumringah tiba-tiba berubah muram, dia menunduk sesaat sebelum kembali menatap wanita paruh baya itu. "Saya ingin menemui suami Tante, kalau bisa."


"Memangnya ada urusan apa nak Zidan ingin menemui suami Tante?"


"Saya ingin meminta restu, Tante. Saya pacarnya Asya -- keponakannya suami Tante."


...


Pukulan, cacian, tatapan marah dan kecewa tak lagi dia perdulikan. Wajahnya yang sudah kebas, dengan beberapa titik yang membiru -- bahkan ada yang sampai mengeluarkan darah, seakan tak terasa sakit lagi bagi seorang Zidan.


Bagi Zidan, inilah perjuangan. Bila harus terluka untuk mendapatkan hati Asya serta restu keluarga perempuan itu, dia tak masalah sama sekali.


Zidan menunduk, dengan kedua lutut dan telapak yang menempel di keramik yang dingin. Kepalanya terasa pening, ketika Justin tak berhenti membogem wajahnya dengan kuat.


"Pergi lo!! Lo gak pantes minta restu sama kita setelah apa yang lo lakuin ke Asya!!" sentak Justin dengan napas memburu.


Awalnya keluarnya sangat senang akan kehadiran Zidan dirumah mereka. Apalagi niat lelaki itu untuk melamar Asya membuat Anton -- Om Asya -- dan sekeluarga merasa senang.


Asya adalah kebanggan mereka. Perempuan itu sangat kuat dan mandiri. Setelah kepergian orang tuanya, serta kejadian yang membuatnya di keluarkan dari sekolah yang terletak di Ibu Kota, Asya diboyong oleh Anton untuk tinggal bersama keluarga mereka. Tak lama memang, hanya sebatas lulus SMA dan Asya kembali melanjutkan pendidikannya di Ibu Kota.


Justin meringis ketika mengingat tentang sepupunya itu. Bagaimana nasibnya sekarang, apakah dia masih jadi perempuan yang ceria?


Menghela napas Justin melirik jengah ke arah Zidan yang masih menunduk. Kekecewaan dan kemarahan begitu sarat dari pandangnnya.

__ADS_1


Lelaki ini adalah lelaki yang menodai adiknya, lelaki yang membuat adiknya mengandung tanpa ikatan yang jelas. Lalu dia datang ke rumah mereka untuk meminta restu? Yang benar saja?


"Pergi lo!!"


"Justin..," suara serak dan lemah itu memanggil, Justin menoleh -- melihat ayahnya yang berusaha bangkit dari sofa untuk menghampiri mereka berdua.


"Papah duduk aja, Pah. Justin yang akan urus baj*ngan ini."


"Papah ingin liat dia, Justin."


Mendengar titah sang ayah, Justin mundur beberapa langkah, menyetarakan posisi dengan Tina -- sang istri, Justin melihat dari jarak yang tak seberapa jauh, bagaimana sang ayah membantu Zidan untuk sekedar menegakkan tubuh.


"Siapa nama kamu, nak?" Anton bertanya dengan nada lembut, mesti titik kemarahan masih terjejak di wajahnya yang keriput.


"Nama saya Zidan."


"Kenapa kamu melakukan ini? Kenapa kamu lakukan semua hal bejad itu kepada keponakan, Om?"


Pertanyaan itu, Zidan tak bisa menjawabnya.


Anton menghela napas, tak menyangka akan berhadapan dengan lelaki bejad yang menghancurkan kehidupan keponakan tersayangnya.


"Kamu boleh pergi," ucapnya lagi membuat Zidan menggeleng cepat dan menggenggam tangan Anton.


"Saya ingin menikahi keponakan Om, saya sungguh-sungguh. Saya benar-benar mencintainya.."


Zidan kembali terdiam, hingga akhirnya genggamannya pun terlepas. Wajahnya yang terasa nyeri kini sudah mati rasa. Apakah langkah untuk mendapatkan Asya hanya sampai disini?


"Dan untuk Asya, keluarga kami masih sanggup untuk membiayai kehidupannya dan anaknya kelak. Jadi, nak Zidan tak usah khawatir," ucap Anton lagi, melempar ultimatum yang membuat Zidan menunduk diam seribu bahasa.


Lo kalah Zidan!! Lo gak bisa perjuangin orang yang lo cinta!!


Kalimat cercaan berulang kali Zidan lemparkan pada dirinya sendiri, hingga sebuah usapan hangat, terasa di puncak kepala. Zidan mendongak, manatap wajah Hana -- istri Anton yang memandang teduh ke arahnya.


"Nak Zidan benar-benar mencintai Asya?"


"Saya benar-benar mencintainya, Tante. Saya gak pernah sesungguh ini."


"Kalau begitu, Tante merestui hubungan kalian."


Belum sempat Zidan menanggapi, Justin sudah mencela dan menghampiri mereka. "Mah, untuk apa Mamah nerima orang kayak dia?! Dia itu baj*ngan, Mah! Mamah gak lupa, kan?"


Hana tersenyum, beralih mengusap mengusap pucuk kepala sang anak. "Mamah gak lupa, sayang. Tapi, apa kamu gak melihat kesungguhan Zidan untuk adik kamu?"


Justin terdiam, memandang ke arah Zidan sebelum beralih membuang pandangan. Hana kembali tersenyum melihat tingkah anaknya itu.


Semula, dia memang marah. Apalagi mendengar fakta bahwa Asya mendapat pelecehan dari seorang lelaki yang kini berada di hapadapannya.

__ADS_1


Tapi, melihat Zidan yang menceritakan hal tersebut tanpa menutupi satu kejadian pun, dan juga tak melawan ketika Justin memukul wajahnya bertubi-tubi membuat hati wanita paruh baya itu luluh.


Dengan masih mengusap pucuk kepala Zidan, Hana memandang suaminya yang menatap dirinya dan Zidan dengan pandangan datar. "Bagaimana, Mas. Apa Mas restuin hubungan Asya dan Zidan?"


Anton bersedekap, pandangan Hana pada dirinya membuatnya luluh seketika. Bagaimana pun, ini demi Asya. Demi keponakan tercintanya. "Baiklah, saya menyetujui hubungan kalian, tapi dengan syarat kamu harus bisa memenangkan hati Asya lagi."


Perkataan itu menjurus pada satu kalimat, yang mana Zidan menceritakan bahwa Asya sedang menjauh darinya -- dari sekian panjang ceritanya tadi.


"Saya akan memenangkan hati Asya, Om. Saya janji."


Anton tersenyum. "Saya akan menunggunya." Lalu pandangannya beralih kepada sang menantu yang sedari tadi memperhatikan, tak mengeluarkan sepatah kata sedikit pun. "Tina," panggilnya.


Sang menantu menoleh, dan mendekat. "Ada apa, Pah?"


"Bawa kotak P3K, dan obati calon adik ipar kamu."


...


Asya berulang kali melihat ke arah luar villa, dari jendela besar yang menghubungkan keduanya. Hari sudah beranjak petang, namun Zidan tak menampakkan diri dari pagi bahkan hingga sekarang.


Bohong jika Asya tak mengkhwatirkan lelaki itu. Bagaimana pun Zidan adalah orang yang dia cinta dan ayah dari anaknya -- meskipun semua tertutupi oleh kemarahan Asya yang memang masih Ada.


Menghela napas, Asya melangkah kembali menuju dapur. Mungkin Zidan telah kembali dan menyerah, batinnya.


Dan begitu sampai di dapur, tampak Ana, Fany dan Yuda tengah menyiapkan beberapa jenis makanan untuk mereka santap nantinya.


"Sya, abis darimana?" Ana bertanya, seraya mengaduk isi teflon di atas kompor.


"Iya bener, lo kemana dari tadi bolak-balik mulu?" tambah Fany yang mana membuat Asya tergugup ketika menjawab.


"Nggak kok, aku cuma keliling aja."


Fany menanggapi dengan mengucapkan kata 'Oh'. Sedangkan tanpa Asya sadari, sebenarnya Ana sudah mengetahui apa yang Ada dalam benaknya.


Zidan.


Ana juga mengkhawatirkan kondisi adiknya itu. Apalagi tujuan Zidan untuk meminta restu keluarga Asya, serta ingin memberitahukan segala perbuatan bejad yang dia lakukan, membuat Ana makin di balut kekalutan.


Lama mereka terdiam. Asya dengan pikirannya, Ana sibuk dengan isi teflonnya, Fany menyiapkan tempat hidangan, sedangkan Yuda dengan pisau untuk mencingcang bahan lainnya.


Hingga suara derit pintu terbuka mengaburkan keterdiaman mereka. Asya menoleh lalu melangkah cepat. Perasaan khawatirnya tak lagi bisa terbendung, apalagi saat maniknya bersirobok dengan tubuh Zidan yang terpincang -- dibopong Andi -- dengan wajah yang babak belur, tampak menyakitkan.


"Zi-Zidan, kamu kenapa?" ucap Asya, tanpa sadar mendekat dan menyentuh lembut lebam yang ada di wajah Zidan.


...


Vote, like dan coment ya..😊😊

__ADS_1


__ADS_2