
Zidan kembali menghapus air matanya kasar, mencoba melihat dari kabutnya mata dan rabunnya semak yang saat ini dijadikannya tempat sembunyi.
Mungkin konyol, tapi inilah Zidan.
Menahan sebaik mungkin kakinya yang hendak melangkah. Menahan laju talu detak yang seakan ingin meledak. Tawa Asya membangkitkan segala, termasuk pesimis Zidan terhadap dirinya sendiri.
Wanita itu tertawa, tapi bukan karena dirinya. Hanya ada tangis saat kehadirannya di sisi wanita itu. Membuat Zidan menegaskan pada diri sendiri bahwa hadirnya hanya akan mencetak luka.
"Kamu bahagia, Sya.. Tapi, bukan karena aku."
Itu fakta dan Zidan tak bisa menolaknya.
Maksud hati ingin kembali memenangkan hati sang pujaan, justru membuatnya berhenti di pusat kesengsaraan.
Asya adalah poros bahagia. Pusat detak Zidan akan cinta ada di diri wanita itu. Dan Zidan tak ingin merusaknya, menghilangkan tawa dan kembali menerbitkan rasa perih.
Oleh karenanya dia memilih berhenti di sini. Memandang jauh seperti penguntit, apalagi saat melihat pakaiannya. Hoodie hitam, topi hitam, bahkan kaca mata hitam. Persis seperti penguntit yang terdapat dalam drama-drama.
Perasaan malu dia enyahkan. Tak berkutik bahkan ketika bisik-bisik yang heran akan kelakuannya terdengar. Baginya, cukup memandang Asya sudah mengikis kerinduannya yang teramat terhadap cintanya itu.
Ya, gila dan aneh memang. Tapi, seperti itulah Zidan jika menyangkut Asya.
Memejamkan mata dan memilih bersandar di batang pohon yang ada di belakangnya, Zidan sekali lagi menghapus sudut matanya yang basah.
Enggan untuk menampik rasa rindu yang kini menjalar menjadi tangis. Asya terlalu berharga untuk disakiti yang ke dua kalinya. Hati wanita itu kini sudah teramat rapuh.
Dan bila alasan Asya tertawa karena ketiadaan dirinya, maka Zidan rela. Rela menjauh dan hanya melihat dalam bayang.
"Semoga bahagia..," ujar Zidan, melambai sebelum berbalik pergi. Melangkah sejauh mungkin.
...
Asya menoleh. Tubuhnya meremang oleh sesuatu yang tak dia ketahui. Bukan sesuatu yang mengerikan, sesuatu itu lebih menunjukkan titik berat kerinduan.
Dia berharap Zidan di sana. Namun nihil. Yang ada, ketika dia menoleh, hanya rerimbun semak bergoyang tertiup angin yang menyambutnya.
"Sya...," panggilan itu memutuskan atensi Asya pada objek yang dia pandang. Dia menoleh, kembali tersenyum kearah Raihan yang berada di sisinya.
"Ya?"
"Kamu liat apa?"
"Kamu merasa ada seseorang gak di sana?" Telunjuk dia arahkan ke rerimbun semak, pandangannya yang menyirat tanya membuat Raihan turut memperhatikan.
"Nggak, Sya. Itu paling gara-gara angin."
Asya membenarkan hal itu. Lagi pula siapa yang mengamatinya dari jauh. Toh semuanya ada di sini, kecuali..--
"Raihan?"
__ADS_1
"Ya?"
Asya menelan ludahnya kasar. Jari telunjuk mengetuk di depan dada, kebiasaan yang baru saja muncul ketika gugup dan ragu melanda. "Waktu di sana, kamu ada ketemu sama Zidan gak?"
Raut binar itu hilang, Raihan memandang Asya dalam. Kerinduan itu tercetak membuat Raihan enggan mengakui meski itu benar adanya. "Nggak, Sya. Memangnya dia gak kasih tau kemana dia pergi?"
"Dia gak kasih tau aku.. Dia cuma kasih tau Yuda, dia bilang dia ke Surabaya."
"Urusan kerjaan?"
Asya mengangguk.
Mereka kemudian terdiam. Jika Asya menunduk, Raihan justru sebaliknya. Lelaki itu memandang Asya penuh arti. Jujur, Raihan sudah mencoba untuk mendekati Asya, memahami dari sudut pandang wanita itu, dan kini Raihan memahami.
Semarah-marah Asya terhadap Zidan, Asya tetap mencintai lelaki itu. Tetap kalut ketika tak bertemu.
"Sya..," Raihan kembali memanggil membuat Asya menoleh dan memandang dengan berkedip ke arahnya.
"Ada apa?"
"Kamu udah nerima maaf Zidan?"
"Kalau dia dateng--" Terjeda sejenak, sebelum dia kembali melanjutkan, "Aku akan maafin dia. Dia pantes dapet kesempatan ke-dua."
"Ya, kamu bener, Sya.. Dia tulus cinta kamu.."
"Aku tau.."
...
Dia menepuk pundak Zidan dan memandangnya dengan cengiran, sebelum bertanya, "Lo nguntit orang?"
"Ptfhhh... Hahaha...," tawa Andi meledak, bahkan lelaki itu memegang perutnya yang terasa keram. "Lo.. Lo nguntit?"
Zidan mendengus. "Terserah lo aja dah! Gue gak perduli!"
"Trus lo ngapain ke sini?" Andi bertanya setelah meredakan tawanya, manik kelam lelaki itu melirik arloji yang menunjukkan waktu hampir tengah malam. "Lo mau nginep?"
"Nggak."
"Trus?" Yuda merangkul Zidan, mendudukkannya dikursi. "Mau ketemu Asya?"
"Dia belum tidur?"
"Udah kayaknya."
"Kak Ana dimana?"
Andi beranjak, mengintip dari sela pintu yang terbuka, suasana tampak sepi namun suara-suara orang mengobrol meski halus masih terdengar. "Kayaknya ngobrol sama Raihan deh."
__ADS_1
"Oh, dia gak pulang?" Raut wajah Zidan masam ketika menanyakan keberadaan lelaki itu.
Masih segar ingatan Zidan tentang tawa Asya siang tadi. Bagaimana keakraban mereka dan tatapan memuja Raihan pada Asya. Dia tak suka, dia benci itu.
"Dan?" Andi menepuk pundak Zidan ketika melihat sang sahabat terdiam, lantas dia melirik Yuda, namun lelaki itu justru mengendikkan bahu.
"Tenang, dia sama Asya biasa-biasa aja kok."
Zidan masih terdiam, dia mengerti maksud perkataan Andi. "Gue gak masalah."
"Ooh.." Jeda sejenak. "Lo jadi ketemu Asya?"
Mengangguk, lelaki itu bangkit dari duduknya diikuti oleh sahabatnya. Mereka memasuki villa, bertepatan dengan Raihan dan Ana yang muncul dari dapur.
Langkah Zidan terhenti. Ada rona tak suka ketika memandang Raihan. Ana yang merasakan atmosfir menegangkan ini, lantas mendekati sang adik dan merangkulnya.
"Kapan nyampenya?"
"Tadi siang."
"Mau ketemu Asya?"
Anggukan sebagai jawaban.
"Yaudah, yuk.. Dia lagi tidur."
...
Memandang wajah Asya, Zidan tak bisa menahan buncahan rasa bahagia di dadanya. Meski hanya bisa menemui sang pujaan ketika dia terlelap, Zidan tak masalah dengan hal itu.
"Sya.." Tangan itu dia genggam, dan dia kecup begitu lembut. "Aku minta maaf, belum bisa lakuin yang terbaik bagi kita.. Belum bisa bahagiain kamu.."
Sekali lagi hanya diamlah yang menjawab. Memandang wajah cantik itu teduh, Zidan menunduk. Mengecup dahi, dua kelopak mata dan terakhir berlabuh di bibir.
Zidan merindukan ini. Kedekatan yang terasa hangat dan begitu pas di hati.
"Apa kabar anak Papah?" Kali ini perut datar Asya yang menjadi atensi Zidan.
Dia menyingkap dress tidur Asya. Mengusap sambil lalu tempat keberadaan anaknya kini. "Maafin Papah sayang, Papah belum bisa dapetin hati Mamah kamu."
Lalu kecupan dia labuhkan, berharap sang anak akan tumbuh sehat dalam kandungan.
"Sya.." Nama itu kembali dia panggil. Zidan membetulkan letak dress dan kembali menyelimuti Asya hingga sebatas pinggang.
"Aku cinta kamu, sangat.."
...
Hai... maaf ya kalau kadang tulisan dewi kurang menarik. Saat ini dewi lagi ada dalam tahap kesenjangan menulis, lagi mumet dan males untuk sekedar ngetik. Dewi cuma mau bilang, novel ini Insha Allah sebentar lagi mungkin akan tamat.
__ADS_1
Tapi belum tentuin tamatnya berapa episode lagi.
Jadi, jangan lupa Vote, Like dan Coment ya..😁😁