
Part Bonus Raihan dan Ana 7 (End)
...
Ana masih tak tahu apa yang terjadi. Gaun indah, rambut tertata, wajah terpoles, dan segala hal yang terasa janggal dirasakannya tepat pada hari ini.
Beberapa waktu lalu, tepat saat dirinya baru saja pulang dari sebuah seminar kedokteran, Asya menyambutnya di mansion dengan senyum misterius. Adik iparnya itu menariknya menuju kamar, menyuruhnya untuk membersihkan diri, mendandaninya dan memberikannya sebuah gaun indah sebelum menariknya kembali untuk memasuki mobil yang sudah disiapkan di depan mansion.
Ana sempat bertanya, tak sanggup untuk menahan rasa penasaran yang menurutnya membutuhkan jawaban. Namun, alih-alih menjawab, Asya justru tersenyum dan menggenggam tangannya erat seakan apa yang akan dilaluinya beberapa saat lagi sanggup membuatnya merasakan keterguncangan.
Mobil berhenti beberapa saat kemudian. Ana menatap ke arah luar jendela dan menoleh begitu Asya menepuk pundaknya.
Wanita itu tersenyum, mengangsurkan sebuah penutup mata berwarna merah dan tanpa aba-aba memakaikannya pada Ana dengan cepat.
"Sya--"
"Udah, Kak, pakai aja."
Mandengar itu membuatnya mengernyit dalam. Ana menyesuaikan pandangan dan bertanya, "Untuk apa?"
"Kakak nanti juga tahu."
Meskipun berkelebat dengan rasa penasaran, Ana menunggu sesaat hingga pintu samping mobil terbuka. Asya memapahnya keluar, ana berdiri dan merapikan gaun yang membungkus tubuhnya dengan tepukan pelan.
Mereka mulai berjalan. Ana dapat merasakan jalan setapak dengan batu batu kecil yang mencuat. Ana memegang telapak Asya, mereka berbelok ke arah kiri hingga beberapa saat kemudian mereka berhenti.
__ADS_1
"Kak Ana sebentar lagi bisa buka penutup matanya."
Itu bisikan Asya. Ana menurutinya dengan menunggu beberapa saat dan membuka penutup mata dengan perasaan menerka-nerka.
Apa yang ada di hadapannya kali ini membuat Ana terkejut. Perempuan cantik itu terhenyak. Dilihatnya Raihan yang berlutut dengan tangan yang memegang kotak cincin beledu.
Cincin itu begitu indah. Bertahtakan mutiara berwarna merah muda dengan sulur berlian yang melingkupinya. Mata Ana berkaca, pandangannya beralih menatap manik Raihan yang berkilau sahdu.
"Raihan ...."
"Ana." Raihan berdehem pelan. "Aku tahu ini terkesan terburu-buru. Kita mengenal belum lama, perjalanan cinta kita pun terbilang singkat. Tapi ... aku bisa meyakinkan kamu kalau apa yang aku mulai ini benar-benar serius. Aku ingin menjadikan kamu pendamping, tempat aku bersandar, teman hidup dan perempuan yang nantinya akan membangun biduk rumah tangga denganku kelak."
Perasaan Ana tak dapat ditafsirkan. Kata-kata itu terdengar begitu indah. Perasaan gugup yang sebelumnya ada kini menyusut dan perlahan hilang tak berbekas. Ana mengusap setitik air mata di sudut maniknya.
Ternyata ini lah yang mereka semua persiapkan. Ana bisa melihat keluarga Raihan, orang tuanya, Zidan serta Asya yang menggendong bayinya di sisi kanan taman. Dia pun dapat melihat Fany, Andi serta Yuda yang menunggu antusias tak jauh dari mereka.
"Raihan ... ini--"
"Ini terlalu cepat, Ana, aku tahu itu," tutur Raihan. "Tapi, aku mencintai kamu. Susah untuk menyanggah kalau selama ini yang aku inginkan itu adalah membangun rumah tangga tangga bersama kamu. Jadi ... kamu mau, 'kan, menikah dengan aku?"
Ana mengangguk, menangkup bibirnya dengan tangan yang gemetar. Raihan menurunkan bahunya yang kaku dengan perasaan lega. Kebahagiaan terasa menyeruak. Begitu Raihan memakaikan cincin indah itu ke jari manis Ana, tepuk tangan dan ledakan kembang api yang indah memenuhi langit yang berada tepat di atas mereka.
...
"Jadi kamu yang siapin semua ini?" tanya Ana yang kini bersandar di dadanya. Perempuan itu menumpukan satu tangan di dada Raihan seakan sedang mendengarkan detak jantungnya yang menderu dengan kebahagiaan.
__ADS_1
Raihan menunduk sesaat untuk mengecup puncak kepala Ana. "Menurut kamu?"
"Kamu dibantu yang lain, sih." Ana tersenyum tipis. "Tipe-tipe kamu itu kalau gak dikasih masukan gak tahu apa yang mau dilakuin kedepannya."
"Memang begitu?"
Ana mengangguk. "Iya."
"Tapi, kamu benar sih. Aku dibantu Yuda, dia yang kasih ide dan menyiapkan ini semua setelah aku kasih tahu gimana rencana aku. Abisnya aku bingung gimana buat yakinin kamu kalau aku benar-benar mau menikah, bukan cuma main-main."
"Kamu kan tahu, sebelum ini percintaan aku itu rumit." Ana terdiam sejenak sebelum melanjutkannya dengan serius. "Gak mudah percaya ke lelaki lain saat aku menganggap aku mungkin bisa tersakiti untuk yang kedua kali. Keluarga aku pun gak seperti keluarga lainnya. Orang tua aku bercerai. Itu alasan aku ragu untuk melangkah jauh."
Raihan tersenyum lembut. Tangannya bergerak untuk menangkup tangan Ana dan menyapu lembut cincin yang melingkar di jari manis calon istrinya. Lelaki itu melihat sekitar. Dekorasi taman yang sengaja dia siapkan untuk Ana memperindah suasana. Mereka hanya berdua. Setelah bercengkrama dan mengobrol beberapa saat, baik keluarganya maupun keluarga Ana, serta teman memberikan mereka privasi untuk berbicara lebih lanjut.
"Ana, tapi kamu gak ragu 'kan sekarang? Aku tahu menikah bukan hubungan main-main."
Ana mendongak dan dengan berani menyentuhkan bibir di rahang Raihan untuk memberikan kecupan lembut. "Aku gak ragu lagi. Sebenarnya semenjak kamu bilang kamu ingin mempunyai hubungan serius di mansion kamu, aku udah membayangkan gimana kehidupan pernikahan kita nanti. Aku gak mau berbohong dengan bilang kalau aku sama sekali gak senang waktu itu."
"Syukurlah." Raihan mengusap punggung Ana. "Pernikahan memang gak akan mudah. Aku gak bisa berjanji gak akan ada air mata di pernikahan kita nanti, tapi aku akan berusaha buat kamu tersenyum, Ana. Dan kalau pun ada air mata, aku akan berusaha membuat itu sebagai air mata bahagia."
"Aku tahu," jawab Ana lembut. "Tapi, selama kita saling berkomunikasi dan percaya satu sama lain, aku tahu segala hal bisa kita hadapi."
Mata mereka bertemu dalam satu garis tatapan. Raihan begitu kagum dengan pemikiran Ana. Pernikahan memang tak akan selalu berjalan manis. Adakalanya adu argumen atau pertengkaran kecil hadir sebagai bumbu pelengkap. Pertemuan mereka memang terbilang singkat, Raihan yang sebelumnya pernah melepas cintanya demi kebahagiaan perempuan itu sendiri, kini berjanji tak akan melepaskannya untuk yang kedua kali. Dia yakin Ana perempuan yang ditakdirkan untuknya. Sekarang dan selamanya, Raihan akan selalu berusaha membuat Ana bahagia dan merasa beruntung.
...
__ADS_1
END Part Raihan dan Ana