My Devil Man

My Devil Man
MDM-Part 38


__ADS_3

Esfi menyeringai, matanya menyipit menahan tawa. Ya, rencananya sudah berhasil. Tinggal beberapa langkah lagi dan semua keinginannya akan menjadi kenyataan. Dua hari yang lalu dia sudah mengirimkan sebuah kotak dan diletakkan didepan apartemen Asya. Itu baru langkah pertama, dari sekian langkah jahat yang akan dia lakukan untuk menghancurkan wanita itu.


Setelah ini, dia akan memanfaatkan sisi ego Zidan. Berpacaran dengannya membuat Esfi tau sisi terburuk dari mantan kekasihnya itu. Zidan itu terkadang egois, tak bisa menahan amarah dan yang paling menguntungkan adalah, mudah untuk dihasut.


"Setelah ini lo akan hancur, Asya." Esfi kembali menyeringai. Kepalanya menoleh dengan mata melirik lelaki yang tidur disisinya -- bertelanjang dada.


Lelaki inilah yang membantunya melancarkan rencananya saat itu. Mereka bertemu di sebuah club malam dan berakhir dengan melakukan ONS. Setelahnya Esfi menawarkan sebuah kesepakatan dengan bayaran malam-malam yang akan mereka lewati bersama.


Lelaki itu setuju, tanpa berpikir panjang. Lagipula, siapa yang bisa menolak pesona Esfi. Tubuhnya yang berlekuk, dan penuh dibeberapa sisi yang pas, serta wajahnya yang bisa dibilang sensual, dengan cepat dapat membangkitkan libido lelaki manapun yang digodanya -- termasuk Kevin.


"Kevin," panggil Esfi, menghadap lelaki itu dan menggambar beberapa pola abstrak didada bidangnya.


Kevin meleguh, mengerjabkan matanya berulang kali dan memandang Esfi dengan mata -- kembali berkabut gairah. Dia menangkup tangan Esfi, membawanya untuk dikecup. "Jangan macem-macem Esfi, lo mau ngulang kejadian tadi malam?"


"Kalau gue mau gimana?"


"Yakin?"


Kepala Kevin tertunduk, wajahnya berhadapan dengan wajah Esfi, bahkan dari jarak sedekat ini wanita itu bisa merasakan desakan napas Kevin yang hangat. Kevin itu bisa dibilang tampan. Wajahnya maskulin, dengan rahang tegas yang ditumbuhi bulu tipis, tampak seksi ketika dipandang dari jarak dekat.


"Tapi kalau lo mau, lo harus bantu gue lagi."


"Bantu lo lagi?" Alis Kevin tertaut, lelaki itu kembali menjauhkan wajahnya dan menatap Esfi dengan seksama.


"Iya, bantu gue lagi."


"Sebenarnya, apa sih yang lo rencanain?"


Bangkit, Esfi menyandarkan tubuh polosnya yang tertutup selimut di kepala ranjang. Dia memandang Kevin sekilas, lalu berkata, "Ngehancurin cewek yang namanya Asya. Dia udah berani ngerebut pacar gue, sampai pacar gue itu ninggalin gue karena dia. Ya, sebenarnya sih dia gak salah. Tapi, apa yang udah jadi milik gue, akan terus jadi milik gue."


"Trus, pacar lo itu siapa?" tanya Kevin penasaran. Memang semenjak membuat kesepakatan bersama Esfi, lelaki itu tak tau siapa dan apa yang direncanakan oleh wanita yang kini menjadi partner tidurnya.


"Zidan," Esfi tersenyum, sebelum kembali melanjutkan, "Zidan Revandra, CEO Vandra's Group. Ya, jelaslah gue gak mau lepasin dia. Gue itu udah ngincer dia semenjak SMA, apalagi waktu gue tau di cucunya orang kaya. Tapi sekali lagi, posisi gue direbut sama Asya."


Kevin mengangguk, lelaki itu menarik tubuh Esfi dan kembali menindihnya. "Oke, gue bantu lo. Jadi, kesepakatan kita kembali dimulai, oke?"


"Oke."


...


Jam sudah menunjukkan pukul duabelas siang. Matahari bersinar cukup terik, dan Asya bisa merasakan hawa panas yang terhembus dari pintu apartemennya yang terbuka.


Dia bosan, apalagi setelah Zidan memberitaunya untuk tak bekerja sementara waktu. Asya sempat menolak, dengan dalih dialah sekretaris Zidan dan kehadirannya sangat dibutuhkan oleh perusahaan dan lelaki itu sendiri.

__ADS_1


Tapi sekali lagi. Zidan tetaplah Zidan, dia sudah merencanakannya sebaik mungkin, bahkan telah berkoordinasi dengan pak Darma, bosnya terdahulu.


"Huftt.." Asya menghembuskan napas lelah. Andaikan ada kak Ana ataupun Fany yang datang ke apartemennya dia pasti tidak akan merasakan kebosanan yang teramat ini.


Sekali lagi, Asya meruruki rasa mual yang menyerangnya tadi pagi. Dia yakin itu rasa mual yang biasa dialami wanita hamil diperiode-periode sekarang. Dan Asya khawatir, dia tak akan bisa menyembunyikannya lebih lama lagi. Setidaknya harus ada orang lain yang mengetahuinya selain Fany. Lalu siapa? Bahkan untuk memikirkannya saja Asya ragu.


Lama termenung, Asya terhenyak oleh suara ketukan konstan dari arah pintu apartemennya. Senyumannya saat itu langsung terbit. Ana berdiri didepan apartemennya dan tersenyum manis.


"Sya, boleh masuk?" tanya Ana.


Asya mengangguk antusias dan berjalan mendekati Ana yang masih berdiri didepan pintu. Dia langsung meraih tangan Ana dan menangkupnya dalam genggaman. "Kenapa kak Ana nanya boleh masuk apa nggak? Masuk aja kali, aku gak larang."


Ana terkekeh melihat ekspresi Asya yang mengerut. Dia duduk di sofa, memperhatikan Asya yang berjalan kearah dapur, mengambil segelas jus dan menghidangkannya didepannya.


"Sorry deh, aku gak akan begitu lagi."


Asya tersenyum, dan memilih duduk disamping Ana. "Oh ya, kak Ana kenapa kesini?"


"Ini." Ana mengangkat ponsel dan menggoyangkannya di depan wajah Asya. "Aku perlu nge-charger hp. Charger aku ketinggalan di rumah sakit, aku gak bisa nge charger deh."


"Oh.. chargernya ada dikamar, dimeja rias."


"Di kamar kamu?"


"Yaudah deh." Ana angkit dari duduknya dan melangkah memasuki kamar Asya. Kamar dari kekasih adiknya ini sangat rapi, dengan warna putih yang mendominasi.


Ana dengan cepat mengambil charger yang memang diletakkan di atas meja rias. Sekilas wanita itu melihat penampilan diri. Wajahnya tampak lesu dengan kantung mata yang hitam terlihat sangat mengenaskan.


Berbalik, manik Ana tak sengaja melirik sesuatu yang janggal disudut meja rias. Dengan ragu Ana mengambil beberapa benda itu. Dahinya mengernyit dalam, dengan mulut yang menganga lebar -- penuh keterkejutan.


"Asya ha-hamil?" Entah itu sebuah kenyataan atau pertanyaan yang Ana lontarkan.


Dia tak terlalu bodoh untuk menganalisa semua. Dia tangannya bukan hanya satu atau dua, melainkan empat alat tes kehamilan yang menunjukkan hasil positif disetiap alat tesnya.


Seakan terhenyak, tubuh Ana limbung. Apakah Asya hamil anak Zidan? Lalu mengapa perempuan itu menyembunyikan semua? Seharusnya Asya memberitaunya, apalagi Zidan. Bagaimanapun dalam rahimnya, ada keturunan keluarga Revandra didalam sana.


...


Jantung Asya berdegup. Dia memang tak ingin menyembunyikan ini semua, tapi dia juga tak ingin ini terungkap begitu cepat.


Di depannya, Ana berdiri dengan tubuh bergetar. Seseorang yang sudah Asya anggap sebagai kakaknya sendiri itu menatapnya bukan dengan pandangan mencela ataupun menghujam. Asya bisa melihat rasa iba disana, pandangan yang menggambarkan.. kekhawatiran?


"Asya, i-ini maksudnya apa?" Tangan Ana terangkat, menunjukkan beberapa alat tes kepada Asya.

__ADS_1


Tak ada jawaban yang bisa Asya lontarkan. Kenyataan bahwa dirinya saat ini tengah mengandung membuat Asya takut setengah mati.


"Ka-kamu, hamil anak Zidan?" tanya Ana lagi, begitu tak mendapat jawaban.


Asya terisak, membuat Ana yang berada beberapa langkah didepannya berjalan mendekati -- dan langsung merengkuh tubuhnya.


"Nggak pa pa, Sya. Kasih tau kakak, kamu hamil anak Zidan?"


"Iya kak, iya," jawab Asya diantara isakannya.


Ana mengangguk, mengusap punggung Asya lembut. Dia tau, wanita yang berada didalam rengkuhannya ini takut, kalut dan resah. Dan Ana mencoba membuat Asya tenang, setenang mungkin.


"Sya, kamu gak boleh gini. Kalau kamu sedih, anak yang ada dalam kandungan kamu juga ikut sedih lho.."


Mendengar hal itu, membuat Asya berusaha menghentikan isakannya. Dengan enggan Asya melepas dekapan dan menghapus air matanya kasar. Wajahnya masih tertunduk, saat Ana memandangnya penuh tanya.


"Kakak gak akan tanya gimana ini terjadi, kakak yakin kalian akan tau resiko yang akan kalian hadapi kalau melakukan hal itu." Ana menghela napas, lalu menuntun Asya untuk duduk disofa. "Zidan udah tau?"


"Belum kak."


Ana kembali mengangguk. "Kakak akan bantu kamu kasih tau, oke? Bagaimana pun, Zidan harus tau kan?"


"I-iya kak, tapi jangan sekarang."


"Kenapa?" tanya Ana, menggenggam tangan Asya cepat.


Asya menghela napas pelan, berusaha memberanikan diri menatap Ana yang berada di hadapannya. "Zidan kayaknya lagi banyak masalah, aku gak mau membebani dia dengan masalah lagi, kak."


"Asya." Tangan Ana bergerak, mengusap perut Asya yang masih rata. "Ini bukan masalah, ini berkah dari Tuhan. Anak itu titipan Asya, harua dijaga."


"Aku tau kak."


Tersenyum, Ana berusaha mengalihkan pembicaraan. "Oh ya, kamu udah periksa kedokter?"


"Belum," jawab Asya singkat.


"Kalu begitu, kakak akan buat janji sama dokter kandungan, teman kakak. Kita akan periksa bareng."


Dengan tersenyum, Asya membalasnya dengan anggukan. Setidaknya Kak Ana telah mengetahui hal ini dan tak menghujatnya sama sekali.


Bisakah sekarang Asya bernapas lega?


...

__ADS_1


Like dan coment ya..


__ADS_2