
Part Bonus Raihan dan Ana - 2
...
Katakanlah Ana bodoh karena menghindari Raihan dalam beberapa waktu ini. Namun, dia tak peduli. Lelaki itu membawa pengaruh yang terbilang besar untuknya. Rasa yang sempat dia kikis kini kembali tumbuh subur tanpa bisa Ana kendalikan. Bahkan dalam mimpinya, Raihan selalu mengambil bagian. Menghantui dan membuat perasaan Ana jadi tak menentu.
Mengingat kejadian di bangku taman, tanpa sadar membuat Ana merasa bersalah. Dia sama sekali tak menjawab pertanyaan Raihan. Seperti pengecut, Ana justru berjalan menjauh dan mengenyahkan segala perasaan yang sebenarnya sudah ada.
"Percaya atau nggak, aku selalu ngerasain ini waktu sama kamu. Aku gak tahu kapan, yang jelas ini membuat aku ingin selalu di samping kamu."
Ana bergeming. Masih terpaku. Hingga kemudian Raihan kembali melanjutkan. "An, please. Mungkin ini masih terbilang singkat. Kita bahkan belum mengenal lebih jauh. Tapi bisa gak--"
Kalimat Raihan terpotong begitu Ana menutup bibirnya. Raihan berkedip. Ana memandangnya dalam. Seakan apa yang Raihan ucapkan adalah suatu hal yang salah.
"Ayo kita nikmati ini seperti yang seharusnya," ucap Ana.
Raihan mengerti maksud dari kalimat itu. Perlahan, satu tangannya yang bebas bergerak untuk meraih tangan Ana yang masih menutup bibirnya. Menggenggam, hingga kini kedua tangan mereka bertautan.
"Kenapa?" tanya Raihan.
Ana tersenyum. "Karena memang itu yang seharusnya."
"Kamu tahu maksud aku, kan, An? Kamu mengerti, kan?"
Aku mengerti, Raihan ... tapi, aku takut untuk memulai kembali.
Ana menggeleng. Tak ingin menyakiti Raihan lebih lanjut membuat perempuan itu bangkit dan berlalu pergi. Dia tak ingin seperti ini. Memendam perasaan terlalu lama, memang sakit. Seharusnya dia bahagia Raihan memiliki keseriusan dengannya alih-alih menjalani hubungan aneh ini tanpa status.
Namun, bisakah dia?
Ana menggeleng begitu sekelebat kejadian beberapa hari lalu berputar di dalam pikirannya. Tangannya kembali bergerak. Memasukkan ponsel, merapikan kertas-kertas di meja, lalu menghela jas putih yang melingkupi tubuhnya sebelum menyampirkannya di gantungan khusus.
Suara notifikasi pesan membuat langkah Ana terhenti untuk beberapa saat. Meskipun ragu Ana tetap mengambil handphone-nya di dalam tas, dan seperti yang dia duga--Raihan lah yang mengirim pesan tersebut kepadanya.
Isinya hampir selalu sama. Raihan menanyakan kabarnya, kapan mereka dapat bertemu, atau hal lain yang makin membuat dada Ana ditikam rasa bersalah.
"Raihan ...," bisik Ana lirih.
Perempuan itu hanya membalas sekenanya. Mengatakan bahwa dia sibuk dan mungkin hanya bisa bertemu di lain hari--sebelum memasukkan handphone-nya kembali kedalam tas.
Dia memerlukan waktu.
...
"Sial!!" Raihan memukul stir mobil.
Lagi, Ana kembali menolaknya. Jika tahu akan menjadi seperti ini, seharusnya Raihan tak perlu mengungkapkan perasaan jika semua berakhir dengan kehampaan. Ditambah fakta bahwa Ana kembali membohonginya membuat Raihan gerah.
Dengan gerakan serampangan, Raihan melepaskan dasi yang terasa membelit lehernya. Lelaki itu menunduk, menempelkan dahinya di stir mobil dengan perasaan tak menentu.
Dia tak bisa seperti ini. Berjauhan dengan Ana apalagi saat rasa di dalam hatinya sangat menggebu, justru membuatnya makin tersiksa. Dan apa yang perempuan itu katakan tadi? Bahwa dia sibuk dan tak bisa bertemu hari ini? Raihan tersenyum masam, dia tahu Ana menjaga jarak dengannya setelah dia dengan gamblang mengungkapkan perasaan.
__ADS_1
Mobil Raihan masih terparkir di sana. Entah mengapa Raihan bersikeras ingin menjemput Ana hari ini meskipun perempuan itu mengabarkan sedang sibuk di pesan tadi. Raihan menghela napas. Mengangkat kepala dan memandang lurus ke depan dengan mata yang bergerak mencari keberadaan Ana.
Lalu mata itu terkesiap dengan penuh binar. Raihan tak membuang waktu untuk keluar dari mobil, dan setengah berlari untuk menghampiri Ana--sebelum menarik dan menggenggam tangannya erat.
Ha itu kontan membuat Ana terkejut bukan main. "Han?!"
"Iya, ini aku. Kamu mau menghindar lagi?" tanya Raihan retoris.
Ana menggeleng, berusaha melepaskan genggaman Raihan. "Han, lepas!!" sentak Ana.
Raihan bergeming, dia justru menarik Ana hingga perempuan itu nyaris terseok mengikuti langkahnya yang memburu. Raihan membuka mobil dan mendorong Ana masuk. "Pasang seatbelt!" titah Raihan.
"Aku gak mau!" Ana menggeleng, hendak keluar tetapi tubuhnya kembali di tahan.
"Tetap di sini!" Raihan memperingatinya hingga membuat Ana diam tak berkutik. Kemudian lelaki itu menutup pintu mobil dan berjalan mengitar sebelum masuk dan duduk di kursi kemudi.
"Aku bawa mobil ke sini," kata Ana.
Raihan hanya menoleh sekilas. Mesin mobil dinyalakan dan tak lama kendaraan itu bergerak meninggalkan pelataran Rumah sakit yang luas.
"Kamu bisa berhenti di depan sana. Ada halte," kata Ana.
Raihan menggeram. Dia tanpa segan menginjak rem hingga membuat Ana nyaris terpelanting dan terantuk dashboard jika saja dia tak memakai sabuk pengaman.
Ana menoleh. Bibirnya terbuka. Dia terkejut bukan main dengan sikap Raihan yang seperti ini.
"Kamu gila?!" tanya Ana dengan suara tinggi.
"Ya, aku gila! Gila karena kamu, An! Kenapa kami menghindar?" Raihan meluapkaln segala hal yang mengganjal dalam hatinya. "Apa karena kata-kata aku beberapa hari lalu? Iya?"
Ana menggeleng. Enggan mendongak bila harus kembali menatap manik yang menenggelamkan itu.
Hingga Raihan yang merasa hampir frustrasi--karena Ana yang terdiam--memilih untuk kembali melajukan mobil. Ini terakhir kalinya, batin Raihan. Terakhir kali dia berusaha untuk mendapatkan Ana. Dan jika perempuan itu menolak, bukanlah tak ada alasan bagi Raihan untuk tetap bertahan dan menunggu?
...
Ana menatap punggung lelaki yang berjalan pelan di depannya. Punggung yang terlihat kekar, tegap, bahkan seperti kuat untuk melindungi orang terkasih dari apapun yang ada di dunia.
Ingin rasanya Ana merengkuh. Mengatakan bahwa sesungguhnya inilah yang Ana inginkan sejak lama. Namun, dia tak berani. Mungkin dia bodoh ketika menolak atensi keberadaan Raihan, berusaha menepis kebaikan lelaki itu.
Raihan, lelaki salah satu lelaki baik yang pernah Ana kenal.
Mereka terus berjalan. Rerimbun pohon berjejer rapi sepanjang jalan setapak. Ana memerhatikan sekitar. Sepi. Lalu, dia kembali menatap ke depan. Raihan sempat berhenti di sebuah toko bunga untuk membeli buket bunga Lily putih sebelum membawanya ke tempat ini.
Ana menatap lelaki itu. Tak berani berbicara setelah perselisihan singkat mereka yang sempat terjadi di mobil.
"Kita sampai," ujar Raihan. "Ayo."
Ana mengikuti langkah Raihan. Tak sekali pun lelaki itu menoleh hingga akhirnya mereka sampai di sebuah petakan tanah dengan patung malaikat bersayap.
"Ini ...."
__ADS_1
"Makam Mamah aku."
Pandangan Ana bergetar. Sedang Raihan menunduk untuk meletakkan buket bunga Lily itu. Mah, perempuan inilah yang ingin aku kenalkan. Dia cantik kan, Mah? Semoga dia membuka hatinya.
"Ini ...." Suara Ana terdengar pelan.
Raihan menoleh. "Ini makam Mamah aku. Papah sengaja membuatnya sebagai bukti cinta. Memang kadang berlebihan, tapi dalam cinta semuanya terasa benar, kan?"
Tak tahu harus mengatakan apa, membuat Ana hanya mengangguk.
Raihan kembali berkata, "Cuma kamu, An, yang pertama aku bawa ke tempat ini."
Entah apa yang bisa Ana jabarkan. Bahkan saat Raihan kembali membawanya, Ana hanya bisa mengikuti. Mereka kembali melewati jalan setapak itu, tetapi kali ini mereka turut berbelok melewati pohon yang lebih rimbun.
"Wah!!" Ana berseru begitu melihat danau yang berada di hadapannya. Dia menoleh. "Raihan ini?"
"Danau. Gimana, cantik 'kan?"
Ana mengangguk antusias. Lantas berlari-lari kecil di pinggiran danau sembari menikmati langit senja yang sudah kemerahan.
"Ana!!"
Teriakan Raihan membuat Ana menoleh. Lelaki itu berjalan ke arahnya. Mendekat, mungkin hanya menyisakan dua langkah jarak yang terasa amat dekat.
"Aku mau ngomong sekali lagi."
Dada Ana berdetak keras. Wajahnya kaku menunggu kalimat apa yang akan Raihan katakan kali ini.
"Dan jika kamu menolak, aku akan menyerah."
Dan anehnya Ana membenci kalimat itu. Dia ingin berada di dekat Raihan.
"Untuk memulai dan membuat satu hubungan, aku harus berani mengambil satu langkah apapun resikonya." Raihan mempersempit jarak mereka. "Dan aku udah mengambil langkah itu, apa kamu akan mundur tanpa memberi aku kesempatan, Liliana?"
Ana terdiam. Bibirnya kelu bahkan hanya untuk mengucapkan balasan.
"Ana, buka hati untuk aku, ya? Coba untuk menyukai aku. Coba untuk cinta sama aku."
Dan Ana tak bisa menolak lagi, semakin dia mengelak, dadanya terasa teremat keras. Akhirnya dia mengangguk. Raihan tersenyum sumringah dengan kelegaan hingga lelaki itu berani menariknya ke dalam pelukan.
"Aku akan membuka hati aku, Raihan. Aku percaya sama kamu. Maafin aku ... maafin aku ... aku--"
"Stth ...." Raihan menghela pelukan mereka. Merangkup wajah Ana yang berderai air mata. "Aku cinta kamu."
Dan Ana tak bisa mengatakan seberapa besar kebahagiaannya saat ini. Di bawah lembayung senja, Raihan mengikis jarak di antara mereka. Lelaki itu mengusap rahangnya. Menunduk. Dan Ana kembali tak dapat menolak ketika Raihan menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman menakjubkan.
Ini bukan sekedar ciuman. Melainkan sebagai tanda bahwa Ana menyerahkan sebagian hatinya untuk lelaki ini. Raihan-nya.
...
^^^TBC ....^^^
__ADS_1