
Tubuh Asya yang lemah seketika itu juga limbung. Dua orang Polisi yang bertugas untuk menyelidiki kasus kecelakaan Zidan baru saja pergi, setelah sebelumnya memberi kabar buruk pada mereka semua.
Fakta bahwa kecelakaan Zidan ternyata sudah direncanakan, secara tak langsung membuat tubuh Asya menegang. Buku jarinya bahkan memutih, seiring dengan degup jantungnya yang bertalu kencang.
Ana yang merasakan hal itu pun mencoba menenangkan Asya. Tangannya disampirkannya di bahu, menepuk konstan -- berusaha meredakan amarah ibu hamil di sampingnya ini.
"Sya.. Jangan stress, oke?"
"Ta-tapi, Kak. Apa.. Apa salah Zidan?"
"Stthh.. Kamu tenang aja, Sya.. Pelakunya udah ditangkap. Jadi, kita serahin kasus ini ke Polisi aja, ya?"
Asya mengangguk. Menundukkan pandangan dengan tangan yang bergerak konstan -- mengusap perut buncitnya.
Sedangkan Ana mengerjab gelisah. Perempuan itu menghela napas pelan. Dia marah, sangat marah lebih tepatnya. Tapi, pengendalian diri mengambil alih. Membuatnya lebih bisa mengendalikan emosi.
Kembali menghela napas, Ana menoleh. Melihat sang Ayah yang sama terkejutnya membuat perempuan itu bangkit -- mendekati.
"Pah.."
Rendi mengerjab, tangan rentanya yang bergetar itu terasa nyaman ketika ditangkup oleh sang Anak. "Kamu ke Kantor Polisi ya, Ana."
"Tapi, Pah.."
"Ana..," ucap Rendi dengan ketegasan. "Papah cuma ingin tau siapa pelakunya. Papah gak terima Zidan seperti ini."
Memandang Rendi, Ana melihat kekhawatiran dan kesungguhan di sana. Membuatnya mengangguk dan mengedarkan pandangan. Mereka semua di sini gelisah, merasakan rasa sakit yang sama dengan yang keluarganya rasakan.
Zidan begitu beruntung, mempunyai sahabat dan kekasih yang siap menemaninya kapan pun. Berjuang bersama, dan enggan meninggalkannya -- apapun sebabnya itu.
"Pah, kalau begitu Ana pergi dulu, ya.."
Rendi mengangguk, membiarkan Ana pergi untuk menghampiri Asya yang sedang berkumpul bersama Fany, Raihan, Andi dan Yuda.
"Sya..?"
"Iya, Kak?"
"Kakak mau ke Kantor Polisi."
Tubuh Asya menegang. "Kakak mau ke Kantor Polisi?"
"Iya, Papah nyuruh Kakak cari tau siapa pelakunya."
__ADS_1
Mata Asya memanas, saat itu juga dia bangkit dan menggenggam tangan Ana erat. "Kak.."
"Kakak akan ngabarin kamu, Sya," ucap Ana kemudian mengalihkan pandangan pada Raihan. Raihan yang seakan mengerti menganggukkan kepala dan bangkit dari kursi tunggunya.
Akhirnya setelah berpamitan singkat dan menitipkan Asya pada orang yang tersisa, Ana dan Raihan meninggalkan Rumah Sakit.
Beberapa menit berlalu. Ketegangan mereka terintrupsi oleh suara pintu operasi yang terbuka. Dengan dibantu oleh Fany, Asya mendekati Dokter yang baru saja keluar ruangan -- memandangnya penuh harap.
"Bagaimana keadaan Anak saya, Dok?" tanya Rendi dengan nada gemetar.
Dokter tersebut menghela napas. Memandang setiap mata sayu di hadapannya sebelum memaku pandangan pada Asya. Mata wanita ini menyiratkan kekhawatiran yang amat besar, membuatnya secara tak langsung merasakan hal yang sama.
"Kami sudah berusaha untuk menghentikan pendarahan di area kepala dan bagian lainnya. Selain itu, syukurlah benturan pada kepala dan patahnya tulang rusuk tak membahayakan organ vital. Tapi, kondisi pasien bisa di katakan kritis."
Penjelasan Dokter nyatanya tak memberikan kelegaan pada Asya. Fakta bahwa kondisi Zidan kritis, membuat tubuhnya yang lemah itu -- makin melemah.
Tubuhnya hampir limbung. Jika saja Fany tak menahannya dan membantu tubuh itu agar kuat berdiri, bisa dipastikan bahwa saat ini dia sudah terjerembab dengan kondisi yang teramat lemah.
"Baiklah, kalau begitu saya permisi. Anda sekalian bisa menjenguknya saat sudah dipindahkan ke ruang rawat nanti," ucap Dokter tersebut sambil berlalu.
Tak lama setelahnya, pintu ruang operasi kembali terbuka. Beberapa perawat mendorong brankar di mana Zidan terbaring di atasnya.
Asya tercekat, tangannya teremat begitu melihat kondisi Zidan. Wajah pucat, beberapa bagian terbalut perban dan beberapa bagian lainnya yang mengalami lecet ringan dibiarkan terbuka.
Asya diam. Maniknya menjejak, mengikuti ke mana brankar itu akan dibawa.
Hal tersebut membuat Fany menghela napas pelan. Dia berkata, "Sabar, Sya.."
...
Kaki itu berjalan lemah, terseok ketika menjejak saat hendak mendekati tempat pembaringan. Zidan di sana. Wajahnya pucat. Tubuhnya terbaring dengan beberapa alat medis yang menempel.
Suara elektrokardiograf mengalun konstan, memenuhi sudut ruang yang hanya berisi hembusan napas dua anak manusia.
Asya menangis, begitu lirih -- hingga bahkan tak terdengar. Berbekal kursi yang terletak di samping brankar, wanita hamil itu mendudukkan tubuh lemahnya.
Dia menggenggam tangan Zidan. Bagian tubuh yang selalu mengusapnya, kini hanya meninggalkan seberkas rasa hangat yang bahkan hampir tak terasa.
"Zidan...," suara Asya tercekat. Dia menunduk, menempelkan pipinya yang lembab itu dengan punggung tangan sang Kekasih.
Merindu, berharap tangan ini akan menangkup pipinya. Mengusap, memberikan ketenangan. Nyatanya tidak. Membuat Asya kembali menangis.
Andaikan dia menerima maaf Zidan, akankah ini terjadi? Andaikan saat itu dia tak pergi, akankah ini terjadi? Andaikan dia tak egois, akankah ini terjadi? Dan masih banyak 'Andaikan-andaikan' lain yang terbesit. Memenuhi relung Asya hingga terasa sesak.
__ADS_1
"Zidan...." Sekali lagi suara serak itu mengalun. "Bangun ya.. Kita jalani hidup bersama.. Aku butuh kamu Zidan.. --hiks.. Baby kita butuh kamu.. Jangan tinggalin aku, oke? Aku.. Aku cinta kamu Zidan.. --hiks.. Maafin aku, aku egois.. Jadi bangun, ya...?"
Hanya kesunyian yang menjawab. Zidan masih terdiam, seakan menyiksa Asya yang saat ini berada di ujung keputus asaan. Dia lemah. Hatinya tergores luka yang tak kasat.
Meskipun telah ditempa menjadi kuat, nyatanya semua itu tak cukup bila harus dihadapkan pada kenyataan yang saat ini terpampang.
Kepergian orang tuanya yang mendadak. Seluruh masalah yang silih berganti menerpa dan gejolak batin yang membuatnya hampir menyerah, perlahan tapi pasti memudar, dengan kehadiran lelaki yang saat ini tengah terbaring lemah.
Ya, Zidan yang menciptakan bahagia. Menggoreskan luka. Membuatnya menganga dan berdarah disaat bersamaan, ternyata adalah penyembuh dari seabrek luka itu sendiri.
Lalu, ketika penyembuh itu pergi, apa yang bisa Asya lakukan?
"Zidan... Buka mata kamu.. Kamu udah janji, gak bakal sakitin aku lagi, Zidan.. Kalau kamu gak buka mata, aku marah.. Aku.. --hiks.. Aku akan pergi lagi.. --hiks.. Aku gak ijinin kamu ketemu Baby kita nanti.. Aku.. --hiks.."
Suara Asya lagi-lagi tercekat. Dia tak sanggup untuk melanjutkan kata-kata. Fakta yang saat ini terpampang begitu menyakitkan. Zidan-nya kritis, dan dia tak bisa melakukan apapun.
"Sayang...," lirihannya teredam oleh isakan. Kepala Asya menunduk. Air mata seakan tak pernah berhenti mengabsen seluruh lekuk wajahnya yang memucat.
Hingga tubuh lemah yang terbaring itu bergerak. Membuat Asya menegakkan kepala ketika rasa bahagia itu terlonjak.
Sayang, yang diharapkannya begitu mahal untuk diraih.
Panik melanda Asya begitu maniknya melihat tubuh Zidan yang diserang getar hebat. Suara biip panjang dari alat elektrokardiograf yang menunjukkan tak adanya aktivitas denyut jantung, bersamaan dengan tubuh Zidan yang tiba-tiba saja lunglai membuat Asya panik bukan main.
"Zidan?!" Tangan Asya bergetar. "Zidan!! Jangan begini, Zidan!! Jangan main-main, Zidan!!"
Suara pintu yang terbuka bahkan mengabur di pendengaran. Dokter dan beberapa Perawat masuk. Tubuh Asya oleng bersamaan dengan sepasang tangan yang memapahnya agar tegak.
"Sya... Kita keluar, biar Dokter yang yang tanganin, oke?"
"Nggak Raihan!! Nggak!!" Asya menggeleng cepat. Tubuhnya yang lemah dipaksakannya memberontak.
Raihan ingin menangis. Dia menoleh ke belakang, di mana yang lain berdiri dengan tubuh yang begetar hebat.
Masih berusaha menenangkan Asya, Raihan tak punya pilihan lain selain memeluk tubuh itu dan menariknya menjauh. "Sya.. Kita keluar, oke?"
"Lepas!! Lepasin!! --hiks.. Zidan!! Ini gak lucu, Zidan!! Bangun!! Aku butuh kamu.. Anak kita.. --hiks... Butuh kamu..."
...
Vote, like dan coment..
Maaf, jika ada keanehan di scene medisnya. Aku bukan ahli medis, jadi kalau kurang nyambung harap maklum.. hehehehe😁😁
__ADS_1