
Hari masih terlihat cukup gelap, terbukti dari jejak mentari yang masih malu-malu untuk menampakkan diri. Asya menghela napas, perempuan itu membetulkan letak cardigan yang membalutnya untuk menghalau dingin, seraya menuruni undakan tangga.
Dahinya mengernyit begitu menapaki ruang tengah. Dia yang sebelumnya ingin pergi kedapur, mengurungkan niat dan memilih untuk melangkah mendekati objek yang terbaring di sofa.
"Raihan?" Kernyitan di dahinya makin terlihat dalam ketika menyebut nama lelaki itu.
Dan nyatanya apa yang dia lihat adalah kenyataan. Berulang kali Asya mengucek mata, sosok Raihan yang terlelap di sofa tidak kunjung lenyap.
Asya meringis, dia mengingat betapa kasarnya dia menolak kehadiran Raihan di villa ini.
Bukan tanpa alasan. Kilas balik kemarahan Zidan yang tak mempercayainya, terus berputar ketika melihat wajah mantan kekasihnya itu.
Kedekatan mereka, perhatian yang diberikan Raihan, menurut Asya adalah salah satu penyebab kekecewaan Zidan terhadapnya -- selain ketidak percayaan lelaki itu sendiri.
Asya merenung, seraya menatap dalam wajah Raihan yang terlihat begitu damai dihadapannya.
Lalu rasa mual tiba-tiba menghinggap, membuat Asya langsung menangkup kedua telapak tangan untuk menutup mulutnya, sebelum berlari cukup kencang menuju dapur.
Hanya ada cairan bening yang keluar -- seperti hari-hari sebelumnya. Asya terpejam, terus merasakan desakan dari dalam perut untuk mengeluarkan cairan itu ke wastafel dapur.
Dia lemah. Walaupun ini bukan yang pertama kali dia alami, namun rasa getir yang tertinggal didalam mulutnya bahkan setelah berkumur sekalipun, tetap membuat kondisinya makin parah.
Dua tangan dia jadikan tumpuan. Asya menunduk dalam, setelah menyiram bekas muntahan dan berkumur untuk membersihkan mulutnya.
"Udah mendingan?"
Asya tercekat, bukan karena suara itu, melainkan pijatan lembut di tengkuknya yang anehnya terasa begitu nyaman.
"Udah." Asya menjawab dengan nada datar, kembali menegakkan tubuh dan berbalik untuk melihat wajah Raihan yang terlihat khawatir.
"Kamu biasa begini, Sya?" Raihan bertanya dengan nada lembut.
Tadi, saat kesadarannya belum sepenuhnya dia raih, suara Asya yang sedang berusaha mengeluarkan muntahan itu masuk kedalam gendang telinganya.
Raihan sudah berusaha menghalau segala keinginan untuk mendekati perempuan itu. Dia ingin menjaga jarak dari Asya, sebelum benar-benar kembali berusaha untuk mendekatinya lagi.
Namun, nyatanya rasa khawatir mengalahkan segala pertahanan yang dia buat. Dan saat itu pula, dia langsung menapakkan kaki di lantai keramik dingin, seraya menyibak selimut tebal dan langsung menuju dapur untuk melihat keadaan Asya.
"Kamu ngapain disini?" tanya Asya ketus.
Raihan tersenyum masam, dia mengalihkan pandangan sebelum kembali menatap Asya. "Aku khawatir."
"Kamu gak perlu khawatir."
"Tapi, Sya--"
"Udahlah, Han. Jangan memberi simpati karena nyatanya gak ada yang akan berubah."
__ADS_1
"Sya, kenapa kamu begini?"
Asya mendengus. Sungguh, dia saat ini tak ingin melihat pandangan kekecewaan dari siapapun itu -- termasuk Raihan.
"Kamu tau, Han? Karena kedekatan kita, Zidan jadi salah paham. Karena.. karena semua ini, aku terpaksa pisahin anak aku dari ayahnya. Jadi, please Han, ngertiin aku, oke?"
Perkataan itu membuat Raihan terpaku, dia tak menyangka perhatian dan kedekatannya selama ini menjadi bumerang untuk hubungan Asya sendiri. Menghela napas, tangan Raihan bergerak -- menggenggam tangan Asya yang hendak pergi meninggalkannya.
"Sya, aku tau aku salah. Tapi, rasa ini gak bisa dipaksakan untuk menghilang begitu aja. Semua butuh proses."
"Aku tau, tapi--"
"Kamu janjiin aku persahabatan, Sya. Kamu inget itu?"
Terhenyak, Asya meringis seraya melihat pergelangannya yang ada dalam genggaman Raihan. Dia mengingat itu, mengingat janjinya untuk mengakhiri hubungan percintaan, dan memulainya sebagai persahabatan. Sekarang, apa yang harus dia lakukan?
"Sya, aku mohon, jangan menjauh."
Hati Asya tercelos. Mengakhiri semua memang mudah, tapi dia ingin mempertahankan hubungan baik ini. Oleh karenanya dia mengangguk, seraya tersenyum dan menoleh menatap Raihan.
Raihan merasakan itu, senyuman yang tulus kini telah hadir kembali.
"Oke, kita sahabatan. Tapi, aku gak bisa untuk lebih dari ini, kamu tau alasannya kan?"
Tentu saja dia tau alasannya. Asya mencintai Zidan, dan itu salah satu fakta yang tak terelakkan.
...
Ketika mata Zidan terbuka, serangan bendentam di kepalanya langsung menyerang, membuatnya meringis disela kerjaban matanya untuk menghalau sulur cahaya yang menembus lewat jendela.
"Udah sadar lo ternyata."
Zidan menoleh, mendapati kehadiran Andi yang terduduk di sofa seraya menyandarkan tubuh dan melipat kakinya. Sahabatnya itu mendegus, melihatnya dengan pandangan yang sarat akan kekesalan.
"Gue ada dimana?" tanya Zidan, berusaha bangkit dan menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang.
"Lo tanya, lo ada dimana? Ck! Lo ada di apartemen gue. Dan jangan bilang lo lupa atas apa yang lo lakuin semalem?"
"Apa yang gue lakuin semalem?"
Mendengus, Andi menghembuskan napas sebelum menghirupnya kembali. Sungguh, jika saja Zidan bukan sahabatnya, mungkin saja dia sudah mendepak lelaki yang sialnya tampan ini untuk keluar dari hunian minimalisnya.
"Lo ke kelab dan minum. Dan lo mau tau apa yang terjadi setelahnya?"
Zidan mengangguk.
"Lo hampir di perk*sa. Untung aja gue dateng, kalau nggak, mungkin aja tu cewek udah ke enakan."
__ADS_1
Zidan meringis seraya menekan kepalanya yang terasa pening. Lelaki itu berusaha mengingat kepingan kejadian yang terjadi semalam.
Bermula saat dia pergi ke kelab, meminum minuman dengan kadar alkohol yang tinggi, membiarkan seorang j*lang menggerayangi tubuhnya, hingga--
"Lo bilang, lo tau keberadaan Asya kan. Dimana dia sekarang?"
Andi tercengang, dia tak menyangka Zidan akan mengingat apa yang dia katakan semalam sebelum dia jatuh pingsan.
Menghela napas, Andi tersenyum geli. "Gue gak pernah bilang tentang Asya."
Entah kekuatan darimana, Zidan langsung bangkit dan berjalan cepat mendekati Andi. Lelaki itu terlihat marah, terbukti dari kepalan tangannya yang dia arahkan ke wajah sahabatnya itu.
"Lo bisa bohongin gue apapun, An. Tapi, jangan bohongin gue tentang keberadaan Asya. Gue gak se-beg* yang lo kira. Gue butuh Asya, dan gue butuh anak gue, lo ngerti kan?"
Menelan ludahnya kasar, Andi mengangguk. "Oke, gue akan kasih tau lo. Tapi, gue mohon, lo jangan bertindak bodoh lagi waktu ketemu Asya."
"Gue gak akan bertindak bodoh lagi, An. Jadi gue mohon sama lo, kasih tau keberadaan Asya sekarang."
...
Zidan meremat jemarinya gusar tanpa dia sadari. Matanya memanas, hatinya yang kosong kini telah kembali terisi, ketika maniknya memandang Asya dari kejauhan.
Saat Andi memberitaukan keberadaan Asya, disaat itu pula -- tanpa menunggu waktu lama, Zidan bergerak untuk menemui wanita itu.
Dia rindu, dia ingin mendekap dan menciumnya sepenuh cinta. Senyuman yang tersirat di wajah Asya -- walaupun hanya bisa dipandang dari jauh -- nyatanya bisa membuat Zidan merasakan kedamaian.
"Aku rindu kamu, Sya. Aku rindu kalian."
Setetes air mata yang keberapa, kini kembali hadir. Dia bersumpah, akan mendapatkan kepercayaan Asya apapun yang terjadi. Akan mencintainya, dan anak mereka sepenuh hati.
Hingga pandangan kerinduan itu berubah menjadi dingin ketika melihat sosok Raihan disana.
Zidan menghela napas. Mengingat perkataan Andi yang memperingatkannya tentang keberadaan Raihan, membuatnya terpekur untuk tak kembali berbuat suatu hal yang bodoh untuk yang kesekian kalinya.
Memberanikan diri, Zidan keluar dari mobil yang memang dia parkirkan cukup jauh dari villa milik sahabatnya itu.
Langkahnya terasa lambat. Jantungnya teremat, bahkan ketika tapaknya telah menginjak rumput halaman yang luas.
Disana, tak jauh darinya, Asya berada. Duduk diatas kursi tepat di beranda -- berdampingan dengan Raihan.
"Asya?"
Suara serak namun tegas yang sialnya Asya rindukan itu, meringsek masuk kedalam pendengaran. Matanya yang bulat itu membola, begitu melihat orang yang dia cinta, yang menyakitinya berulang kali -- kini sedang ada dihadapannya.
"Zidan, ngapain kamu disini?"
...
__ADS_1
Vote, like dan coment ya..