
Asya mengulas senyum puas saat memandang tampilannya di dalam cermin. Tadi pagi, Zidan mengajaknya untuk menemui salah satu patner bisnisnya di sebuah restauran sekaligus membahas tentang kerja sama sembari makan siang. Asya tak menolak, wanita hamil itu justru merasa senang karena ikut terlibat dalam urusan pekerjaan Zidan.
Setelah memastikan riasannya rapi dan tak berkesan berlebihan, Asya bangkit dari duduknya dan memandangi cermin lagi untuk sesaat. Dress biru lembut selutut berbahan ringan melingkupi tubuh dan perutnya yang buncit. Asya sekali lagi mengulas senyum puas saat mengingat bahwa dress inilah yang Zidan pilihkan untuknya sebelum berangkat bekerja tadi pagi.
Berselang lima menit pintu kamar diketuk diikuti dengan Zidan yang memasuki ruangan. Lelaki itu masih terlihat tampan. Walaupun wajahnya sedikit kuyu karena kelelahan, aura yang terpancar sama sekali tak bisa disanggah.
"Udah siap, Sayang?" tanya Zidan menghampiri.
"Udah, Zidan ...." Asya mengangguk antusias seraya meraih tas kecil di atas nakas. Zidan melihat tampilan Asya dari kepala hingga ujung kaki dan tak bisa menyembunyikan perasaan puasnya melihat tampilan Asya.
Mereka beranjak keluar. Setelah berpamitan dengan Rendi, Zidan menuntun Asya untuk keluar dari mansion dan memasuki mobil sebelum menjalankannya menuju tempat tujuan.
Hanya ada keheningan di dalam mobil. Asya sesekali melirik Zidan dan tangannya yang dilingkupi oleh genggaman lelaki itu. Sebenarnya Asya merasa sedikit bersalah. Kekalutan bahkan masih menderanya begitu mengetahui bahwa dialah yang membuat Zidan seperti ini.
Alih-alih mempertemukan pasangan ibu dan anak itu, Asya justru menyembunyikan Rani dari hadapan Zidan selama beberapa hari.
Perjalanan itu hanya memakan waktu dua puluh menit. Salah satu pelayan sudah menyambut mereka dan menuntun ke salah satu meja yang sudah direservasi.
"Pak Zami," sapa Zidan.
"Pak Zidan." Lelaki itu tersenyum dan menyambut uluran tangan Zidan sebelum mengalihkan pandangannya pada Asya. "Ini istri Anda?"
Zidan tak urung mengangguk. Setelah Zami menjabat tangan Asya mereka duduk seraya membahas pekerjaan yang memang menjadi alasan pertemuan tersebut.
__ADS_1
"Saya sangat tertarik dengan proposal kerja sama yang Anda tawarkan, Pak Zidan," ungkap Zami dengan senyum yang tak lepas.
Mendapati respon tersebut membuat Zidan merasa usahanya, dan karyawannya yang selama ini terlibat tak sia-sia. Pancara kebahagiaan tercetak di wajah lelaki itu. Asya yang berada tepat di sampingnya menggenggam tangan Zidan sebagai bentuk ucapan selamat.
Percakapan dua pelaku bisnis itu sejenak terjeda begitu pelayan mengantarkan beberapa menu makanan. Setelahnya hanya ada denting piring dan obrolan ringan yang mengisi acara makan siang tersebut.
"Bagaimana pembangunan hotel Anda di Surabaya, Pak Zidan?"
"Berjalan lancar," respon Zidan, "Memang sempat ada kendala akibat keterlambatan bahan kontruksi beberapa bulan lalu. Tapi kami berhasil menanganinya dengan baik."
Percakapan mereka berlanjut hingga akhirnya menu penutup disajikan. Asya yang sedari tadi memerhatikan hanya menanggapi beberapa pertanyaan yang memang ditujukan kepadanya oleh sosok Zami sesekali.
"Tak heran Anda bisa menjadi pebisnis sesukses ini di usia muda. Anda memiliki istri yang bisa mendukung dan memberi Anda semangat," ucap Zami melipat tangan di atas meja.
Zidan mengiyakan ucapan tersebut. Bahkan tak canggung menggegam tangan Asya dan memberi usapan ringan di sana. Pipi Asya bersemu merah.
"Maksud Anda istri?"
Asya mengangguk, bahkan Zidan di sisinya juga melakukan gerakan yang sama. Namun alih-alih membenarkan dugaan, sosok muda tersebut justru terkekeh pelan seraya memandang dua wajah yang berada di hadapannya.
"Yah, well ... memang di usia ini seharusnya saya sudah menikah. Tapi, tidak. Saya masih single di usia saya yang ke tiga puluh ini," ucapnya, sebelum terjeda beberapa saat dan kembali melanjutkan, "Namun di sisi lain saya tak bisa menyangkal itu ... saya memang memilikin sosok wanita di belakang saya, dan itu adalah ibu saya."
Zami sama sekali tak menyadari raut wajah muram dari lawan bicaranya. Berbeda dengan Zidan yang terlihat tak nyaman, Asya justru merasa antusias dan melihat pembicaraan yang menjurus ini merupakan sebuah peluang.
__ADS_1
Wanita itu melirik sekilas kepada suaminya, sebelum kembali memakukan pandangan pada sosok Zami. "Maksud Anda, ibu Anda?"
"Iya, ibu saya. Beliau yang mendukung saya selama ini. Jika tak ada beliau, saya tak yakin bisa menjejak keberhasilan seperti sekarang."
"Sepertinya Anda sangat menyayangi beliau."
"Sangat, Nona Asya. Saya bahkan tak bisa menjabarkan seberapa besar rasa itu. Yang jelas, saya sangat menyayanginya." Rona bahagia jelas tergambar ketika Zami membicarakan sosok ibunya, dan itu membuat perasaan Asya membuncah dengan kerinduan. "Dan Anda, Nona Asya?"
"Ah, tentang ibu saya?" tanya Asya tergeragap. Zami yang mengangguk membuat Asya melanjutkan, "Tak banyak yang bisa saya jabarkan, Pak Zami. Saya sudah yatim piatu sejak saya duduk di bangku SMA. Tapi saya bisa mengatakan, bahwa saya merasa beruntung bisa dilahirkan dan dibesarkan dalam keluarga yang sangat menyayangi saya."
"Maafkan, saya ... saya tak bermaksud--"
"Tak apa, Pak Zami."
Rona dan rasa bersalah jelas tergambar di wajah Zami. Asya tersenyum pelan, wanita itu membersit hidung dan mengerjabkan matanya yang mulai memanas. Di sisinya, Zidan menangkap semua pancara sendu walaupun hanya sekilas. Namun, alih-alih berbicara, Zidan hanya bisa menggenggam tangang itu dan menyalurkan kehangatan.
"Lagi pula, sekarang saya sudah kembali memiliki keluarga, Pak Zami. Menikah dengan Zidan membuat saya kembali merasakan kehangatan keluarga," sambung Asya.
"Ah, ya ...memang seperti itu 'kan seharusnya? Orang tua pasangan merupakan orang tua kita juga. Baik itu ibu maupun ayah. Walaupun sosok orang tua kandung tak akan tergantikan, karena bagaimana 'pun, karena merekalah yang menghadirkan kita ke dunia ini, apalagi seorang ibu."
"Anda benar, Pak Zami."
Setelah mengatakan hal tersebut, Asya menoleh sekilas--menatap suaminya. Bibirnya berkedut samar menahan lengkungan senyum. Asya yakin, pembicaraan ini mengusik ego Zidan. Asya bukannya tak tahu bahwa Zidan merasa tak nyaman dengan pembicaraannya yang mengaitkan orang tua, apalagi sosok seorang ibu.
__ADS_1
Tetapi bagaimana 'pun, Asya sudah berjanji pada dirinya sendiri akan mempersatukan dan mencoba menyadarkan Zidan untuk kembali menerima sosok Rina dalam hidupnya. Mengizinkan sosok itu ikut andil dalam setiap kebahagiaan mereka.
Karena siapapun itu, berhak mendapatkan kesempatan kedua. Termasuk Rina--ibu dari suaminya sekalipun.