
Asya menatap canggung ke arah cermin besar. Refleksi dirinya yang mengenakan gaun dengan jelas terpantul. Gaun putih berbahan satin selutut dengan bagian belakang menjuntai membungkus tubuhnya yang sedikit berisi. Sangat kontras dengan perutnya yang sudah membuncit.
Asya menghela napas, tangannya bergerak menyentuh sebuah tiara di atas kepalanya yang terpasang apik. Berbagai macam batuan berkilauan tertata di sana. Sekali lagi, menambah kesan glamor ditambah tatanan rambutnya yang digerai bergelombang.
Tatapan itu terkunci, hingga suara derit pintu ruangan terbuka mengaburkan lamunan Asya. Wanita itu menatap pantulan cermin. Melihat Ana yang melangkah padanya dengan senyum tercetak manis.
"Sya, kenapa ngelamun?"
Menggeleng Asya berbalik, membiarkan Ana meraih tangannya untuk digenggam. "Nggak kenapa-napa, Kak."
"Kamu gugup?"
"Iya." Asya mengangguk, matanya tiba-tiba memanas oleh sesuatu yang sulit untuk ditafsirkan.
Membuat Ana yang melihat berdecak gemas sebelum mengambil tisu yang terletak di atas nakas untuk menghapus lelehan air mata sang 'Adik'.
"Jangan nangis terus dong. Kalau Zidan tau, dia pasti sedih."
Tak ada pilihan lain bagi Asya selain mengiyakan. Toh yang dikatakan Ana ada benarnya juga. Kejadian itu sudah berlalu, meski sekelebat peristiwanya masih terpatri di pikiran Asya -- bahkan hingga sekarang.
Dan saat ini, yang Asya perlu lakukan hanyalah menatap ke depan. Meninggalkan yang lalu dan menganggapnya hanya sebagai kenangan.
"Jadi, sekarang kamu udah siap?" tanya Ana lagi.
Membuat Asya mengangguk setelah sebelumnya menormalkan detak jantungnya yang bertalu keras.
Lalu derit pintu untuk yang kedua kalinya kembali terdengar. Kali ini Anton -- Omnya lah yang memasuki ruangan dan berjalan ke arah mereka berdua.
Lelaki paruh baya itu tak bisa menahan rasa harunya. Manik rentanya itu berkaca bahagia. Melihat sang Keponakan yang sudah dianggap sebagai anaknya sendiri, akan membangun biduk rumah tangga dan akan berganti status menjadi 'Istri' seseorang.
Ya.. Tentunya tak ada yang membahagiakan selain itu.
"Om..." Asya mencicit, menerima uluran tangan Anton sebelum beralih merangkul sikunya dan berdiri bersisian.
Ana keluar lebih dulu, meninggalkan Asya bersama lelaki paruh baya yang sangat berjasa baginya.
"Om senang, Asya. Akhirnya Om bisa melihat kamu bahagia. Dan Om yakin, Tony juga demikian."
Asya mengangguk haru. Memberi usapan pada lengan Anton sebelum mereka akhirnya berjalan.
Derap langkah terasa berat bagi Asya. Dadanya sesak, bukan karena kemarah -- melainkan luapan kebahagiaan.
Apalagi ketika langkah mereka sampai di ruang tengah mansion. Ruangan yang telah disulap sedemikian rupa menjadi sangat indah. Berbagai bunga melengkapi, berpadu dengan kursi yang ditata sejajar -- sudah terisi oleh orang-orang yang memang tak asing bagi Asya.
Pegangan tangan pada siku Anton mengencang. Matanya berbinar haru dan bahagia di saat bersamaan.
Melihat lelaki yang begitu dicintanya kini sedang berdiri di tengah Altar bersama seorang Pastor, membuat semburat di pipi Asya makin terlihat.
Masih teringat di benak bagaimana kekalutannya beberapa waktu yang lalu. Bunyi panjang Elektrokardiograf bahkan sering hadir di dalam mimpi Asya. Menjadi backsound yang mengerikan, dan selalu berakhir dengan Asya yang terbagun lalu menangis sesegukan.
Dia sangka kebahagiaan tak bisa dia teguk. Dia kira Zidan akan tega meninggalkannya di dunia ini dengan kesalahan yang masih tertanam.
Tapi nyatanya semua itu tak terjadi. Zidan tak meninggalkannya. Meski harus berakhir dengan koma, Asya tak pernah menyerah untuk mengharapkan kesadaran lelaki itu.
__ADS_1
Asya berjuang. Berhari-hari dilaluinya dengan penuh permohonan. Berharap Zidan akan sadar dan kembali menemani hari-harinya.
Sekali lagi, Tuhan mengabulkan keinginan serta doanya. Zidan sadar, di hari ke-14 lelaki itu membuka matanya setelah sekian lama terpejam. Dan Asya menjadi orang pertama yang dia pandang saat itu.
Dan setelahnya, hari-hari bahagia mereka dimulai. Asya dengan setia menemani Zidan untuk menjalankan proses pengobatan. Hingga satu bulan setelahnya Zidan melamar dirinya. Asya tak sanggup menolak, apalagi status mereka yang sesaat lagi akan berganti menjadi orang tua.
"Jaga Asya.." Kalimat itu menyentak lamunannya.
Asya mengerjab, melihat bagaimana Anton menyerahkan tangannya untuk digenggam Zidan. Matanya terpejam, merasakan kecupan sayang yang Anton berikan pada pucuk kepalanya.
Lalu pandangannya beralih pada Zidan. Mereka saling berpandang. Membiarkan Pastor mengucap satu dua patah kata , sebelum tiba giliran mereka mengucap janji suci pernikahan.
Janji itu terucap sangat manis dari bibir keduanya. Hingga mereka bertukar cincin sebagai tanda bahwa mereka kini sudah terikat.
Kecupan lembut Zidan labuhkan di bibir Asya, bersamaan dengan tepuk tangan orang-orang yang hadir dalam pernikahan mereka.
"Aku cinta kamu, Sya..," ucap Zidan begitu pangutan mereka terlepas.
"Aku juga cinta kamu, Zidan..," balas Asya.
Lelaki itu lalu menunduk, mengecup perut buncit Asya, dimana sang Anak sedang bergelung nyaman di dalam sana.
...
Asya tak henti-hentinya tersenyum. Meski pernikahan mereka hanya dihadiri kerabat dan teman dekat, sama sekali tak mengurangi rasa bahagianya apalagi di hari paling berharganya saat ini.
Hingga tangkupan tangan menyentak Asya. Membuatnya menoleh dan kembali mendapat kecupan lembut di bibir.
"Maaf.."
Zidan tak menjawab, lelaki itu justru mundur satu langkah dan berdiri di belakang Asya, sebelum membawa sang Istri ke dalam pelukan.
"Ini pasti bukan pernikahan impian.."
Sembari menunduk Asya tersenyum. Tidak, dia tak bisa mengharapkan lebih dari pada ini. Baginya cukup dengan Zidan semuanya terasa sempurnya. Lebay memang. Tapi, itulah kenyataan.
"Selama ada kamu, aku bahagia, Zidan."
Mereka terdiam setelahnya. Masih dengan posisi yang sama, dengan mata yang menjurus ke objek yang sama.
Di sana, tak jauh dari mereka semua tampak bahagia. Menikmati acara yang sederhana namun kental dengan nuansa kekeluargaan.
Hingga musik berirama lembut mengiringi. Semua tampak larut dalam suasana itu. Ada yang memilih duduk, ada pula yang memilih berdansa.
Senyum Asya kembali tercetak. Melihat Raihan yang kini merangkul Ana, mengajaknya untuk berdansa. Ada pula Fany, meski dengan wajah menggerutunya -- perempuan itu tetap menerima ajakan Andi untuk berdansa di tengah ruang mansion.
Ya, semua tampak sempurna. Lalu apa dia bisa berharap lebih dari ini?
"Kamu gak mau dansa?" tanya Zidan yang langsung dijawab Asya dengan gelengan.
"Kamu gak liat perut aku yang udah buncit?"
Zidan tergelak, namun dengan segera lelaki itu menyampirkan tangannya -- mengelus perut Asya yang membuncit. Rasa bahagia membuncah. Fakta bahwa tak lama lagi dia akan menjadi seorang ayah menyentak dalam hatinya.
__ADS_1
"Aku bahagia, Sya."
"Bahagia?"
"Ya, sebentar lagi aku udah jadi Papah."
"Aku juga bahagia.."
"Maaf ya, Sya."
"Zidan...," ucap Asya seraya berbalik. Dia mengerti. Oleh karena itu dia tersenyum -- menangkup wajah Zidan di mana gurat luka masih jelas tercetak jelas di beberapa sisi wajah. "Aku yang minta maaf. Andaikan aku dengar semua omongan kamu, gak mungkin kamu sampai kecelakaan. Dan.. Gak mungkin kamu hampir ninggalin aku waktu itu."
"Sthh.. Jangan salahin diri sendiri. Gak ada cinta tanpa perjuangan, Sya."
Dan karenanya, sehabis mendengar ucapan itu. Asya sedikit berjinjit, hendak menanamkan kecupan di bibir Zidan sebelum sebuah suara mengintrupsi.
"Asya.."
Asya berbalik, wajahnya bersemu merah. "Kak Justin?"
"Selamat ya."
Asya mengangguk, memeluk singkat kakak sepupunya sebelum beralih memeluk Tina -- Istri Justin.
"Di mana Varo, Kak?" Mata Asya mengedar, mencari keberadaan keponakan lelakinya itu.
"Dia lagi sama Mamah," jawab Justin, tatapannya beralih pada Zidan. "Selamat ya, Dan. Lo udah berhasil.."
"Thanks, Kak," jawab Zidan dengan embel-embel 'Kak' seperti yang Asya gunakan.
Dan setelahnya mereka mengobrol beberapa saat. Asya begitu antusias, apalagi saat membicarakan masalah kehamilan.
"Semoga anak kamu sehat ya, Sya..," ucap Tina. Yang dijawab Asya dengan anggukan senang.
Setelah mengobrol beberapa saat dengan Justin dan juga Tina, Zidan mengajak Asya bertemu Rendi, yang kebetulan juga sedang mengobrol bersama Anton dan Darma.
"Pah..," panggil Zidan. Tak hanya Rendi yang menoleh, Anton dan Darma pun melakukan hal yang sama.
Tangan Rendi terulur, memapah Asya agar duduk di sampingnya sementara Zidan di samping Anton. Wajahnya yang keriput itu mencetak jelas kebahagiaan.
"Papah senang akhirnya kamu bisa menikah sama Zidan..," ucap Rendi yang diiyakan oleh dua orang lainnya.
"Makasih, Pah.."
"Untuk apa kamu berterima kasih, Asya? Justru di sini Papah lah yang harus berterima kasih sama kamu. Karena kamu, Zidan berubah."
Wajah Asya bersemu merah. Mendapatkan sambutan baik dari keluarga Zidan sungguh sesuatu yang membahagiakan bagi Asya.
Ya, tidak ada yang bisa Asya harapkan lebih dari ini.
Semua terasa lengkap. Sempurna. Dan sesuai dengan apa yang dia harapkan. Bahkan mungkin lebih.
Melihat keluarga dan sahabat berkumpul untuk sama-sama merayakan hari paling membahagiakannya, itulah yang menurut Asya paling berharga.
__ADS_1
...
Like dan Coment.. Sorry alurnya dipercepat..😊😊