
Suara ranjang berderit memenuhi seluruh sudut dan lingkup kamar remang itu. Udara panas membumbung, meski kini hawa mendung sudah menjemput awan malam dan tinggal menyiramkan hujan.
Manik wanita itu terpejam rapat. Tubuhnya yang terlentang terlihat mengkilap karena terbalur keringat. Tak berbeda dengan lelaki yang memenuhinya, kotakan berjumlah delapan di perutnya tampak mengeras. Terlihat gagah, panas dan bergairah di saat bersamaan.
Asya kembali meleguh. Tangannya terjulur untuk meraih tangan sang Suami sebelum merematnya kuat. Kenikmatan ini tak bisa dia tahan, rasanya begitu sensitif kala benda tumpul itu memenuhinya hingga titik terdalam.
Hingga kenikmatan itu menyeru pada pelepasan. Sebelah tangan Zidan yang menyangga kaki Asya agar tetap terbuka -- terkulai lemah.
Penyatuan terlepas, tubuh kedua orang yang terenggah itu merapat. Senyum tipis terukir di bibir mereka, pergumulan hebat yang diisi dengan cinta selalu meninggalkan kesan terdalam setelah melakukannya.
Zidan mengecup punggung lembab Asya dengan penuh sayang. Tangan kanannya terulur ke depan, lalu mengusap tempat bergelung sang anak yang baru saja dia kunjungi.
"Aku cinta kamu.." Tak ada kata lain yang bisa dia serukan selain pernyataan cinta itu.
Wanita dalam pelukannya benar-benar sempurna. Hingga membuatnya selalu merasakan rasa syukur yang teramat dalam.
Sedang Asya hanya menjawabnya dengan anggukan. Dia terlalu lemah sekarang. Keadaannya yang tengah mengandung membuatnya lebih cepat merasa kelelahan.
Namun memang tak bisa disangkal, dia merasakan kebahagiaan yang teramat. Perlakuan Zidan yang sangat lembut sewaktu mengisinya, membuatnya serasa dilimpahi cinta.
"Dingin, Zidan..," ucap Asya pelan.
Membuat Zidan tersenyum simpul, dan meraih selimut yang terlihat teronggok di lantai sebelum menutupi tubuh polos mereka berdua.
Zidan kembali merapat, sedangkan Asya langsung berbalik dan menenggelamkan wajahnya dalam dada bidang sang Suami.
Detakan dan aroma tubuh Zidan selalu membuatnya tenang. Seakan memahami, lelaki itu mengusap punggung Asya dan sekitaran perut buncitnya.
Hingga dengkur halus itu terdengar. Zidan sebisa mungkin menahan kekehan yang hendak keluar dari bibirnya. Dia menunduk, mengecup dahi Asya yang tampak melembab dengan penuh rasa syukur dan kelembutan.
Pelukan kembali Zidan rapatkan. "Tidur, Sayang. Besok mungkin akan jadi hari yang panjang."
...
Ke esokan hari.
Andi tampak menggerutu setelah menunggu beberapa saat di luar Bandara. Lelaki yang memakai kaca mata hitam itu berjalan mondar-mandir hingga membuat Fany yang melihatnya kesal setengah mati.
Hari sudah beranjak petang, dan suasana yang mendung membuatnya harus segera merapatkan mantel hangat ke tubuhnya agar tak kedinginan.
Fany yang sedari memperhatikan mendengus geli. Dia keluar dari mobil dan langsung menghampiri Andi sebelum mengusap pundaknya hangat.
"Sabar lah, An.."
Andi berbalik dan memanyunkan bibir. "Gimana mau sabar, Fan.. Mereka lama banget."
"Sabar.. Mereka sebentar lagi sam--"
Kalimat Fany terhenti. Perempuan itu tersenyum hangat dan langsung berlari kecil sebelum memeluk tubuh sahabatnya yang terbalut dress hangat berwarna peach.
__ADS_1
"Kangen aku ya?" Asya terkikik ketika menanyakan itu. Dia membalas pelukan hangat sahabatnya. "Sama aku juga kangen sama kamu kok, Fan.."
Pelukan mereka terhela, dengan menggandeng lengan sahabatnya, Fany membawa Asya untuk menghampir Andi yang terlihat sedang berbicara dengan Zidan.
"Tuh kan, apa aku bilang? Mereka gak akan lama, An."
Andi hanya tersenyum singkat. Lalu turut membantu Zidan yang sedang memasukkan kopernya yang tak seberapa itu ke dalam bagasi.
Asya yang sedari tadi memperhatikan mengernyit bingung. Ada perubahan antara Andi dan juga Fany. Dia terdiam. Setelah diperhatikan, di antara ke dua manusia ini tak pernah ada kata manis yang terdengar ketika memulai percakapan. Tapi, sekarang?
"Fan, hubungan kamu sama Andi apa?"
Fany menoleh cepat. Wajah gugup itu langsung tercetak saat mendengar pertanyaan yang Asya berikan. "Me-menurut lo apa, Sya?"
"Apa ya?" Asya mengerling. "Kamu pacaran, ya?"
Fany menggeleng cepat. "Nggak kok, nggak! Masa sih gue pacaran sama muka tembok gitu?"
"Siapa yang muka tembok?" cletuk Andi yang langsung mengambil posisi di samping Fany.
Fany yang merasa tak nyaman hanya bisa menyikut lelaki itu tanpa bisa berbuat lebih.
"Gini--" Asya menjeda perkataannya. Wanita itu terkikik geli saat melihat mata Fany yang terlihat mengedip -- memberikan isyarat. "Kata Fany, dia gak mungkin pacaran sama muka tembok. Dan muka tembok itu kamu."
"Bener, Baby? Kamu ngomong gitu?" selidik Andi.
Percakapan mereka berdua sukses membuat Asya dan Zidan yang melihatnya terkekeh geli.
"Baby? Sejak kapan lo pake bahasa begituan, An?" tanya Zidan meledek.
Asya yang melihatnya mendelik, sedangkan Fany dan Andi mendengus kesal.
"Lo tau apaan, 'Calon Bapak'?"
"Memang gue 'Calon Bapak'! Kenapa, lo iri?!"
Andi memutar bola mata jengah. "Gue gak iri. Lagi pula sebentar lagi gue juga bisa kayak lo! Fany pasti-- Aww!!"
"Fany apaan?! Kamu mau ngomong apa?"
Andi tersenyum hingga matanya menyipit. "Nggak, aku gak ngomong apa-apa.."
Lagi-lagi interaksi sepasang manusia itu membuat Asya dan Zidan tergelak. Mereka berdua bisa memperkirakan apa yang sekiranya terjadi di antara kedua pasangan unik ini. Kehidupan percintaan mereka berwarna, dan itu mungkin adalah sebuah kepastian.
"Udah-udah..," ucap Asya melerai. Tangan putihnya mengusap perut buncit yang terlapis dress katun hangat. "Pulang yuk, aku udah kedinginan nih.."
Zidan menganguk, mengusap bahu Asya pelan dan membuka pintu mobil sebelum mempersilahkan Asya untuk masuk.
Dia mengerling ke arah Andi saat hanya tinggal mereka berdua yang belum memasuki mobil tersebut. "Kapan lo mulai jalin hubungan sama Fany?"
__ADS_1
"Menurut lo?" tanya Andi geli.
Membuat Zidan menepuk bahu sahabatnya itu. "Gue tau lo suka sama Fany dari lama. Bagus lah.. Lo gak jadi jones lagi. Tinggal Yuda sama Raihan yang harus nyusul kita berdua sekarang."
Mau tak mau, Andi mengiyakan perkataan tersebut. Mereka berdua mengangguk dan memasuki mobil sebelum menjalankannya untuk pulang ke mansion keluarga Revandra.
Sesampainya di mansion, Zidan dan Asya disambut oleh Rendi yang sudah menunggu di ruang tengah hunian tersebut. Wajah keriputnya tampak bahagia saat melihat Anak dan Menantunya pulang dengan selamat.
Zidan melangkah mendekati sang Ayah dan memeluknya. Begitupun Asya, dia juga memeluk Rendi dengan kebahagiaan tak terperi kala merasa mempunyai keluarga yang lengkap sekarang.
"Pah, gimana kabarnya?" tanya Asya seraya memapah Rendi agar kembali duduk di sofa.
Rendi tersenyum hangat. "Papah sehat. Kalau kamu bagaimana, bulan madunya menyenangkan?"
Pipi Asya memerah, dia mencuri pandang dari Zidan yang mengangguk, seakan memberi isyarat untuk bercerita.
"Menyenangkan, Pah.. Daerahnya asri banget, masih terjaga.. Mungkin kapan-kapan kita bisa liburan ke sana sekeluarga."
Tangan Rendi terangkat sebelum mengusap surai hitam sang Menantu. Wajah Asya merupakan cetak biru Tony dalam versi perempuan. Senyumnya, bahkan lentik bulu matanya begitu sama dengan mendiang sahabat seperjuangannya itu.
"Oh ya, Pah. Kak Ana di mana?" tanya Zidan mengintrupsi.
Matanya mengedar, dari seluruh sudut yang bisa dijangkaunya menggunakan indera penglihatan, dia tak dapat menemukan kakak perempuannya tersebut. Yang ada hanya para maid yang tampak membawa barang mereka untuk diletakkan di dalam kamar.
"Ana, dia kurang sehat.."
"Kurang sehat?" tanya Zidan terkejut. Pasalnya saat berbicara dua hari lalu Kakaknya itu terdengar baik-baik saja.
"Papah kurang bisa menjabarkannya bagaimana." Andi menghela napas sebelum melanjutkan, "Semalem dia pulang sambil nangis. Waktu Papah tanya kenapa, dia gak jawab sama sekali. Dan waktu Papah cek tadi pagi, dia demam. Tapi syukurlah sekarang udah mendingan."
Zidan dan Asya tak bisa menahan rasa kekhawatiran mereka. Setelah berbicara beberapa saat -- dibantu oleh Zidan, Asya menaiki undakan tangga untuk menuju kamar Ana.
"Zidan, biar aku aja yang periksa Kak Ana."
Mendapat anggukan dari Zidan, membuat Asya memasuki kamar Ana yang memang tak dikunci setelah dia memeriksanya.
Di sana, di atas ranjang -- Ana terlihat bergelung nyaman. Jika diperhatikan lebih jauh, terdapat jejak sembab di pipi putihnya yang terlibat merona karena demam.
Asya mendekat. Ibu hamil itu menduduki sisi ranjang dan membuat Ana yang sebelumnya terpejam, membuka mata.
"Kak Ana, Kakak baik-baik aja, kan?"
Bukannya mendapat jawaban, Asya justru diterjang pelukan dari Ana yang langsung bangkit saat melihatnya.
"Kak, Kakak kenapa?" Asya terlihat panik. Tubuh Ana bergetar hebat, dengan derai air mata yang terasa membasahi baju bagian bahunya.
...
Like dan Coment..
__ADS_1