
Only on wett-ped, gaess.
Kalau yang punya akun di sana, jangan ragu untuk mampir, ya.
Nama akun : DewiNM0811
Blurb:
Rasa tidaklah cukup untuk membangun sebuah hubungan, setidaknya itulah yang Hailey pikirkan. Empat tahun menjalin kasih dengan Victor, apa yang dia dapatkan tak lebih dari rasa sakit karena selalu terkhianati.
Victor, lelaki itu tampan, dengan hasrat yang menggebu dan perlu disalurkan. Namun, Hailey tak bisa memberikan apa yang lelaki itu mau. Tidak ketika Victor tanpa rasa bersalah selalu mengkhianatinya.
Ketika Hailey lelah dan ingin mengakhiri, sesuatu yang Victor tawarkan membuatnya setuju untuk terus bertahan.
Dia akan bebas dari Victor selama satu bulan. Tanpa hubungan, tanpa ikatan dan tanpa rasa bersalah, sebelum kemudian kembali kepada lelaki itu untuk melanjutkan apa yang telah mereka rencanakan--pernikahan.
Namun, apa jadinya jika hati Hailey meragu? Kehadiran Evan--si teman kencan--menggerus posisi Victor di hatinya.
Lelaki itu menarik, panas dan lebih dari sekedar kata 'pria persinggahan'. Letupan cinta dan hasrat yang lelaki itu bangun, membuat Hailey meragu untuk kembali kepada si pemilik ikatan.
Apakah semuanya akan berjalan sesuai rencana?
Biasakan Hailey bertahan bersama Victor saat Evan menawarkan apa yang dirinya dambakan?
.
Cuplikan part pertamanya :
Selama ini Hailey hanya mencurahkan kasih dan cinta untuk satu lelaki saja.
Ya, hanya untuk Victor semata.
Lelaki berkulit kecoklatan dan tampan, dengan sorot biru yang bisa membius wanita manapun termasuk Hailey. Mereka mengenal sejak bertemu di forum serta acara amal lima tahun silam. Tak lama setelahnya, Victor menyatakan perasaan dan Hailey menerimanya dengan kebahagiaan. Tak ada alasan menolak sebab Hailey pun merasakan gejolak itu. Mereka memutuskan untuk bertunangan dua tahun lalu kemudian menjejak ke hubungan yang serius empat bulan dari sekarang--pernikahan.
Jalinan cinta mereka tak selalu manis. Ada kala pertengkaran selalu mengambil alih. Fakta bahwa Victor merupakan pria incaran membuat Hailey harus memasang pasung tak kasat mata untuk menjaga pria itu.
Tapi semuanya terasa percuma ketika Hailey kembali memergoki Victor bermain gila dengan wanita yang nyaris saja telanjang siang ini--tepat di apartemen lelaki itu.
Mungkin air mata Hailey sudah mengering. Ya, mungkin itu alasan logis yang bisa membuatnya dengan mudah memandang Viktor dengan sorot mata tajam seperti sekarang ini.
"Kau bisa menjelaskannya sekarang, Victor?" Suara Hailey mengalun tegas. Tangan dengan jemari berpoles kutex itu tampak berjalin di atas lutut yang terlipat. Tatapannya penuh intimidasi dan menusuk.
Victor terpejam sesaat, merasa tak nyaman. "Seperti yang kau lihat, Hailey."
__ADS_1
"Kau tak ingin melakukan pembelaan?"
Victor menggeleng.
"Baiklah." Hailey kembali bersuara, melirik sekilas ke arah belakang Victor, menatap wanita yang menutupi tubuh hingga sebatas dada. "Aku sudah berulang kali menemukanmu dalam keadaan seperti ini. Terlalu sering malahan."
Victor terdiam. Mata biru itu menyorot penuh antisipasi.
"Tiga kali? Lima kali? Sepuluh kali? Oh Tuhan! Aku bahkan tak bisa menghitungnya, Victor!" Suara Hailey nyaris seperti teriakan. Rasa muak mengingat dirinya terkhianati menggerus dadanya hingga terasa sesak. "Empat tahun berhubungan dan empat bulan lagi kita melaksanakan pernikahan, kau bahkan masih bisa bermain gila di belakangku, Victor?"
Bibir Victor menipis. Dadanya yang telanjang mengencang ketika dia menatap wanita di hadapannya. "Kau tahu benar alasanku."
"Alasan apa?"
"Kau tak bodoh, Hailey. Aku tahu kau mengerti."
Yup, Hailey sudah lebih dari mengerti. Alasan bodoh yang semula lelaki itu jabarkan ketika melakukan kesalahan pertama. Hailey bukan wanita polos yang tak mengerti apapun. Victor adalah lelaki matang yang menggebu dengan hasrat. Kebutuhan lelaki itu adalah hal yang logis. Namun, Hailey tak bisa memberikannya. Tidak ketika mereka belum sepenuhnya terikat.
Mereka sering kali berciuman, Hailey bahkan tanpa sungkan mengijinkan lelaki itu mengelus seluk dan lekuk tubuhnya. Namun, hanya sampai situ. Hailey tak bisa memberi lebih saat kenyataan bahwa Viktor sangat mudah berpaling menghantam dirinya dengan telak.
'Apakah hanya sampai di sini batas ketahanan Victor terhadap dirinya?'
'Lelaki itu bahkan dengan mudah memberi alasan ketika Hailey memergokinya bermain dengan ******.'
"Aku pulang," pamit Hailey. "Seharusnya saat ini kita akan pergi untuk mengecek desain undangan pernikahan. Tapi tak kusangka justru aku mendapatkan kejutan di sini. Pernikahan ini, apa kau masih serius untuk melanjutkannya, Victor?"
Tercekat, Victor menatap Hailey dengan mata penuh awas. "Apa maksudmu?"
"Kau tahu, aku lelah." Ya ... sangat lelah hingga rasanya Hailey ingin melakukan hal nekad. "Mari akhiri di sini, Vic. Kita membutuhkan pasangan yang saling mengerti. Kau membutuhkan wanita yang bisa kau ajak berc*mbu, dan aku membutuhkan lelaki yang bisa menungguku. Benar bukan?"
Baru saja Hailey akan melepaskan cincin pertunangan yang melingkar di jarinya, Victor merangsek dan menahan tangan itu erat. Terasa sakit hingga membuat Hailey meringis.
"Apa yang kau lakukan?!"
"Aku mengakhiri hubungan ini."
Victor nyaris gila karena Hailey. Jika saja tak ada orang lain di ruangan, mungkin dia sudah mencecar perbuatan Hailey habis-habisan. Dia menoleh ke belakang. Memandang wanita yang entah siapa itu dengan tatapan yang seolah mengatakan 'pergilah sekarang!'.
Wanita itu lantas pergi dengan segera. Menyisakan rasa sesak di antar Hailey dan Victor yang saling menatap dengan aura permusuhan.
"Kau ingin mengakhiri ini?" tanya Victor.
Hailey mengangguk dengan cepat. Berusaha menahan mata yang berembum untuk tak berkedip. Demi Tuhan, mungkin dia akan menangis bila melakukannya.
"Apa yang kau dapat dari semua ini?"
__ADS_1
"Kebebasan," jawab Hailey. "Setidaknya aku tak perlu merasakan sakit hati untuk kesekian kalinya. Kita akan menikah dan aku tak ingin lagi memergokimu sedang bersetubuh dengan ******."
Kalimat ketus itu membuat Victor menghela napas. Dia memang brengsek. Bermain dengan wanita lain bahkan ketika Hailey terus saja memergoki dan memaafkannya berulang kali.
Nafsu adalah musuh. Seharusnya Viktor bisa menyalurkannya jika saja Hailey tak selalu menolak. Wanita itu hanya mengijinkannya meraba tanpa bisa menikmati lebih jauh.
"Aku tak ingin berpisah," putus Viktor final. "Kita akan menikah, dan aku tak akan lagi melakukan apa yang kau pikirkan, Hailey."
Victor baru akan pergi jika saja suara tawa Hailey tak terdengar di belakangnya. Dia berbalik. Hailey menunduk hingga rambut panjang sewarna madu itu menutupi wajahnya layaknya tirai. Bahu Hailey bergetar. Isakan yang terdengar di antara tawanya terasa mengiris.
"Kau tak akan melakukannya lagi?" Suara itu terdengar rapuh. "Apa aku bisa memercayaimu lagi setelah sebanyak apa kau telah mengingkarinya? Setelah sebanyak apa kau menghina cintaku? Aku bukan wanita murahan, Vic."
Untuk beberapa saat Victor memilih mendengarkan.
Terdengar helaan napas putus asa dari Hailey sebelum wajahnya kembali tegak dan terlihat. Matanya sudah memerah. Memancarkan kilau kecewa yang membuat siapapun melihat bisa merasakan apa yang wanita itu rasakan.
"Sebaiknya kita akhiri ini," bisik Hailey, menghapus air matanya dengan cepat. "Kau dengan mudah bisa mencari penggantiku. Aku yakin itu."
Namun Victor tak akan membiarkannya, tidak ketika Hailey sudah selangkah tinggal dia miliki. Maka dengan itu, Victor menarik tangan Hailey, tubuh mereka bertubrukan. Hailey memberontak sedangkan Victor terus memaksakan dekapannya agar tetap erat.
"Lepaskan!!" teriak Hailey melengking. "Lepaskan, baj*ngan!!"
Victor tak menggubris. Terus memeluk Hailey hingga perlahan tapi pasti perlawanan itu lenyap. Hanya tersisa keheningan sekarang. Napas mereka masih memburu. Terkutuklah Victor yang ingin selalu memiliki Hailey meskipun dia sadar telah menyakiti wanita itu.
"Aku akan membebaskanmu."
Tak ada tanggapan. Namun tubuh Hailey yang menegang menjawab segalanya.
"Hanya satu bulan," sambung Victor. "Kau bisa bebas melakukan apapun selama sebulan. Tak ada ikatan, tak ada jalinan di antara kita. Kau bebas."
"Termasuk berkencan dengan lelaki lain?" Entah apa yang Hailey pikirkan hingga bertanya hal itu. "Jika tak ada ikatan, aku bisa melakukannya, kan?"
Napas Victor terasa menggerung. Tak ada pilihan selain mengiyakan meskipun membayangkan Hailey bersama lelaki lain membuatnya ingin mengumpat. Sialan! Viktor melepaskan dekapannya perlahan. Manatap Hailey yang balas menatapnya dengan kilau menantang. Victor tak akan menarik kata-atanya sendiri saat ini.
"Baiklah. Kau bebas. Hanya satu bulan. Kau boleh berkencan siapapun. Tapi hanya dalam jangka waktu itu. Dan ketika satu bulan berakhir, hubungan kita kembali seperti semula. Kau dan aku, kita akan menikah setelahnya."
"Oke, aku akan dengan senang hati melakukannya, Vic," jawab Hailey tegas.
Tak sabar menunggu apa yang akan dilaluinya. Tanpa ikatan, tanpa Viktor, tanpa ada yang akan membuatnya merasa bersalah. Meskipun hanya sebulan lamanya.
...
jangan lupa mampir ke sana, oke?
and untuk kelanjutan My Devil Man, kalian tenang aja, ya ... InsyaAllah akan aku lanjutkan🤭
__ADS_1