
Jas pada tubuhnya sudah tak melekat. Pandangannya menjurus lurus, menyebrangi pemandangan kota dari balkon apartemennya saat malam sudah menjelang.
Pikiran Raihan berkelebat. Mencoba memilih dan mencocokkan kejadian dari situasi rumit yang saat ini terjadi.
Kepergian Asya, ketidak adaan Ana di apartemennya, serta sebuah surat yang teremat sempurna ketika Raihan menemukannya di depan apartemen Asya siang ini, -- terus berputar dalam benak, dan ibarat benang kusut yang tak berujung.
Dia mungkin kecewa dengan Asya. Kepergian perempuan itu juga berdampak kuat baginya.
Hingga ketika kemarahan itu membumbung tinggi, Raihan tak kuat untuk menahannya, lalu memutuskan menemui Zidan dan menghadiahkan bogeman kepada lelaki br*ngs*k itu.
Raihan menghela napas. Kembali menyelipkan batang rokok yang ujungnya menyala merah.
Asap terhembus lalu kemudian hilang, dan kembali hadir lagi, ketika Raihan kembali mencicipi.
Lalu sebuah pemikiran tercetus. Mengapa dia tak melacak nomor ponsel Ana? Mungkin saja, saat keberadaan perempuan itu terdeteksi, Raihan dapat dengan mudah menemukan Asya tanpa kendala yang rumit.
Akhirnya Raihan menjalankan pemikiran itu. Kecanggihan teknologi masa kini, memudahkannya untuk melacak nomor Ana dalam kurung waktu yang bisa dibilang singkat.
Dahinya mengerut, alisnya tertaut begitu mendapatkan satu fakta yang penuh tanya.
Ana tak ada di daerah Ibu Kota.
"Kenapa kamu disana, Ana?" Pertanyaan itu membumbung, bersamaan dengan Raihan yang mendial nomor Ana.
Dan ketika telpon itu tersambung. Suara serak nan halus terdengar. Khas orang yang baru bangun tidur, menurut Raihan.
'Halo, ini siapa ya?'
"Ini aku Raihan."
Dapat Raihan dengar suara tercekat disebrang. Dia tersenyum, dan kembali berkata, "Kamu masih disana, kan?"
'Eh, iya-iya.. eumh, ada apa telpon, Han?'
"Kamu dimana?"
Sejenak hanya ada helaan napas, Raihan kembali menunggu. Sebab orang disebrang kembali menjeda perkataan.
"Halo, An?"
'Eh, sorry.. aku.. aku ada di daerah Bandung, Han. Memangnya kenapa?'
"Kamu tau keberadaan Asya?"
'Asya? Memangnya dia dimana?'
"Jadi, kamu gak tau dia dimana?"
'Aku gak tau, Han.'
"Oh, yaudah deh.. maaf ganggu tidur kamu ya, An."
Hanya deheman yang menjadi tanggapan atas akhir percakapan singkat itu. Raihan terpekur. Tanpa dibilang pun, Raihan mengetahui bahwa Ana berbohong.
Jika ada tempat untuk Asya bersandar, dapat dipastikan bahwa itu adalah Fany ataupun Ana. Jadi, Raihan berpikir, bahwa Asya ada di dekat salah satu diantara mereka.
...
Saat panggilan itu berakhir, disaat itu pula Ana mengalihkan pandangannya kepada Asya yang sudah tertidur lelap.
Tubuhnya yang ringkih itu terbalut selimut tebal. Tidak ada binar sama sekali, sejak Ana menemui Asya dari sore tadi.
Kebahagiaan itu seakan menguap, bersamaan dengan keputusan Asya untuk meninggalkan adiknya, yang sialnya bodoh itu.
Ana menghela napas. Di mendekat dan mengusap kepala Asya singkat, sebelum beranjak keluar kamar.
Ini harus dibicarakan menurut Ana. Keberadaan Asya harus tetap di rahasiakan, bahkan dari Raihan sekalipun.
Perempuan berpiyama biru itu menuruti undakan tangga. Menatap ruang dapur yang tampak menyala terang.
__ADS_1
Ada Andi disana. Lelaki itu tampak membuka lemari pendingin, sebelum meraih sekaleng cola untuk di minum.
"Andi," sapa Ana, ikut duduk di kursi yang tersedia di meja pantry.
"Eh, kak. Ada apa?"
"Ada yang mau kakak omongin."
Oke, perkataan itu terasa serius menurut Andi. Dia kembali meneguk cola, merasakan dingin yang mengalir di kerongkongan, kemudian bertanya, "Omongin apa?"
"Selain kamu, Fany, Yuda dan kakak yang tau tempat ini. Ada orang yang tau lagi gak?"
Andi tampak berpikir, terbukti dari jemarinya yang mengusap dagu dengan mata yang menatap langit-langit.
"Setau aku gak sih kak. Villa ini baru aja di bangun. Sebelumnya aku kalau mau ngisi waktu liburan, bukan di villa ini, melainkan di villa satu lagi."
"Jadi, Zidan gak tau?"
Terkekeh, Andi menggeleng. "Gak kak. Lagi pula aku gak sebodoh itu buat biarin Zidan tau keberadaan Asya. Aku sengaja bawa Asya kesini, supaya dia bisa lupain cowok sejenis Zidan."
Ana meringis begitu mendengar kata 'sejenis' yang terselip di kalimat itu. Terkesan tak baik dan tersisih menurutnya.
"Kakak mau tanya itu aja?" tanya Andi lagi.
Ana menggeleng, menyelipkan jemarinya dan kembali memandang Andi. "Gini An, tadi Raihan telpon. Dia nanya keberadaan kakak dimana sekarang. Abis itu dia juga nanya, apa kakak tau Asya dimana sekarang. menurut kakak, dia udah tau Asya pergi."
"Jadi, menurut kakak dia nanya gitu karena dia pikir kakak tau keberadaan Asya?"
Ana hanya mengangguk sebagai jawaban. Perempuan itu bangkit dari duduknya, dan membuka lemari pendingin, mengambil jenis minuman yang sama dengan Andi.
"Gini aja, Kak. Mungkin besok aku akan balik ke Jakarta lagi. Apalagi tadi sore Zidan telpon aku."
"Trus disini yang tinggal cuma kakak, Asya sama Fany?"
"Nggak, akan ada Yuda juga. Aku udah kasih tau ke dia. Lagi pula dia juga ada urusan di Bandung. Pembukaan cabang cafe, katanya."
Perasaan lega terbesit. Mereka lalu sama-sama mengakhiri percakapan dengan kembali ke kamar masing-masing.
Perempuan itu masih terlelap. Sekali lagi, terbesit rasa kasihan dan menyesal dalam benak Ana. Seandainya saja Asya tak mengenal Zidan, dan kesalahpahaman antara mereka tidak pernah terjadi. Ana yakin hidup Asya tak akan serumit ini.
"Sya," Ana berguman, menatap lembut. "Kakak harap, kamu bisa bahagia dengan lepas dari Zidan, ya?"
...
Siang itu cukup sejuk. Aroma dedaunan yang bercampur tanah sehabis di siram air langit, tercium menggoda.
Asya tersenyum, menatap ke arah Fany dan Andi yang terlihat kembali berdebad. Pasalnya sahabat perempuannya itu tak terima Andi akan kembali ke Jakarta. Fany merasa, Andi lari dari tanggung jawab.
Tapi menurut Asya, ada alasan lain di balik semua itu. Asya terkekeh, menyeruput jus jeruk yang tersedia di meja -- teras belakang villa.
"Mereka lucu, ya?" cletuk Ana.
Asya menoleh, melihat Ana dan Yuda yang sudah duduk di kursi di hadapannya.
"Iya juga, kak."
"Mereka bukan lucu." Yuda mendengus. "Gue yakin dia suka sama Fany."
"Aku juga sama," sambung Asya.
Ana mengernyit, menatap dua orang yang berbeda jenis kelamin. "Maksud kalian Andi suka sama Fany?"
"Iya," jawaban itu serempak di jawab, membuat Ana mengangguk dan tersenyum simpul.
"Andi udah gede' ternyata.."
Dan kalimat itu kembali dihadiahi tawa oleh dua orang yang berada disampingnya.
Mereka kembali mengobrol, sebelum suara bel dari pintu depan berbunyi. Yuda bangkit, menawarkan diri untuk membuka pintu.
__ADS_1
"Lo?" Yuda tampak terkejut.
Lelaki berpakaian santai, rambut tampak licin, dan kaca mata hitam yang bertengger di hidung meski hari tak panas, tak bisa menahan Yuda untuk mengetahui siapa orang dihadapannya.
"Dari mana lo tau alamat ini?"
"Gue mau ketemu Asya."
Yuda menggaruk tengkuknya yang tak gatal, lelaki itu memberi intruksi agar lelaki itu masuk dan mengikutinya.
"Sya," Yuda memanggil.
Membuat Asya dan Ana menoleh. Mereka sama terkejutnya dengan dirinya.
"Raihan?"
Pertanyaan itu terlontar dari Asya. Dia terpaku, sedangkan Ana dan Yuda sudah menghilang entah kemana.
"Akhirnya ketemu," perkataan itu terucap bersamaan dengan Raihan yang memeluk Asya erat.
Asya terpekur, mencoba menelaah apa yang terjadi -- yang seakan seperti khayalannya saja.
Bagaimana Raihan bisa mengetahui keberadaannya, jika hanya Andi yang mengetahui letak villa ini?
"Raihan lepas!" suara Asya tampak serak.
Mendengar hal itu membuat Raihan melepaskan pelukan dan menatap Asya. "Aku cari kamu kemana-mana, Sya. Bilang sama aku, apa yang udah Zidan lakuin ke kamu?"
Mendapat pertanyaan itu, membuat pikiran Asya kembali di bawa pada kejadian menyesakkan dimana Zidan meragukan kesetiaannya.
Dimana salah satu sebab semua itu adalah kedekatannya dengan Raihan.
"Ngapain kamu kesini?"
"Aku kesini buat ketemu kamu, Sya."
"Jangan kesini lagi, aku gak mau ketemu sama kamu."
Perkataan Asya yang ketus, serta keengganan Asya untuk menyebut namanya membuat Raihan meringis.
Mencoba meraih tangan Asya, yang di dapatkan Raihan justru sebuah tepisan.
"Kamu kenapa, Sya?"
"Kamu gak perlu kesini lagi."
"Ya, kenapa?"
Asya membuang pandangan. Melihat Raihan membuatnya mengingat perkataan Zidan kepadanya.
"Kamu tau, Han. Karena kedekatan kita, Zidan jadi salah paham."
Raihan mengernyit. Oh, jadi ini permasalahannya?
"Jadi aku harap, kamu pulang setelah ini," lanjutnya.
Raihan terhenyak, mencoba meraih tangan Asya meskipun berusaha di tepis berulang kali.
"Aku mohon, Sya. Jangan suruh aku pulang atau menjauh."
"Kenapa?" Asya bertanya cepat, meskipun pandangannya masih tak menatap Raihan.
"Kamu tau jawabannya, Sya."
"Tapi itu harus dihilangkan, Han. Jangan berharap banyak, aku bahkan gak tau lagi apa itu rasa cinta."
Setelahnya Asya beranjak, meninggalkan Raihan yang terkejut atas apa yang dia katakan. Dan tak lama dari itu, datang Ana. Perempuan yang usia hampir sebaya dengannya menepuk bahu, kemudian berkata, "Maafin Asya ya, Han. Dia gitu karena Zidan."
"Gak pa pa, Ana. Aku ngerti."
__ADS_1
...
Vote, Like, Coment ya☺☺