
Asya meletakkan dua piring sarapan di meja makan. Sarapan yang hanya berupa omelet -- ditemani dengan segelas susu ibu hamil untuknya, dan segelas jus untuk Fany.
Hari ini, tepat setelah kemarin mereka pergi ke pantai dengan tujuan liburan singkat, Fany lebih memilih untuk tinggal di apartemen Asya dan beralasan sakit agar dapat libur kerja.
Hal itu membuat Asya sempat mendengus kesal, pasalnya dirinya sangat ingin bekerja dan sahabatnya yang memiliki kesempatan itu justru menyia-nyiakannya.
"Lo kenapa cemberut gitu, Sya?" Fany bertanya disela suapannya, perempuan kini tengah memakai pajama pink itu mengerucutkan bibirnya karena penuh, bahkan pertanyaannya terdengar sedikit tak jelas.
"Kamu itu ada kesempatan kerja, bukannya kerja. Aku aja yang pengen banget kerja, gak bisa."
Terkekeh, Fany menjawab, "Oh itu.. gue kira kenapa lo cemberut."
Setelahnya, hanya deting piring dan sendoklah yang terdengar. Fany mendongak, menatap wajah sahabatnya yang tampak sedikit pucat. Pagi ini, Asya mual dan muntah hebat. Fany sempat berinisiatif membawa perempuan itu ke Rumah Sakit. Namun, perkataan Asya yang mengatakan bahwa hal itu adalah hal biasa, mengurungkan niat Fany untuk membawanya.
Keterkaguman sangat terlihat dari wajah perempuan itu. Ya, Fany begitu mengagumi Asya sejak saat mereka satu kuliah dulu. Awalnya kedekatan mereka hanya berupa berbagi obrolan biasa. Namun, lambat laun semuanya berubah, dan akhirnya kini mereka menjadi sahabat dekat.
Tak ada satupun rahasia yang mereka sembunyikan. Membuat Fany yang memikirkannya tersenyum di sela kunyahan.
"Kamu kenapa senyam-senyum, Fan?" tanya Asya, kerutan di keningnya tampak terlihat begitu jelas.
"Nggak pa pa. Gue cuma mikir tentang kita aja. Gue gak nyangka kita bisa sedeket ini sekarang."
Asya mengangguk cepat, menyuapkan sesuap omelet, mengunyah dan setelahnya menjawab, "Iya, aku juga gak nyangka."
"Oh ya, Sya. Zidan udah bisa dihubungin belum?"
Pertanyaan itu membuat raut wajah Asya yang tadinya cerah, kini tampak muram. Sedari kemarin bahkan hingga hari berganti, Zidan tak dapat dihubungi. Walaupun lelaki itu sempat menelponnya kemarin, dan sialnya Asya tak menjawab, bukankah dia tak perlu marah hingga harus membalas Asya sebegininya?
"Dia gak angkat." Hanya jawaban singkat itu yang Asya jabarkan setelah sepersekian detik terdiam. Oleh karenanya tangan Fany bergerak, menangkup tangan Asya dan menepuknya pelan.
"Mungkin dia lagi sibuk, Sya."
"Ya kan, gak gini banget, Fan. Masa sih gitu aja dia marah."
"Lagian lo kenapa gak jawab, coba?"
Asya menghela napas singkat, sebelum menjawab, "Gak tau, mungkin aku gak jawab karena marah. Dia kan gak angkat telepon aku kemarin. Ya, tapi gak harus dibales juga kan, Fan?"
Bukannya tanggapan perihatin yang Asya dapatkan, dia justru mendapatkan semprotan berupa kekehan yang menggema dan membuatnya kesal bukan main.
"Kok kamu ketawa sih?"
"Hahaha.. ini beneran lo, Sya?" Tangan Fany bergerak, menyapu titik air di sudut mata. "Gue gak nyangka, dengan lo hamil begini, lo jadi kekanakan."
Asya mendelik kesal, perempuan itu tak lagi memperdulikan sahabatnya yang masih sibuk terkekeh. Hingga sarapannya habis pun, suara tawa Fany masihlah terdengar, walaupun hanya sesekali.
Mendecak, Asya bangun dari kursi meja makan dan membawa piring kosongnya tanpa menoleh ke arah Fany. Hal itu membuat Fany mendengas dan lantas berkata, "Ck ck ck, bawaan ibu hamil, kok gini amat ya?"
...
"Zidan..?"
__ADS_1
Kemunculan Zidan secara tak terduga di depan pintu apartemennya siang ini, tak bisa membuat Asya menyembunyikan rasa antusias. Lelaki ini, Asya benar-benar merindukannya.
Asya mendongak, menatap wajah Zidan dengan senyum yang merekah indah. Manik cerahnya menginvasi wajah sang kekasih. Terdapat guratan lelah di sana, dan.. tunggu, kenapa wajah Zidan tampak seperti orang menggeram. Apakah Zidan marah padanya?
Mengerutkan kening, tangan Asya terangkat -- hendak meyapu ketegangan antaranya dan lelaki itu. Namun, hanya tinggal beberapa senti telapak Asya akan menyentuh kulit Zidan, lelaki itu menepis tangan Asya kasar, dan meninggalkan Asya untuk masuk tanpa mengatakan apapun.
Dada Asya sesak, bahkan matanya langsung berkaca setelah sepersekian detik mendapat tanggapan seperti itu. Menghela napas, Asya memilih untuk berbalik, sebelum setelahnya menutup pintu apartemennya kembali.
"Kamu kenapa Zidan?" tanya Asya, duduk disebelah sang kekasih yang nyatanya seperti tak menganggapnya ada.
"Aku salah apa? Kamu kok diem begitu?" Suara Asya tampak seperti mencicit, membuat Zidan meremat rambutnya frustasi sebelum menatap perempuan itu -- tajam.
"Kamu kecewain aku, Sya."
"Kecewain kamu gimana? Kalau gara-gara aku gak angkat telepon kemarin, aku minta maaf."
Nyatanya, untuk melihat ekspresi wajah Asya saat ini sempat membuatnya goyah. Namun, ketika ingatannya diputar akan kejadian kemarin, secara tak langsung membuat lelaki itu kembali menggeram, tatapan yang sebelumnya sempat melembut pun kini --kembali-- tajam.
"Kemarin?" Zidan mengangguk. "Oh ya, kemarin kamu kemana?"
"Aku pergi ke--"
"Kamu pergi sama Raihan?"
Pertanyaan Zidan yang di sampaikan dengan nada meledek dan memutus perkataannya itu, membuat Asya sempat termenung, sebelum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
"Iya, aku pergi sama Raihan, tapi bukan sama dia do--"
Deg..
Kalimat itu, Asya mengetahui jelas apa maksudnya. Dengan bibir bergetar dan tangan yang terangkat pelan, Asya menggenggam tangan Zidan, mencoba meluruhkan segala persepsinya yang salah dalam memahami dirinya.
"Zidan, kamu salah paham. Aku udah jelasinkan, aku gak akan pernah khianatin kamu."
"Ck, nyatanya semua yang kamu bilang itu gak akan pernah terbukti, Sya." Punggung kokoh Zidan merebah pada sandaran sofa dengan pandangan yang sarat akan keraguan.
Asya menatap Zidan dengan pandangan tak percaya. Dia tau, hidup dan menjalin hubungan dengan Zidan membuatnya mengerti tentang sikap dan sifat lelaki yang berstatus sebagai kekasihnya ini. Zidan keras kepala, Zidan mudah terprovokasi, dan--
"Ada apa sama kamu, Zidan?"
"Kenapa kamu tanya hal itu sama aku?"
Asya tak bisa menahan kekecewaannya kali ini. Dia sudah berulang kali ingin menjelaskannya, meluruskan segala apa yang masih Zidan anggap kesalahannya. Masa lalu, Asya sangat ingin melupakan itu, dan ketika Zidan Kembali mengungkit bahkan meragukan kesetiaannya, Asya sempat berpikir; Apakah ketika Zidan berkata dia mencintainya itu sebuah ketulusan?
"Kamu masih gak percaya sama aku, Zidan?"
Memejamkan mata, Zidan memilih tak menjawab dan merogoh saku celananya. Mengutak ngatik ponsel dan menyerahkannya kepada Asya dengan kasar.
Setelahnya mereka kembali diam. Jika Zidan tengah menahan gejolak amarahnya, berbeda dengan Asya. Matanya yang berkaca itu menatap dengan terkejut apa yang tertera di layar.
Fotonya dan Raihan, bagaimana Zidan bisa mendapatkannya?
__ADS_1
"Ini gak seperti yang kamu pikirkan. Ini.. ini--"
"Kamu berkhianat. Kamu gak berubah, Sya. Kamu masih--"
"Stop Zidan!" peringat Asya, dia.. dia takut.. takut hal yang dulu sempat dikatakan Zidan akan terulang lagi.
Zidan tak berniat berhenti, apalagi ketika sudut matanya tak sengaja melirik apa yang tersampir di leher jenjang Asya. Sebuah cincin. Zidan masih mengingat cincin apa itu. Pandangannya menggelap, membuat dirinya bangkit dari duduk dan menarik kalung dimana sebuah cincin tersampir disana.
"Zidan?! Kenapa?" Asya menatap nanar kalung dan cincin yang sudah teronggok dilantai, membuat Zidan berdecih.
"Kamu berniat untuk terima lamaran dia lagi?! Kamu berniat ninggalin aku?!"
"Aku bilang nggak Zidan! Kenapa kamu s'lalu nyalahin aku tanpa ingin tau kebenarannya?"
"Tau kebenaran?" Zidan terkekeh. "Kebenaran apa yang haru aku ketahui Asya. Apa aku harus jabarkan kebenarannya satu persatu?"
"Zidan.." Suara Asya bergetar ketika menyebut nama lelaki itu. Tangannya otomatis memeluk perut, melingkar seakan memberi perlindungan.
"Oke, kamu mau tau kan? Aku akan kasih tau satu persatu."
"Please, berhenti.."
"Kamu gak berubah, Sya. Dulu kamu menjadi dalang hancurnya keluarga aku, dan aku dengan bodohnya masih bisa mencintai kamu. Dan sekarang, sifat kamu kembali, Sya. Kamu khianatin aku."
Zidan berbalik setelahnya, sebelum langkah lelaki itu kembali terhenti. Hatinya bergetar, ketika melihat genggaman Asya yang menahan lengannya, dan sejurus air mata yang yang mengalir di pipi perempuan itu.
"Kamu salah Zidan.."
"Aku gak salah, Sya. Kamu masih sama, dan.. sifat kamu belum berubah."
Rasa terguncang itu masih ada, bahkan saat kalimat Zidan berhenti menggaung. Seiring dengan air mata yang mengalir, Asya memajukan satu langkahnya -- mendekat ke arah Zidan.
"Padahal aku berusaha untuk setia, Zidan." Kepalan tangan Asya memukul bagian dada Zidan yang bisa dia jangkau. "Aku udah matian-matian lupain semua luka aku dulu, luka disaat kamu bilang aku cewek murahan. Luka disaat semuanya gak ada yang percaya sama aku. Tapi aku bodoh, karena semuanya masih sama." Asya balik memukul kepalanya sendiri. Usahanya percuma, bahkan lelaki yang dicintainya pun tak mempercayainya.
Sumpah demi apapun, Asya sudah memantapkan hatinya untuk lelaki ini. Lelaki yang merupakan ayah dari anak yang di kandungnya. Lelaki yang mengajarkannya rasa derita, rasanya luka, rasanya dipermalukan dan rasa cinta disaat yang bersamaan.
Tapi semuanya berakhir. Lalu apa yang harus Asya harapkan lagi dibalik hubungan tanpa landasan kepercayaan ini? Ketika Zidan meragukan kesetiaanya, disaat itu juga Asya meragukan cinta lelaki itu.
Dengan tekad yang kuat, Asya menghapus air matanya kasar. Kepalanya mendongak menatap Zidan yang memandangnya datar, seakan tangisan dan air mata yang dia tumpahkan tidaklah berharga.
"Hubungan harus di jalankan ketika ada rasa saling percaya, Zidan. Dan.. dalam hubungan kita, kamu gak memilikinya. Kamu berulang kali meragukan aku, meragukan rasa yang ada, bahkan ketika aku berusaha setia disaat kamu mengintimidasi, di saat ada seseorang yang masih menunggu aku dengan cinta lainnya. Aku masih bertahan sama kamu, Zidan. Karena apa? Karena aku udah mencintai kamu.. aku udah memantapkan hati untuk kamu..,
..tapi, seperti aku bilang, hubungan itu harus dilandaskan atas kepercayaan. Dan dalam hubungan kita, itu gak ada. Lalu apa yang harus dipertahankan, disaat hubungan kita udah seperti ini?"
...
Like dan coment ya..
Maaf kalau feel'y gk dapet, bahkan partnya pun bikin kecewa. Tapi inilah yang ingin author tulis sejak awal bikin novel ini.
Author harap kalian bisa memakluminya ya..
__ADS_1