My Devil Man

My Devil Man
MDM - Part 107 (Raihan&Ana)


__ADS_3

Part Bonus Raihan dan Ana 5


...


"Kenapa muka Lo kusut begitu?"


Pertanyaan Yuda membuat Raihan yang sebelumnya terpekur mendongak. Hari sudah malam. Setelah mengantar Ana pulang, Raihan memilih melajukan mobil ke cafe Yuda untuk sekedar bercerita dengan lelaki itu.


"Karena Ana," jawab Raihan singkat.


Kepala Yuda menggeleng heran. Lelaki itu lantas mendekati salah satu pelayan cafenya dan memerintahkannya untuk membuat minuman dan membawa beberapa camilan kemudian mengantarkannya ke tempat di mana dia dan Raihan duduk.


"Jadi?" tanya Yuda lagi.


Raihan menghela napas. "Menurut Lo, gue gimana, Yud?"


"Lo gimana?" Yuda menelaah Raihan secara terang-terangan. Dia memerhatikan Raihan dengan teliti. "Lo ganteng, mapan dan cocok sih buat Kak Ana."


"Bukan itu maksud gue, Yud," ujar Raihan lemas.


Lantas kembali membuat Yuda bertanya dengan heran. "Trus gimana?"


"Sifat gue."


"Oh sifat Lo." Yuda mengangguk paham. "Lo baik, penyayang dan sekali lagi gue bilang, Lo cocok buat Kak Ana."


Mendengar pendapat Yuda membuat Raihan terpekur untuk sesaat. Jika mendengar apa yang Yuda paparkan, harusnya Ana tak menolaknya dengan begitu cepat. Ana tampak meragukannya ketika Raihan menceritakan bagaimana dia memikirkan tentang masa depan mereka.

__ADS_1


Raihan ingin menjadikan Ana pendamping hidup, tempat bersandar, dan ingin mengisi separuh hatinya dengan perempuan itu. Keinginan Raihan tidaklah sulit, dia hanya ingin Ana menjadi pendamping hidupnya saja.


"Trus kenapa Ana nolak gue, ya?"


Bisikan Raihan yang terdengar lemah membuat Yuda mendekati lelaki itu. "Kak Ana nolak Lo? Bukannya kalian udah pacaran, ya?"


"Gue bukan hanya ingin pacaran, Yud. Gue pengin Ana jadi pendamping hidup gue. Istri gue. Tapi, dia ngeraguin gue, Yud."


Yuda menghela napas tanpa sadar. Dari perkataan Raihan, bukankah bisa disimpulkan bahwa lelaki itu melamar Ana?


"Jadi Lo ngelamar kak Ana?"


Raihan menggeleng. Membuat kening Yuda berkerut dalam. Jika Raihan berkata bahwa lelaki itu sudah mengutarakan maksudnya untuk menjadikan Ana sebagai bagian dari masa depannya, bukannya itu disebut melamar? Jika bukan itu, disebut apa lagi?


"Trus kalau bukan melamar, itu namanya apa dong?"


"Jadi, tadi gue bawa Ana ke rumah gue buat ketemu sama keluarga. Dan syukurnya, Oma dan Kakak gue suka sama Ana. Kalau masalah Bokap, bisa gue pastiin dia akan setuju apa aja keputusan gue. Tapi Lo tau apa yang terjadi? Waktu gue mengutarakan kalau gue ingin berkomitmen dan bukan sekedar menjalin hubungan sebatas pacaran, Ana bilang dia gak siap."


"Menurut gue itu wajar," jawab Yuda menyimpulkan.


Kening Raihan berkerut ketika mendengar kalimat itu.


"Gini." Tubuh Yuda maju beberapa senti. Dengan tangan terlipat di atas meja, Yuda mulai berkata, "Bukan hal mudah untuk kak Ana buat nerima hubungan yang namanya pernikahan. Dia udah pernah disakiti sama cowok gak bener. Sebelum itu pun hubungan orang tuanya juga gak baik. Lo pasti tau kan kalau orang tua Ana dan Zidan itu bercerai sebelum hubungan mereka akhirnya kembali membaik demi Ana dan Zidan? Gue rasa, kak Ana sedikit ragu karena itu."


Bibir Raihan terkatup. Dia membenarkan segala perkataan Yuda.


"Lagi pula." lanjut Yuda. "Lo ini ada niat gak sih buat lamar kak Ana? Di mana-mana itu cewek suka hal-hal yang berbau romantis. Dari yang gue denger dari Lo, cara Lo itu aneh."

__ADS_1


Raihan menggaruk pipinya yang tak gatal. Menyengir canggung. Semua yang dia lakukan kini terasa aneh ketika Yuda yang menjabarkannya.


"Lo mau gue kasih saran dan bantuan? Karena gue punya ide."


Baru saja Raihan akan mengangguk. Suara deheman keras membuat dirinya dan Yuda menoleh ke arah pojok ruangan. Di sana Andi tangah bertopang dagu dan menatap mereka dengan pandangan remeh.


"Jangan mau dikasih saran sama dia, Han. Dia aja masih jomblo. Kalau sarannya gagal, trus kak Ana akhirnya jauhin Lo, gimana?" tanya Andi mengejek.


Yuda mendengus. "An ... An ... seakan Lo bisa aja kasih saran sedangkan Lo aja lagi berselisih sama Fany."


Mata Andi membesar. Lelaki yang sebelumnya menyendiri itu kini berjalan cepat dan duduk di sisi Raihan sembari menatap Yuda kesal. "Kok Lo bisa tau?!" tudingnya seraya menunjuk Yuda.


Yuda terkekeh. "Dari tadi, sebelum Raihan dateng, gue gak sengaja denger Lo lagi ngomong sama Fany di telepon."


Wajah Andi tertekuk. Kini gilirannya lah yang kalut akan hubungannya dan Fany. Andi sangat menyayangi dan mencintai perempuan itu. Mereka memang sering berselisih paham. Apa lagi sifat Fany yang sedikit absurd menurutnya.


"Lo punya saran?" Andi bertanya cepat. Rasa gengsi dan tudingannya pada Yuda seakan hilang tanpa bekas.


"Jadi kalian perlu saran?" tanya Yuda.


Lantas membuat Raihan dan Andi mengangguk. Yuda menyeringai dengan tangan yang kini terlipat di depan dada.


"Oke, gue akan kasih kalian saran satu persatu."


...


TBC ....

__ADS_1


__ADS_2