
Perjuangin mereka Zidan, jangan sampe kamu menyesal karena kehilangan mereka.
Kalimat itu masih mengenang dalam pikiran Zidan. Bahkan ketika lelaki itu mengemudikan mobilnya cepat, kata 'mereka' berputar dalam benaknya, mengisi seluruh pikiran dan memaksa otaknya untuk berpikir keras.
Memberhentikan mobil di halaman komplek apartemen Asya, Zidan keluar dari mobilnya dan berlari kencang memasuki apartemen. Seperti yang Ana katakan tadi, Asya sudah pergi entah kemana, membuat kekalutan mendera.
Air mata sudah bertumpuk di sudut manik. Jika saja Zidan bisa memutar waktu dan mengulang kembali. Dapat di pastikan bahwa dia akan memperbaiki segalanya. Akan menjaga perempuan itu. Perempuan yang sudah mendapatkan hatinya, bahkan sejak kali pertama mereka bertemu dulu.
"Sya, kamu dimana?" gumaman itu terdengar ringkih. Zidan menopang tubuh lemahnya dengan memegang lengan sofa.
Pandangannya mengedar. Tempat ini sudah sepi. Sunyi. Dan begitu menyakitkan bagi Zidan.
Tempat yang sebelumnya penuh dengan cinta, kini seakan tak bernyawa.
Dengan tertatih, Zidan melangkah memasuki kamar. Sama halnya dengan ruangan lain, ruangan ini seakan tak bernyawa karena di tinggal penghuninya.
Membuka lemari, tak satupun helai pakaian ditemukan. Hingga pandangannya bersirobok dengan selembar kertas yang dilipat. Tangan Zidan bergetar ketika mengambil dan membuka kertas itu. Apalagi ketika maniknya bergerak, mengikuti dan membaca rangkaian kata didalamnya.
Zidan, aku harus pergi. Kita gak bisa menjalin dan menjalani semua, dengan kesalah pahaman didalamnya. Aku udah berusaha Zidan, berusaha untuk menyanggah, berusaha untuk memahami dan berusaha untuk jujur ke kamu dalam segala hal. Tapi apa? Kamu tetap gak percaya dan menganggap apa yang kamu tau itu benar. Dan satu hal Zidan. Aku mencintai kamu. Sedari awal. Sampai rasa itu lenyap secara perlahan sewaktu kamu menghina aku dulu. Tapi Tuhan berkata lain, aku kembali mencintai kamu. Dan aku yakin rasa itu gak akan hilang dengan mudah. Tapi aku akan mencoba Zidan.
Selamat tinggal.
Saat terpejam, air mata itu sukses turun tanpa di duga sebelumnya. Zidan marah. Marah kepada dirinya yang terlalu terlalu mementingkan ego, hingga menyakiti orang yang dia cinta.
Asya adalah hidupnya. Perempuan itu adalah cintanya. Yang berhasil menggetarkan hatinya bahkan hanya dengan kalimat singkat yang dia gumamkan.
Lalu ketika dia pergi, bagaimana dengan Zidan?
Hidupnya berputar di sekitar perempuan itu, dan saat Asya menyerah untuk mendampinginya, disaat itu pula Zidan kehilangan porosnya.
"Asya, maaf..." Zidan tau, tak ada gunanya lagi walaupun sepersekian kali dia mengucapkan dua kata itu.
Asya telah mengambil keputusan yang tepat. Perempuan itu menyerah, bahkan ketika Zidan sangat membutuhkan dekapan menangkan.
"Aku janji, Sya. Aku akan dapetin kamu lagi. Kita akan bersama lagi." Kalimat itu bukan hanya sekedar bualan.
Zidan bersumpah akan menemukan belahan hatinya kembali. Akan menjaganya. Akan mencintainya. Bahkan bila memohon diperlukan, Zidan akan melakukan itu, melakukan apapun agar Asya kembali berdiri dan menemani langkahnya.
...
Asya tak akan menangis lagi. Dia tak akan menumpahkan air mata, untuk orang yang akan dia lupakan secara perlahan. Tapi berulang kali Asya merapalkan kalimat itu, kenyataan yang seaungguhnya seakan menghinanya hingga titik terdalam.
Dia menangis. Tepatnya kembali menangis. Jejak air mata sudah tercetak jelas di pipi tirusnya. Bahkan sebuah terpukan menenangkan, tak sanggup meredakan bahunya yang berguncang.
"Asya, jangan nangis terus. Lo gak kasian sama baby, lo? Dia sedih loh, kalau lo sedih begini."
__ADS_1
"Aku udah berusaha, Fan." Asya menggigit bibir, menahan isakan yang ingin membeludak. "Tapi susah, Fan. Aku kecewa, dia.. dia gak perah percaya aku.."
Fany mengerti, dia cukup mengerti. Walaupun saat sahabatnya ini mengalami hal itu, dia tak ada disisi, Fany cukup tau bagaimana menderitanya Asya saat itu.
"Itu masa lalu, Sya. Kenyataannya sekarang, hanya ada kamu. Kamu bilang kamu mau lupain Zidan kan?" tanya Fany, membuat Asya mengangguk. Dia melanjutkan, "Dia masa lalu. Tatap masa depan yang hanya ada kamu dan baby kamu di dalamnya. Jangan menyerah, Sya. Kamu berhak bahagia."
Ya, Asya berhak bahagia. Setelah sekian penderitaan yang lelaki itu selipkan diantara cinta yang mereka jalin, Asya yakin dia berhak untuk mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya.
Sekarang dalam hidupnya, Zidan mungkin sudah tak ada. Oleh karenanya, sebab memikirkan hal itu, membuat Asya menghapus air matanya cepat. Mengusap perut ratanya, seakan itu akan memberikannya kekuatan.
"Aku akan coba, Fan."
"Dan aku sebagai sahabat kamu, akan menemani kamu terus," sambung Fany.
Asya tersenyum, merangkul pundak sahabatnya hingga rangkulan itu berubah menjadi pelukan hangat. Ya, dia akan menjalani semua, dengan orang yang menyayanginya -- yang akan mendampinginya.
"Gue gak dilibatin nih?" Tanpa diduga Andi hadir. Lelaki yang memakai kaos lengan panjang itu, membawa sebuah nampan berisi dua cangkir coklat hangat didalamnya.
Asya dan Fany yang sebelumnya berpelukan di sofa -- ruangan tamu, terpaksa mengakhiri kegiatan mereka. Jika Asya memandangnya dengan senyum merekah, berbeda dengan Fany. Perempuan itu masih saja menatap lelaki bernama Andi, dengan tatapan nyalangnya.
"Sya, lo gak bisa nyuruh temen lo itu senyum dikit apa?" Pertanyaan itu terkesan meledek, membuat Asya terkekeh geli, dan menoel lengan sahabatnya.
"Fan, senyum dikit lah."
"Kan kalau senyum bagus, Fan."
"Biar lo gak serem," cletuk Andi tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Lelaki itu meletakkan nampan di meja depan sofa, sebelum ikut duduk -- tepat di sisi Fany.
"Lo ngapain duduk deket gue?" ketus Fany.
Andi mendelik. Jika saja Fany bukan perempuan, sudah pasti dia akan dengan senang hati menempelang kepalanya, agar si empunya tersadar.
"Lo gak ngusir gue dari apartemen gue sendiri, kan?" Pertanyaan itu sukses membungkam mulut Fany.
Ah, mengapa dia bisa lupa bahwa sekarang dia berada di apartemen lelaki ini.
Tadi, setelah Asya menyetujui ajakan Andi agar pergi dengannya. Dia mengajak dua perempuan itu untuk bermalam di apartemennya sejenak, sebelum dia membawa mereka ke tempat yang di tawarkan.
"Diem kan lo?" Andi menyengir, melihat Fany yang terdiam -- telak.
"Iya, iya deh sorry.."
Setelah perdebatan singkat itu -- hanya antara Fany dan Andi tentunya, Asya tersenyum. Tangannya bergerak, menangkup cangkir berisi coklat yang mengantarakan semburat hangat pada telapak tangannya.
__ADS_1
Asya meminumnya beberapa teguk, sebelum perkataan Andi mengentrupsi, "Kita akan pergi besok ya, Sya."
"Kemana?"
"Gue ada villa di Bandung. Di sana aman, Zidan gak tau tempat itu."
Tergugu, Asya terdiam tanpa memberi tanggapan. Dia takut. Bukan dengan kehadiran Zidan, tetapi kemana tujuan mereka kali inilah yang dia takuti.
Bandung, kota kelahirannya. Tempat keluarga besar dari pihak Ayahnya berada. Dia memang sudah meninggalkan tempat itu, keluar dari kediaman keluarga Om Antonnya, saat memutuskan kuliah di Ibukota dulu.
"Lo kenapa, Sya?" tanya Andi, begitu tak mendapatkan tanggapan.
"Di Bandung, ada keluarga dia." Bukan Asya menjawab, melainkan Fany.
"Di Bandung ada keluarga lo, Sya?"
Asya menanggapi pertanyaan Andi itu dengan mengangguk, lalu berkata, "Iya, aku sempet tinggal di sana, di rumah Om aku sampe lulus SMA."
"Trus, lo gak pa pa kan gue bawa kesana?"
Asya terdiam sesaat sebelum mengangguk mantap. Dia juga ingin bertemu keluarga. Dia sudah rindu, apalagi dengan kakak sepupunya yang bernama Justin.
Dulu, saat dia di keluarkan dari sekolah dan mendapatkan masalah karenanya, Justin dan keluarga Om Antonlah yang menyemangatinya, dan mendampinginya hingga bisa kembali seperti ini lagi.
"Aku mau pergi kesana, mungkin aku juga bisa ketemu keluarga aku."
"Lo yakin, Sya?" tanya Fany cepat.
Asya kembali mengangguk.
"Trus, lo akan bilang masalah kehamilan lo?"
Kembali, tangan Asya bergerak mengusap perut ratanya. "Bagaimana pun, ini gak bisa di sembunyikan terus, kan?"
"Oke kita berangkat besok." Pandangan Andi beralih pada Fany. "Lo mau ikut?"
"Gue mau ikut." Jawaban Fany, membuat Asya menoel lengan perempuan itu.
"Trus kerajaan kamu disini, gimana Fan?"
"Gue akan resign kalau perlu."
...
Like dan coment ya..
__ADS_1